Seperti istilah "You are what you eat", hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara pilihan makanan dan kesehatan. Tetapi makanan ‘apa’ yang menyehatkan? Berikut tiga penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa gaya hidup sehat akan memengaruhi kesehatan jantung, paru, dan otak Anda.

1. Mengganti protein hewani dengan protein nabati untuk menurunkan kolesterol

Menurunkan kolesterol merupakan kunci pencegahan penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease/CVD). Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah: bagaimana menurunkan kadar kolesterol dalam darah?

Sebuah studi baru-baru ini menganjurkan agar mengganti satu hingga dua porsi protein hewani menjadi protein nabati. Dengan demikian, setidaknya terjadi penurunan produksi tiga kolesterol penyebab penyakit kardiovaskular, yaitu kolesterol densitas rendah atau LDL (low-density lipoprotein) atau "kolesterol jahat", yang berperan dalam pembentukan lemak dalam arteri dan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan penyakit arteri perifer); kolesterol non-densitas tinggi atau non HDL-C (non-High Density Lipoprotein), atau jumlah kolesterol total dikurangi HDL atau kolesterol baik) dan apolipoprotein B (protein pada kolesterol jahat yang menyumbat arteri). Menurut penulis, Dr John Sievenpiper di rumah sakit St. Michael, manfaatnya akan lebih besar jika protein nabati dikombinasikan dengan makanan penurun kolesterol lain seperti serat dengan kadar tinggi yang berasal dari gandum, sereal dan psyllium (sekam/kulit ari), dan fitosterol.

Dokter Sievenpiper merupakan peneliti yang memimpin tinjauan sistematis dan meta analisis pada 112 uji acak terkontrol pada seseorang yang mengganti asupan beberapa protein hewani dengan protein nabati selama lebih kurang tiga minggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan sebesar 5% pada produksi koleterol utama saat setiap hari satu atau dua porsi asupan protein hewani diganti dengan protein nabati, terutama kedelai, kacang, dan kacang-kacangan (kacang polong, kacang lentil, dan buncis).

"Mungkin tampak sederhana, tetapi karena penduduk Amerika Utara jarang mengonsumsi protein nabati, maka kami tertantang untuk melakukan sedikit perubahan pada pola makan dan manfaatnya bagi kesehatan," tutur Dr Sievenpiper.

"Banyak orang tertarik dengan pola diet Mediterania yang menekankan pada pola konsumsi sayur-mayur, dan analisis penelitian acak juga mendukung hipotesis kami – bahwa diet jenis ini sehat untuk jantung," tambahnya.

2. Tomat dan apel dapat memperlambat penuaan paru

A recent published study suggests a way to slow down the natural ageing of lungs, while repairing damages caused by smoking – by consuming more fruits and tomato.
A recent published study suggests a way to slow down the natural ageing of lungs, while repairing damages caused by smoking – by consuming more fruits and tomato.

Selama bertahun-tahun, "Bagaimana cara menjaga paru agar tetap awet muda?" Hasil studi baru-baru ini menunjukkan cara untuk memperlambat penuaan paru sekaligus memperbaiki kerusakan akibat merokok – dengan mengonsumsi  banyak buah-buahan dan tomat. Perlu diingat, efek pelindung hanya berasal dari buah segar.

Dalam studinya, peneliti menilai asupan dan fungsi paru pada 650 subjek uji berusia dewasa dalam waktu sepuluh tahun, dan menemukan bahwa asupan makanan dapat memperlambat penuaan organ. Efeknya pada kesehatan paru bahkan tampak lebih jelas pada mantan perokok.

Para peneliti melaporkan bahwa dalam waktu sepuluh tahun, para bekas perokok yang mengonsumsi tomat dan buah-buahan dalam jumlah banyak mengalami perlambatan penuaan fungsi paru hingga sekitar 80 ml, yang mengindikasikan bahwa nutrisi dalam makanan dapat mencegah penuaan paru akibat rokok, menurut pemimpin penelitian Dr Garcia Larsen.

