Tahun lalu, pemegang kebijakan di India menghentikan penelitian klinis, ReAnima, di India yang ditujukan untuk menggunakan sel punca untuk membangkitkan pasien mati otak. Meskipun demikian, keinginan menggebu-gebu dari peneliti membawa mereka ke tahap akhir penelitian yang akan dilakukan di Amerika Latin.

Gabungan prosedur

Bioquark, sebuah firma bioteknologi di Philadelphia, menyebarkan penelitian yang sangat kontroversial ini. Mereka berusaha untuk membangkitkan 20 orang yang sudah dinyatakan mati otak secara klinis menggunakan gabungan metode tertentu. Beberapa meliputi penggabungan injeksi sel punca mesenkim dengan peptida yang dikatakan bisa mempromosikan sel otak untuk tumbuh, terapi laser selama 15 hari untuk membuat sel otak 'menyala' dan stimulasi elektrik dari listrik untuk mengembalikan kesadaran.

Mereka percaya metode ini bisa menstimulasi pertumbuhan neuron dan memicu satu per satu sel untuk kemudian membangkitkan otak.

"Kami pikir tidak ada peluru ajaib untuk melakukan ini, dengan demikian memulainya dengan satu peluru ajaib merupakan sesuatu yang tidak masuk akal," ungkap Ira Pastor, CEO Bioquark. "Inilah alasannya, mengapa kami harus menerapkan beberapa pendekatan berbeda."

Beberapa intervensi dari kombinasi ini menunjukkan potensi bagi beberapa populasi di tahap awal penelitian. Misalnya, injeksi sel punca ke otak atau sumsum tulang banyak digunakan untuk terapi cedera otak. Meskipun demikian, tidak ada indikasi bahwa intervensi seperti ini – individual atau berkelompok – bisa membangkitkan pasien mati otak. Peneliti dari Bioquark bahkan belum mengadakan percobaan atas metode mereka pada hewan.

Banyaknya pertanyaan; tidak ada jawaban – belum ada hingga sekarang

Penelitian serupa diadakan di Rudrapur, India, tetapi dihentikan oleh Konsil Penelitian Medis India (ICMR) di bulan November 2016 sebelum perekrutan pasien karena adanya pelanggaran peraturan. Pastor mengakui bahwa saat itu mereka kesulitan meyakinkan kerabat pasien untuk mengizinkan penggunaan korban kecelakaan yang sudah mengalami mati otak.

Banyak pertanyaan muncul dalam penelitian ini. Misalnya, apakah anggota keluarga bisa mengisi formulir penelitian sebelum partisipasi? Jika seseorang memang benar bangkit, apakah kemampuan fungsionalnya akan benar-benar kembali? Akankah penelitian ini menciptakan harapan bagi keluarga yang berduka? Peneliti dari Bioquark bahkan belum memikirkan mengenai hal ini.

"Tentu saja, banyak yang bertanya 'apa yang akan terjadi selanjutnya,'" ungkap pastor.

"Di samping kesembuhan total merupakan tujuan jangka panjang kami, dan kemungkinan yang bisa kita peroleh jika terus mengerjakan hal ini, namun ini bukan fokus atau tujuan utama kami."

Tanpa fungsi penuh, seseorang yang bangkit akan membutuhkan perawatan penuh. Seorang dokter bedah ortopedi yang memimpin penelitian di India, Himanshi Bansal mengatakan ia sudah mengambil rencana asuransi untuk melindungi pasien tersebut.

Masalah etika dan praktek

Eksperimen yang sangat kontroversial ini sudah menarik banyak perhatian ahli – mempertanyakan potensinya. Di tahun 2016, seorang dokter neurologi, Dr Ariane Lewis dan ahli bioetika Arthur Caplan menulis bahwa percobaan ini merupakan suatu bentuk "perdukunan", "tidak memiliki dasar saintifik", dan memberikan "harapan palsu" pada keluarga yang berduka.

Dr Ed Cooper, seorang dokter bedah ortopedi yang bergabung dalam penelitian stimulasi saraf, juga menyatakan bahwa tidak mungkin teknik ini bisa memberikan efek pada seseorang yang sudah mengalami mati otak. Teknik tersebut bergantung pada kerja sel punca. Pastor setuju dengan teori Cooper; tetapi tidak setuju bahwa ada "sebagian kecil sel" yang masih berfungsi pada pasien mati otak.

Selain daripada itu, hasil penelitian ini mungkin tidak sepenuhnya disebabkan terapi karena tidak ada cara definitif untuk mengukur mati otak. Untuk mengatasinya, Bioquark akan menggunakan dokter lokal untuk mengambil diagnosis tersebut.

"Kami tidak melakukannya sendiri," kata Pastor. Survey dari 28 laporan terpublikasi selama 13 tahun mencatat bahwa jika kriteria dari Akademi Amerika untuk panduan Neurologi untuk mati otak berhasil dikleuarkan, maka fungsi otak tidak akan pernah kembali pada pasien mati otak.

Dr Charles Cox, seorang dokter bedah pediatrik, mengatakan, "Ini bukan hal paling gila yang pernah saya dengar, tetapi saya pikir kemungkinannya memberikan efek mendekati nol."

Cox menjelaskan bahwa penelitian sudah membuktikan kemampuan sel dari daerah subventrikular otak untuk berkembang bahkan setelah seseorang dinyatakan sudah mati. Dengan demikian, kemungkinan besar penelitian ini tidak akan bisa memfasilitasi pertumbuhan neuron dengan jalur yang sama dengan kondisi ada aliran darah.

Pastor masih tetap yakin dengan tujuan Bioquark dan percaya metode penelitiannya akan berhasil. "Saya yakin ada kesempatan. Saya pikir masalahnya hanya pada bagaimana cara penggabungannya dan menarik orang yang benar dan pola pikir yang benar mengenai hal ini." Kebalikannya, Cox mengatakan, "Saya pikir [bangkitnya seseorang] merupakan suatu keajaiban. Saya pikir para pendeta pasti akan menyebutnya mukjizat." MIMS

Bacaan lain:
Mengapa menerima organ dari orang yang sudah meninggal bisa menimbulkan kanker
Apa yang akan terjadi pada tubuh manusia setelah meninggal?
Pasien anoreksia diizinkan mati kelaparan di Amerika

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/06/01/brain-death-trial-stem-cells/
https://arstechnica.com/science/2017/06/quack-trial-to-resurrect-brain-dead-folks-revived-with-new-location/