Peneliti, Nathan Treff, spesialis fertilisasi in vitro, Stephen Hsu, wakil kepala penelitian di Universitas Negeri Michigan, dan Laurent Tellier, ahli bioinformatika Denmark melakukan Genomic Prediction, perusahaan yang menggunakan model komputer dan tes DNA untuk memprediksi embrio IVF mana memenuhi sifat yang diinginkan orangtua.

Mereka mengembangkan teknologi ini dengan menggunakan data genetik dari studi populasi. Baru-baru ini Inggris merilis 500.000 data, yang mencakup 800.000 polimorfisme nukleotida tunggal.

Semakin banyak informasi, teknologi prediksi menjadi semakin akurat dan saat ini mereka sudah dapat mengidentifikasi pola genetik untuk tinggi badan, berat badan, warna kulit dan kecerdasan. Perusahaan ini menyebut jasanya sebagai expanded pre-implantation genetic testing (ePGT).

"Kami percaya ini akan menjadi bagian standar proses IVF," ujar Tellier. Meskipun dikatakan mereka hanya akan memprediksi penyakit serius, namun Hsu sangat tertarik pada seleksi genetik untuk mencapai kecerdasan superior dan Hsu juga sudah menulis serta mengumumkan ketertarikannya ini.

Akurasi teknologi masih perlu diperhatikan

Meskipun rata-rata akurat, namun tidak ada jaminan ketepatan presisi pada setiap individu. Selain itu, lingkungan memainkan peran besar pada sebagian besar karakter seperti gen, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan di tahap embrio."Ada kemungkinan kesalahan yang tinggi," tutur Manuel Rivas, profesor Universitas Stanford yang mempelajari ilmu genetik Crohn’s disease. "Jika seseorang mengharapkan ketepatan karakter pada embrio, saya tidak tahu harus membuat apa."

Genomic Prediction juga cukup terbatas mengingat sebagian besar data berasal dari Eropa Utara, yang berarti tidak dapat memprediksi di luar Eropa Utara. Selain itu, tes poligenik dengan hanya beberapa sel embrio dapat mempersulit perolehan informasi genom yang luas dan akurat.

Could this be our future?: To permanently alter the genetic code of future generations is a constant ethical debate. Photo credit: Tim Lahan/Technology Review
Could this be our future?: To permanently alter the genetic code of future generations is a constant ethical debate. Photo credit: Tim Lahan/Technology Review

Bahaya merancang bayi

Bayi rancangan dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan manusia. Hsu sendiri memprediksi orang pertama yang akan "melakukan IVF meski tidak membutuhkannya" adalah "seorang milyarder dan pemilik rumah di Silicon Valley". Tingkat ekonomi dapat menciptakan kesenjangan antara yang mampu melakukan IVF dan yang tidak mampu.

"Rencana ini memunculkan berbagai pertanyaan mengenai keadilan dan menciptakan risiko kebangkitan intervensi genetik untuk menentukan karakter tertentu pada embrio. Siapa yang mau manusia kehilangan keragaman dan sifat seperti apa yang akan dipertahankan?" seru Emily Smith Beitiks, peneliti disabilitas di Universitas California. 

Penelitian yang dilakukan oleh Genetics and Public Policy Center di Universitas Johns Hopkins di akhir tahun 2016 dan dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility – tentang statistik pengujian embrio di Amerika, menemukan bahwa hampir satu dari sepuluh tes digunakan untuk memilih jenis kelamin embrio.

Proses pemilihan bisa memengaruhi kehidupan manusia

Proses pemilihan bisa sangat memengaruhi keragaman gen. Gen gaya berpakaian pada satu generasi bisa jadi berbahaya di generasi selanjutnya. Jika semua orang memilih tingkat imunitas yang sama untuk setiap anak mereka, secara keseluruhan, manusia akan menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

Hampir semua gen mempengaruhi fungsi gen lain dan akan sulit, jika mungkin, untuk menentukan kombinasi genetik mana yang menghasilkan anak sehat. Contoh paling terkenal adalah pada kasus anemia sel sabit.

Banyak orang tua juga memilih gen dengan hubungan paling kecil dengan penyakit, atau gen yang terkait dengan penyakit yang dapat ditangani. Treff, seorang penderita diabetes tipe 1 mengatakan, "Saya pernah mengatakan hal ini kepada istri saya, 'Tahu tidak, jika orangtua saya pernah melakukan tes ini, saya tidak akan memiliki kondisi kesehatan seperti ini.'"

Pencegahan merupakan argumen terbesar

Dilaporkan bahwa setiap tahunnya, sebanyak  7,9 juta anak-anak dilahirkan cacat serius yang berhubungan dengan gen dan pemilihan gen berpotensi menghapus secara permanen penyakit akibat mutasi gen tunggal, seperti Tay-Sachs.

Genomic Prediction berencana untuk menggunakan prediksi tinggi badan untuk menghilangkan kasus dwarfisme yang merugikan bentuk fisik dan psikologis penderitanya.

Meskipun dikhawatirkan tidak akurat, namun laporan penelitian tahun 2014, menemukan bahwa memilih embrio tanpa gen diabetes tipe 1 dari DNA poligenik saja bisa menunjukan hasil akurat. Pelarangan penggunaan algoritma demikian sebenarnya malah akan memunculkan pasar gelap bagi mereka yang putus asa.

Kembali pada pilihan masing-masing

Organisasi Pengobatan Reproduksi Amerika, yang mewakili dokter dan peneliti di bidang kesuburan wanita, menyatakan bahwa menguji embrio sama dengan "kebebasan reproduksi" bagi orang tua. Namun, pertanyaan mengenai 'apakah kebebasan ini bisa memunculkan masyarakat super', masih perlu dikaji lebih lanjut.

Meskipun demikian, banyak peneliti beranggapan bahwa merancang embrio bayi merupakan sesuatu yang tidak mungkin, mengingat kompleksitas yang dihasilkan. Sekeras dan sebesar apapun tim pemberi intervensi, manusia tidak mungkin bisa menciptakan model bayi yang layak.

Di samping itu, beberapa peneliti lain menganggap pemilihan embrio tidak berbeda dengan orangtua yang ingin memberikan segala yang terbaik bagi anak-anak mereka. "Saya pikir mengubah tanda lahir atau warna rambut atau talenta bermusik merupakan sesuatu yang buruk," tutur Arthur Caplan, direktur Pusat Bioetik di Universitas Pennsylvania. MIMS

Bacaan lain:
Perangkap tes genetik
FDA menyetujui penjualan tes genetik untuk risiko penyakit tertentu
"Operasi kimia" pertama pada embrio berhasil dilakukan oleh peneliti Cina

Sumber:
https://www.technologyreview.com/s/609204/eugenics-20-were-at-the-dawn-of-choosing-embryos-by-health-height-and-more/ 
https://qz.com/564649/the-pros-and-cons-of-genetically-engineering-your-children/ 
https://www.theguardian.com/science/2015/may/01/fear-of-designer-babies-shouldnt-distract-us-from-the-goal-of-healthy-babies
https://www.technologyreview.com/s/407398/choosing-babies/