"Fungsi paru mulai menurun saat menginjak usia 30 tahun dengan kecepatan berbeda tergantung pada status kesehatan setiap individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi lebih banyak buah-buahan secara teratur dapat membantu mencegah penuaan organ, termasuk juka memperbaiki kerusakan akibat rokok", ujar Dr Garcia-Larsen. "Pola makan sehat merupakan langkah terbaik untuk mencegah PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) di seluruh dunia", ungkapnya.

3. Sayuran hijau untuk ketajaman otak

Baru-baru ini, peneliti berhasil menemukan jawaban untuk pertanyaan "Bagaimana cara memperlambat penurunan kognisi seseorang seiring dengan bertambahnya usia?" Jawabannya adalah dengan mengonsumsi sayuran hijau.

Survei dilakukan pada 960 peserta dengan rata-rata usia 81 tahun tanpa riwayat penyakit demensia jenis apapun. Peserta diminta untuk menulis daftar makanan sehari-hari mereka. Kemudian daya berpikir dan daya ingat diuji setiap tahunnya selama 4,7 tahun.

Dari hasil studi, ditemukan bahwa orang yang mengonsumsi minimal satu porsi sayuran hijau sehari mengalami penurunan lebih lambat pada fungsi memori dan proses berpikir daripada orang yang jarang atau tidak pernah mengonsumsi sayur-sayuran. Perbedaan ini setara dengan kualitas usia 11 tahun lebih muda, menurut kepala penelitian Martha Clare Morris, ScD, di Universitas Rush Medical Centre di Chicago.

It was discovered that people who consumed at least one serving of green, leafy vegetables a day had a slower rate of decline on tests of memory and thinking skills than people who never or rarely ate these vegetables.
It was discovered that people who consumed at least one serving of green, leafy vegetables a day had a slower rate of decline on tests of memory and thinking skills than people who never or rarely ate these vegetables.

"Bukan rahasia lagi bahwa mengonsumsi sayur akan sangat baik bagi kesehatan. Studi ini menujukkan bahwa dengan mengonsumsi makanan kaya vitamin K – seperti bayam, kubis, asparagus dan tunas kol – dapat memperlambat penurunan fungsi kognitif seseorang. Makanan sehat kaya nutrisi esensial dikombinasikan dengan olahraga teratur dan menghindari rokok dapat membantu menurunkan risiko demensia," tegas Dr James Pickett, ketua riset Alzheimer’s Society.

Namun Morris mencatat bahwa studi tersebut tidak membuktikan bahwa konsumsi sayuran hijau dapat memperlambat penuaan otak – namun hanya menunjukkan hubungan antara keduanya. Studi tersebut tidak dapat menunjukkan faktor lain yang mungkin menjadi faktor pendukung terciptanya hubungan tersebut. Selain itu, penelitian ini hanya dilakukan pada orang dewasa yang lebih tua dan populasi Kaukasia (kulit putih); Dengan demikian, hasilnya mungkin tidak berlaku untuk semua orang dewasa muda dan etnis di luar kulit putih. MIMS

Bacaan lain:

Susu kecoa - Makanan sehat terbaru
Orthorexia nervosa: Apakah Anda terobsesi dengan makanan sehat?
Makanan adalah obat: Apakah nutrisi saja cukup untuk menyembuhkan penyakit?

Sumber:
http://www.stmichaelshospital.com/media/detail.php?source=hospital_news/2017/1220
http://www.dailymail.co.uk/health/article-5201469/Why-eat-three-apples-two-tomatoes-day.html
http://erj.ersjournals.com/content/50/6/1602286
https://www.eurekalert.org/pub_releases/2017-12/aaon-was121517.php
https://www.alzheimers.org.uk/news/article/290/will_a_salad_a_day_keep_memory_problems_away_-_alzheimers_society_comments
http://n.neurology.org/content/early/2017/12/20/WNL.0000000000004815