"Vodka martini. Dikocok, jangan diaduk."

Ucapan terakhir tokoh terkenal, James Bond, ironisnya, membangkitkan imajinasi luar biasa di kalangan penonton film dan masyarakat umum tentang gambaran keren minum koktail – sambil menunjukan gaya berintelektual tinggi yang klasik, dan godaan "gentleman" yang mematikan. 

Berapa banyak penggemar Bond yang benar-benar menyadari bahwa minuman beralkohol bisa memicu kanker? Kemungkinan angkanya tidak terlalu banyak; dan hal ini bisa jadi disebabkan penyajian iklan yang tidak seharusnya.

"Penyangkalan, pemutarbalikan dan gangguan"

Peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine menerbitkan hasil analisis kualitatif dalam jurnal Drug and Alcohol Review, yang meneliti kelengkapan dan akurasi informasi mengenai alkohol dan kanker yang dikeluarkan oleh produsen minuman beralkohol.

Bersama dengan para peneliti dari Institut Karolinska, Swedia, kelompok tersebut menganalisis informasi yang dipublikasi di website atau media cetak oleh hampir 30 organisasi produsen minuman beralkohol. Peneliti menemukan bahwa, sebagai bagian dari tanggung jawab, mereka memiliki kewajiban untuk menginformasikan risiko konsumsi alkohol – terutama dalam meningkatkan risiko kanker.

Meskipun demikian, menurut penelitian tersebut, hampir semua situs produsen "memutarbalikkan" atau "menyalahartikan" hubungan sebab-akibat ini. Dan ditemukan bahwa penyakit kanker payudara dan kolorektal termasuk di antara kanker yang paling sering disalahartikan.

Penulis utama, Profesor Mark Petticrew mengatakan bahwa "bukti ilmiah sudah jelas menunjukkan bahwa minuman alkohol terbukti dapat meningkatkan risiko penyakit kanker tertentu. Masyarakat memiliki kesadaran rendah akan risiko ini, terutama mengenai risiko kanker payudara, yang merupakan ancaman signifikan pada produsen minuman beralkohol. Analisis kami menunjukkan bahwa produsen utama alkohol global mungkin mencoba mengurangi hal ini dengan menyebarkan informasi sesat tentang kanker melalui 'tanggung jawab minum' tubuh."

Tiga strategi utama untuk menyebarkan informasi sesat kepada masyarakat berhasil diketahui peneliti. Produsen minuman beralkohol secara umum menolak bukti hubungan antara perilaku minum alkohol dengan peningkatan risiko kanker dengan menyatakan bahwa  hubungan ilmiah antara keduanya sangat kompleks dan tidak dapat dipercaya. Dan dengan demikian, mereka menghilangkan kesimpulan hubungan sebab-akibat ini dari publikasi mereka.

Pemutarbalikan fakta juga merupakan taktik yang umum digunakan, memanfaatkan kurangnya kemampuan masyarakat dalam menafsirkan perhitungan ilmiah dan statistik. Peneliti menemukan bahwa beberapa perusahaan alkohol menyebutkan risiko kanker, namun secara substansial mengaburkan besarnya risiko tersebut baik dengan mempertanyakan tingkat kepercayaan bukti atau bahkan mengklaim bahwa alkohol memilki kemampuan untuk  melindungi dari beberapa jenis kanker tertentu.

Terakhir, produsen minuman beralkohol juga berusaha mengalihkan perhatian masyarakat dengan menunjukkan faktor risiko kanker lainnya.

"Sering diasumsikan bahwa, pada umumnya produsen minuman beralkohol tidak seperti pabrik tembakau, produsen minuman beralkohol cenderung tidak menyangkal bahaya alkohol, namun mereka menyampaikan informasi sesat dengan memanfaatkan apa yang disebut 'ilusi kebenaran' di mata pembuat kebijakan, sementara meniadakan dampak signifikan konsumsi alkohol dan mengutamakan kelebihannya," ungkap Profesor Petticrew. 

Respon produsen minuman beralkohol

Laporan penelitian tersebut mendapat banyak kritikan dari produsen minuman beralkohol, yang secara bersamaan menolak atau mempertanyakan tingkat validitas penelitian. Portman Group, penanggung jawab produsen minuman beralkohol di Inggris, membantah tuduhan para peneliti dengan sengaja menyalahartikan risiko konsumsi alkohol.

John Timothy, chief executive Portman Group, mengatakan: "Penelitian akademik dan komentar risiko gaya hidup disajikan secara adil, akurat dan dalam konteksnya, sehingga masyarakat dapat membuat pilihan yang rasional dan dapat memilah informasi sendiri.” MIMS

Bacaan lain:
4 obat yang tidak boleh digunakan bersama alkohol
Konsumsi alkohol berhubungan dengan penurunan risiko diabetes
Pasien pria sering berbohong ke dokter: Apa yang bisa dilakukan dokter

Sumber:
https://www.lshtm.ac.uk/newsevents/news/2017/alcohol-industry-misleading-public-about-alcohol-related-cancer-risk
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/dar.12596/abstract
https://www.theguardian.com/society/2017/sep/07/alcohol-cancer-link-report-portman-group-drinkaware