Dilahirkan di Inggris pada 1838 dari ayah yang juga menderita migrain, ilustrasi Hubert Airy mengenai halusinasi sakit kepalanya masih menjadi ilustrasi aura migrain yang paling berpengaruh hingga saat ini.

Siapa Hubert Airy?

Hubert Airy merupakan seorang dokter yang mempelajari mengenai obat di Universitas Cambridge. Setelah wisuda, Airy bekerja sebagai inspektor medis untuk Badan Pemerintahan Lokal. Ia pertama kali menyadari kondisinya pada 1854 – saat ia menyadari ada titik buta kecil yang sulit untuk dibaca.

Ia menulis, "Biasanya, setelah dua atau tiga jam membaca, khususnya jika saya tidak cukup berolahraga, saya menyadari ada bagian surat yang saya lihat... tertutupi bayangan pudar."

Ia menjelaskan bagian ini sebagai, "pertama, saya melihatnya seperti bayangan yang Anda lihat setelah melihat matahari atau cahaya terang." Titik buta ini terus berkembang, kemudian berwarna, dan sudutnya menjadi zigzag. Aura ini kemudian akan menyebabkan migrain diikuti dengan mual.

Airy mempublikasikan penemuannya dalam laporan berjudul On a distinct form of transient hemiopsia dan dipresentasikan dalam Royal Society of London pada 17 Februari 1870. Kemuaidn, aura ini mulai menguasai pandangannya dan gambarnya juga dilampirkan dalam laporan ini.

Frederick Lepore, seorang ahli neurologi opthalmologi di Fakultas Kedokteran Rutgers Robert Wood Johnson di New Jersey Amerika, menjelaskan bahwa gambar ini sekarang menjadi sangat khas.

"Sangat jelas, seperti gambar foto," jelas Lepore.

Hubert Airy’s 1870 diagram of his migraine aura looks familiar to many migraineurs today. Photo credit: The Royal Society/National Geographic
Hubert Airy’s 1870 diagram of his migraine aura looks familiar to many migraineurs today. Photo credit: The Royal Society/National Geographic


Airy lebih maju dari zamannya

Peneliti sekarang mencatat bagaimana gambar Airy menjadi sumber penemuan ilmu neurosains di beberapa puluh tahun ke depan. Selain itu, pria ini menyadari bahwa halusinasinya merupakan produk otaknya, dan bukan matanya. Ia menulis, "hal ini bisa menyebabkan kebutaan sementara ke otak sebagai sumber kerusakannya."

Airy juga memprediksikan cara bagaimana mata melihat dunia atau peta visual, bisa langsung dipetakan ke korteks primer visual, meskipun penemuan saintifik ditemukan 100 tahun kemudian.

Halusinasi Airy juga menciptakan ide bahwa pandangan di pusat mata akan membesar, karena zigzag di sekitar titik butanya tampak lebih padat di pusat mata.

"Gambar Airy sangat cocok dengan konsep modern mengenai bagaimana korteks visual diatur," kata Lepore.

Sebelum Airy, peneliti lain juga pernah menceritakan pengalaman migrain

Ayah Hubert, George, merupakan salah satunya. Meskipun tidak menderita migrain, ia mengalami halusinasi ini. Ia juga mempublikasikan sketsa halusinasinya sendiri lima tahun sebelum anaknya.

George, Hubert Airy’s father, also saw zigzag hallucinations—but, they didn’t precede a headache for the elder Airy. Photo credit: The Royal Society/National Geographic
George, Hubert Airy’s father, also saw zigzag hallucinations—but, they didn’t precede a headache for the elder Airy. Photo credit: The Royal Society/National Geographic


Seorang ahli neurologi Jerman mempublikasikan sketsa dasar di tahun 1845 dan seorang ahli neurologi Perancis Joseph Babinski menggambarkan sketsa ini dengan penuh warna.

This detail from Joseph Babinksi’s 1890 drawing of his migraine aura shows a zigzag pattern not unlike the one Hubert Airy saw. Photo credit: Wellcome Library/National Geographic
This detail from Joseph Babinksi’s 1890 drawing of his migraine aura shows a zigzag pattern not unlike the one Hubert Airy saw. Photo credit: Wellcome Library/National Geographic


Tulisan Airy yang dipublikasikan saat ia berusia 31 tahun, merupakan kontribusi utamanya untuk ilmu pengetahuan – tetapi termasuk lebih maju di zamannya. Lepore misalnya, menunjukkan hal ini ke 100 dari pasien penderita kondisi ini. Dan 48 dari mereka langsung mengenalnya.

Airy sangat berkontribusi pada evolusi dunia pengobatan. Ia memiliki ide yang baik mengenai evolusi patogen-host; tetapi sayangnya tidak disadari sebelum pengaruhnya dicatat dalam sejarah.

Dalam laporan yang diberi judul On infection considered from a Darwinian point of view, ia menjelaskan, "Karena manusia sangat beragam, begitu juga dengan mikroenzim parasitik, perlahan-lahan, menghasilkan virulens baru, dan... selama manusia dan mikrozim dipertemukan, saya pikir tidak ada kemungkinan berhentinya proses ini." MIMS

Bacaan lain:
Rokok sehat, mungkinkah?
Mengulas kasus "Ganja untuk Istri" Fidelis Ari Sudarwoto dari pandangan medis
Phineas Gage: Pria yang selamat dari cedera otak fatal, tetapi mengalami gangguan kepribadian

Sumber:
http://phenomena.nationalgeographic.com/2016/06/13/the-19th-century-doctor-who-mapped-his-hallucinations/
https://evmedreview.com/hubert-airy-nineteenth-century-insights-into-host-pathogen-coevolution/ 
https://goo.gl/aUxHzV