Masalah obat palsu bukanlah sesuatu yang baru. World Health Organization (WHO) baru-baru saja menerbitkan kumpulan laporan yang memperkirakan bahwa satu dari sepuluh produk medis di negara berpenghasilan rendah dan menengah berada di bawah standar ataupun palsu.

Berarti obat dibuat dari bahan-bahan yang lebih murah – kadang berakibat fatal – seperti dari lilin lantai dan asam borat yang kemudian diproduksi dengan merek asli serta dijual di seluruh dunia.

Dari 1.500 laporan yang diterima oleh WHO sejak tahun 2013, lebih dari 40% obat palsu berasal dari wilayah Afrika.

Afrika, contoh ekstrapolasi masalah

Untuk lebih memahami arti "1 dari 10" sebagaimana yang disebutkan oleh WHO, penting bagi kita untuk mengubah angka ini menjadi jumlah orang untuk lebih memahami ancaman yang ada.

Menurut London School of Hygiene and Tropical Medicine, sekitar 116.000 kematian per tahun muncul akibat obat malaria berstandar rendah di sub-Sahara Afrika.

Lain halnya dengan British think-tank, International Policy Network, yang beberapa tahun lalu mencatat terjadinya 700.000 kematian di dunia akibat obat malaria dan tuberkulosis palsu. Angka ini mirip dengan "kecelakaan empat pesawat jet besar setiap harinya".

"Obat-obatan berstandar rendah dan palsu sangat rentan memengaruhi masyarakat," tutur Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

Sayangnya, masalah ini terus muncul meski ada upaya dari pihak berwenang setempat untuk membasmi obat palsu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa akar masalahnya adalah masalah sistemik, yaitu kesulitan sosio-ekonomi yang semakin parah beberapa dekade terakhir ini.

Direktur Umum WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa obat palsu paling banyak memengaruhi negara miskin. Sumber: VOA News
Direktur Umum WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa obat palsu paling banyak memengaruhi negara miskin. Sumber: VOA News

Misalnya saja di Ivory Coast – Mariam, yang merupakan salah satu penjual obat palsu di Adjame quarter, mengatakan bahwa "polisi mengusir kami tetapi mereka sendiri membeli obat ini."

"Banyak orang datang ke sini dengan resep untuk membeli obat, bahkan pemilik klinik swasta sekalipun," sebut penjual lain, Fatima.

Permintaan tinggi dan hukuman ringan

Perdagangan ilegal obat palsu bukan hanya masalah negara-negara di Afrika. Laporan lain di tahun 2014 oleh INTERPOL menyatakan bahwa kelompok kejahatan terorganisir ikut berpartisipasi dalam pendistribusian obat palsu melalui jaringan apotek online dan situs afiliasi di seluruh dunia, terutama di Asia, Eropa dan Amerika Utara.

Di Uni Eropa, sindikat kriminal menargetkan kelemahan pada jaringan grosir obat resep di Uni Eropa pada perdagangan paralel atau perdagangan lintas batas. Hal ini mempermudah penjahat untuk memiliki 'point-of-entry' ke dalam rantai pasokan obat di Eropa, sehingga "akan membuka pintu rantai pasokan obat global", menurut Peter Leininger, mantan penegak hukum di US FDA Office of Chief Counsel.

Pasar obat palsu menyajikan model bisnis klasik  "Risiko kecil dengan untung besar" kepada banyak penjual yang tidak bermoral.

Pemerintah Kamboja berhasil menemukan obat palsu di Phnom Penh, Kamboja, pada 28 November 2014. Sekitar lima ton obat palsu berhasil disita. Sumber: Phearum/Xinhua/Eyevine/Redux
Pemerintah Kamboja berhasil menemukan obat palsu di Phnom Penh, Kamboja, pada 28 November 2014. Sekitar lima ton obat palsu berhasil disita. Sumber: Phearum/Xinhua/Eyevine/Redux

Profesor Paul Newton dari Universitas Oxford mengatakan bahwa hukuman atas penjualan atau perdagangan obat palsu relatif lemah dibandingkan dengan perdagangan narkotika atau perdagangan manusia – sehingga menyebabkan banyak pihak mengeksploitasi permintaan pasar yang belum terpenuhi di banyak negara berkembang.

United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) memberi harga sebesar USD1.6 miliar per tahun untuk penjualan obat palsu dari Asia ke Asia Tenggara dan Afrika.

Demikian pula, pasokan obat palsu didukung oleh permintaan yang sama besarnya sehingga perdagangan ini berkembang. Kelangkaan obat-obatan dan harga yang mahal sering dijadikan sebagai alasan utama yang mendorong permintaan obat-obatan murah secara terus-menerus – terutama di negara-negara berkembang, di mana layanan kesehatan sering tidak disubsidi oleh institusi publik.

Belum diketahui jalan keluarnya

Sulit memang mencari jawaban atas asalah peredaran obat palsu. Terutama dengan sistem manufaktur yang kompleks – sehingga membuka pintu kesempatan bagi penjahat untuk menyelipkan obat palsu dalam rantai pasokan obat.

Selain itu, banyak pedagang ilegal yang beroperasi antar beberapa negara, yang menjadi pembatas bagi pemerintah suatu negara untuk menyelesaikannya.

Badan PBB – United Nations Convention against Transnational Organised Crime – adalah badan yang paling menjanjikan untuk memerangi masalah obat palsu, selain organisasi internasional lainnya seperti INTERPOL dan World Customs Organisation.

Meskipun WHO memiliki posisi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini, namun mereka menolak mendorong negara-negara untuk menandatangani perjanjian terkait obat palsu dan terus menggunakan istilah "dibawah standar, palsu, salah label, dipalsukan dan tiruan". Para ahli mengatakan alasan utamanya adalah agar WHO tidak mengasingkan industri farmasi – mitra kerja dekat dan pendukung keuangan.

Penyelesaian masalah obat palsu mungkin tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Yang sekarang bisa dilakukan adalah membangun cakupan berita yang luas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara deteksi obat palsu dan bahayanya. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa ada pasien yang berbohong?
Bagaimana apoteker bisa mendeteksi resep palsu?
Banyak informasi medis palsu tersebar di media online

Sumber:
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2017/substandard-falsified-products/en/
http://www.un.org/africarenewal/magazine/may-2013/counterfeit-drugs-raise-africa%E2%80%99s-temperature
http://www.straitstimes.com/world/africa/killer-fake-medicines-flourish-in-africa?login=true
https://www.unodc.org/toc/en/crimes/counterfeit-goods.html
http://www.newsweek.com/2015/09/25/fake-drug-industry-exploding-and-we-cant-do-anything-about-it-373088.html
https://www.interpol.int/Crime-areas/Pharmaceutical-crime/Pharmaceutical-crime
http://www.nytimes.com/2012/04/23/opinion/the-wrong-way-to-stop-fake-drugs.html
https://www.cbsnews.com/news/the-difficult-fight-against-counterfeit-drugs/
http://thehill.com/opinion/healthcare/368134-who-just-exacerbated-the-counterfeit-drug-problem
https://www.standardmedia.co.ke/health/article/2001264329/one-in-every-10-medical-products-is-falsified-report-says