Electroconvulsive Therapy (ECT) merupakan salah satu bentuk terapi untuk gangguan mental, dimina listrik dipaparkan ke otak pasien dalam dosis kecil dan aman. Terapi ini menyebabkan konvulsi dan kejang yang mengubah pola kimia otak, dan dengan demikian memicu penyakit mental tertentu.

ECT dianggap sebagai terapi paling mudah untuk pasien depresi dan pasien yang berencana bunuh diri. Selain itu, pasien penderita mania, catatonia, dan pasien yang tidak membaik setelah diberikan terapi lain merupakan pasien yang paling merasakan manfaat terapi ECT.

Praktek pengobatan di tahun 1938

ECT pertama kali diaplikasikan pada tahun 1500an, dimana idenya adalah untuk menyembuhkan penyakit mental melalui konvulsi. Bukan hanya diberikan paparan listrik, tetapi pasien juga diminta untuk mengonsumsi kapur barus secara oral untuk memicu konvulsi.

ECT dengan tangkai listrik baru mulai digunakan pada tahun 1938 oleh seorang dokter psikiatrik dan neurologi Italia, yang berhasil menyembuhkan pasien catatonic setelah beberapa memicu konvulsi.

Meskipun ECT tampak aman, tetapi tetap ada efek sampingnya, seperti patah tulang, dislokasi sendi dan kehilangan ingatan. Meskipun demikian, ECT masih tetap digunakan, dengan alternatifnya adalah lobotomy atau terapi syok insulin.

Electroconvulsive therapy (ECT) machine used in 1945 through 1960. Photo credit: Science Museum, London
Electroconvulsive therapy (ECT) machine used in 1945 through 1960. Photo credit: Science Museum, London


Sejarah ECT terus berlangsung di tahun 1950, dimana penelitian saintifik sudah banyak dilakukan dan peneliti berhasil menemukan relaksan otot, disebut succinylcholine. Diberikan bersamaan dengan anestesi untuk mencegah cedera dan kesakitan selama prosedur ECT.

Membentuk dokumen pengatur prosedur ECT untuk mencegah penyalahgunaan dan penyiksaan pasien dikeluarkan pada tahun 1978, dan dokumen ini dibuat sesuai dengan penemuan saintifik.

Revisi dilakukan pada tahun 1990 dan 2001. Hingga sekarang, National Institute of Mental Health dan American Psychiatric Association masih mendukung penggunaan ECT untuk mengobati terapi kondisi spesifik tertentu.

Kontroversi ECT

Di tahun 1950an, ECT terbukti memberikan manfaat bagi pasien gangguan mental. Meskipun demikian, tetap ada kontroversi yang melingkupinya seperti banyak bukti penelitian menunjukkan bahwa ECT diberikan kepada pasien secara paksa dan untuk menjaga peraturan di bangsal. Saat itu, ECT diberikan dalam dosis tinggi dan tanpa anestesi, menyebabkan cedera dan kehilangan ingatan. Ini merupakan kondisi mengerikan yang disebabkan ECT, sehingga membuat banyak orang tidak mendukung penggunaannya.

Di tahun 1960an, gerakan anti-psikiatrik digalakkan, dimana ide mengenai gangguan mental ditolak dan kemudian memengaruhi perkembangan ECT. Penggunaan ECT menurun di tahun 1960an dan 1970an.

Penggunaan ECT meningkat kembali di tahun 1980an setelah Carrie Fisher, seorang aktris senior, mengumumkan kesembuhannya dari penyakit mental setelah menggunakan ECT.

ECT lebih efisien daripada obat

Hingga sekarang, peneliti sudah melakukan penelitian pada 30 pasien pengguna ECT. Mereka menemukan bahwa 80% pasien ingin mengulang prosedur tersebut.

Dari pasien tersebut, 70% menyatakan bahwa ECT sangat berguna dan lebih efisien daripada obat, seperti fluoxentine, yang memberikan efek dalam memperbaiki gangguan psikiatrik dan sudah banyak mengalami perkembangan di zaman modern ini. Revolusi ECT sudah banyak membantu menggeser mitos kengerian ECT.

ECT memiliki tingkat remisi tinggi sebesar 60 hingga 70% bagi pasien yang menggunakan terapi. Meskipun demikian, ditemukan juga angka kekambuhan tinggi sehingga pasien perlu diberikan suplemen dengan obat seperti prozac. Selain itu, ECT belum bisa mengeliminasi efek samping, seperti kehilangan ingatan.

Meskipun sementara, namun ada juga kasus kehilangan ingatan jangka panjang. Pemahaman lebih mendalam mengenai ECT sekarang membuat terapi ini menjadi lebih efektif.

Dr Latha Guruvaiah, kepala penulis penelitian mengatakan, "Banyak pilihan terapi sudah tersedia untuk mengatasi gangguan psikiatrik, tetapi ECT masih tetap dianggap sebagai terapi efektif dan diketahui memiliki potensi lebih baik untuk menyelamatkan nyawa pasien." MIMS

Bacaan lain:
5 gangguan mental yang jarang ditemukan
Kesehatan mental memberi pengaruh lebih besar ke pria daripada wanita
Obat gangguan mental dan kehamilan: Pilihan dokter

Sumber:
https://www.scientificamerican.com/article/electroconvulsive-therapy-a-history-of-controversy-but-also-of-help/
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/06/170605110046.htm
https://www.healthyplace.com/depression/ect/history-of-ect-how-the-ect-procedure-developed/
http://www.mayoclinic.org/tests-procedures/electroconvulsive-therapy/basics/definition/prc-20014161
http://www.webmd.com/depression/news/20030306/shock-therapy-still-here-still-used#1