Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman, tidak menyenakan dan terkadang membuat perasaan stres yang dipicu oleh beberapa stimulus.

Penelitian yang dilakukan tahun 2016 menunjukkan bahwa nyeri berasal dari saraf. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari Divisi Neurofisiologi di Pusat MedUni Vienna untuk Penelitian mengenai Otak.

Menurut Jürgen Sandkühler, pemimpin divisi, aktivasi sel glia yang banyak ditemukan di otak manusia dan saraf tulang belakang bisa menyebabkan efek nyeri. Nyeri bisa menyebar ke bagian tubuh lain, yang mungkin tidak terpengaruh oleh pemicu.

Sandkühler  juga menyatakan bahwa aktivasi sel glia bisa terjadi karena penyakit neuroinflamasi di otak, faktor lingkungan dan bahkan gaya hidup.

Jenis kelamin bisa memengaruhi rasa nyeri

Penelitian yang dilakukan oleh H. H. Doyle dan peneliti lain dari Universitas Swasta Georgia menemukan adanya perbedaan aktivitas otak ketika pria dan wanita sama-sama mengalami nyeri. Penelitian ini dilakukan di awal tahun ini.

Peneliti menemukan bahwa sel imun otak, yang disebut mikroglia, lebih aktif pada wanita dibandingkan pada pria. Prevalensi kondisi nyeri kronik dan inflamasi lebih tinggi pada wanita, dan wanita biasanya membutuhkan sekitar dua kali jumlah morfin dibandingkan pria untuk dapat mencapai efek pereda rasa sakit.

Penelitian ini menunjukkan bahwa mikroglia bisa jadi merupakan target obat penting untuk terapi nyeri, terutama pada wanita.

IMT berkontribusi pada rasa nyeri

Jenis kelamin bukan satu-satunya faktor yang membedakan rasa nyeri. Penelitian yang dipublikasi di awal tahun ini, menemukan adanya peran indeks massa tubuh (IMT) dan distribusi lemak tubuh bisa memengaruhi deteksi sensorik dan sensitivitas rasa sakit.

Penelitian ini dilakukan oleh O. A. Tashani, dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Klinis dan Terapan di Universitas Leeds Beckett, bersamaan dengan tiga peneliti lain. Penelitian dilakukan pada 70 partisipan yang dikategorikan menjadi kelompok-kelompok berdasarkan IMT mereka (normal, berat badan berlebih dan obesitas).

Hasil menunjukkan bahwa rata-rata tekanan nyeri dalam kelompok obesitas ditemukan lebih rendah daripada kelompok normal. Respon nyeri juga bervariasi menurut lemak tubuh subkutan di situs tubuh berbeda.

Sikap orangtua bisa memengaruhi respon nyeri anak

Penemuan menarik lain dari penelitian adalah bagaimana anak diperlakukan bisa memengaruhi respon nyeri yang dirasakan anak. Penelitian ini dilakukan oleh Christine T. Chambers dari Pusat Komunitas Penelitian Kesehatan Anak, bersama dengan beberapa penlitian lain, dan dipublikasi di tahun 2002.

Korelasi signifikan ditemukan antara nyeri yang dirasakan anak dan pengajaran yang diberikan orangtua. Anak perempuan yang ibunya sering berinteraksi dengan mereka - seperti diberikan penghiburan yang diikuti permintaan maaf, empati dan memberikan kontrol - dilaporkan mengalami intensitas nyeri lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang bereaksi secara spontan.

Meskipun demikian, tingkat intensitas nyeri ditemukan paling rendah dalam kelompok anak perempuan yang ibunya berinteraksi dengan mereka untuk mengurangi rasa nyeri - seperti berbicara biasa, memberikan humor, dan memberi perintah untuk menahan rasa sakit. Yang menariknya, jenis interaksi maternal tidak memberikan efek yang sama pada anak laki-laki.

Nyeri dan empati

Dalam penelitian yang dipublikasi di tahun 2015, seorang ilmuwan sosial Claus Lamm, bersama dengan koleganya di Universitas Vienna, meminta partisipan untuk memberi nilai rasa nyeri yang dirasakan dari sedikit paparan syok elektrik. Mereka kemudian diminta untuk mengestimasikan rasa nyeri yang mereka rasakan oleh orang lain yang berada di ruangan yang sama dan mendapat paparan syok yang sama pula.

Partisipan yang menerima pil placebo menyebutkan tingkat nyeri yang lebih rendah dan juga menilai rasa nyeri orang lain lebih rendah, dibandingkan partisipan yang tidak menerima pil. Percobaan diulang, tetapi beberapa partisipan diberikan naltrexone, obat yang mencegah fungsi penghilang nyeri opioid dengan memblok gerakan opioid di otak.

Hasilnya ada penurunan rasa nyeri dan empati dalam partisipan tersebut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa empati rasa nyeri berasal dari respon neuron dan aktivitas neurotransmitter yang berhubungan dengan nyeri pertama.

Memahami faktor berbeda yang memengaruhi rasa nyeri pada manusia penting untuk menentukan intervensi yang cocok dan paling efektif untuk manajemen nyeri. Diharapkan penelitian di masa depan bisa berguna untuk ekstrapolasi hasil dari penelitian sebelumnya dan bertujuan untuk lebih banyak mempelajari mengenai variasi berbeda dari mekanisme nyeri dan pengalaman individual. MIMS

Bacaan lain:
Bahagianya melahirkan: Rumah sakit Singapura mengadopsi teknologi baru pereda nyeri di bangsal bersalin
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal
Ternyata otak masih bekerja meskipun tubuh sudah tak bernyawa
5 poin penting BPJS yang perlu diketahui oleh tenaga kesehatan


Sumber:
https://www.sciencedaily.com/releases/2016/11/161110145702.htm 
http://news.gsu.edu/2017/03/02/sex-differences-in-brain-activity-alter-pain-therapies/ 
http://www.jneurosci.org/content/early/2017/02/20/JNEUROSCI.2906-16.2017
http://onlinelibrary.wiley.com/wol1/doi/10.1002/ejp.1019/abstract 
https://academic.oup.com/jpepsy/article/27/3/293/908866/The-Impact-of-Maternal-Behavior-on-Children-s-Pain 
http://www.sciencemag.org/news/2015/09/dulling-pain-may-also-reduce-empathy