Bukan rahasia jika mayoritas pasien - sekitar 72% - mendapat informasi kesehatan mereka secara online.

Meskipun membuka pintu komunikasi dokter-pasien, media online juga memiliki bahayanya sendiri, mulai dari cyberchondria dan etika praktek dokter, hingga pasien terlalu percaya akan sumber online sehingga menggunakan saran yang salah dan tidak akurat.

Facebook merupakan salah satu media penyedia 'saran medis' yang banyak digunakan pasien.

Informasi yang tidak akurat lelbih popular dibanding informasi yang lebih akurat

Penelitian oleh peneliti di Medical College of Wisconsin dan Tulane University School of Medicine memeriksa perkembangan berita dan informasi mengenai virus Zika di Facebook pada bulan Mei hingga Juni. Media sosial dipilih karena sekitar dua per tiga warga AS menggunakan situs ini.

Penelitian menemukan hanya 81% dari 200 informasi dan video paling populer yang memberikan informasi akurat dan diambil dari sumber terpercaya, seperti CNN, TIME, dan Reuters.

Menurut peneliti, sekitar 12% post di Facebook berisi informasi yang salah, dengan beberapa mendeskripsikan teori konspirasi yang mengklaim bahwa pandemik Zika merupakan cerita bohong yang dibuat oleh perusahaan multinasional. Meskipun tidak banyak, post yang tidak akurat ditemukan lebih banyak dilihat dan dikomentari, serta dibagikan.

Sebuah video viral, berjudul "10 reasons why Zika virus fear is a fraudulent medical hoax," telah ditonton sebanyak lebih dari 530.000 kali, dan dibagikan oleh lebih dari 19.600 pengguna dan menerima lebih dari 600 komentar pendukung - sehingga video ini menjadi video paling populer yang menginformasikan informasi palsu. Sebaliknya, post paling populer yang dinyatakan akurat oleh peneliti, yang adalah post dari World Health Organisation, hanya dilihat 43.000 kali dan dibagikan 964 kali oleh pengguna Facebook.

"Saya kaget karena kesalahan konsep virus Zika juga bisa ditemui pada orangtua neonatus yang saya rawat. Kebanyakan ibu menganggap bahwa pernyataan mikrocefalus disebabkan virus Zika hanyalah cerita bohong dan sebenarnya disebabkan kontaminasi pestisida dari industri yang menutup-nutupinya dengan cerita Zika," kata ketua peneliti Dr. Megha Sharma, yang berada dalam divisi pengobatan neonatal perinatal di Fakultas Kedokteran Wisconsin.

Facebook - Pedang bermata dua

Menurut Sharma, "Kebanyakan orang Amerika lebih banyak menggunakan berita online, dan Facebook merupakan salah satu sumbernya. Tidak seperti sumber berita konvensional, berita kesehatan di Facebook tidak teregulasi dan teori konspirasi pseudo-saintifik sering kali lebih populer daripada informasi akurat.

"Kondisi ini bisa menjadi mengganggu praktek kesehatan publik dan menimbulkan kepanikan. Kondisi ini benar bermunculan pada saat pandemik Zika, Ebola, H1N1, avian & swine flu."

Namun, daripada menjelek-jelekan Facebook sebagai sumber informasi palsu, dunia medis lebih baik belajar menangani dan mencapai publik melalui media informasi seperti Facebook. Tidak bisa dipungkiri bahwa pasien yang diedukasi akan lebih peduli akan perubahan fisik dan psikologis, dan lebih memahami serta patuh pada instruksi dokter.

Maju, demi kesehatan pasien

Rekomendasi dalam Informasi Kesehatan oleh IMS Institute menyatakn bahwa "pendekatan efektif oleh dokter ke pasien bisa muncul ketika pasien merasa sangat nyaman, termasuk misalnya dalam forum media sosial dan pendekatan ini bisa dilakukan oleh dokter ke media sosial."

Kualitas hubungan dokter-pasien sekarang lebih penting daripada sebelumnya. Penting bagi dokter untuk membangun suasana yang nyaman sehingga pasien mau menceritakan keluhan kesehatan mereka bahkan yang memalukan sekalipun.

Menurut penelitian tahun 2010 di departemen pediatrik di Rumah Sakit Nottingham, informasi yang paling bisa dipercaya adalah informasi dalam website pemerintah, dan 55% situs berita. Selain itu, beberapa dokter, praktek dan asosiasi medis sedang berperang melawan informasi medis yang tidak akurat. Misalnya, Cleaveland Clinic membagikan beberapa tips kesehatan dan informasi penelitian klinis melalui halaman Twitter dan Facebook-nya.

Daripada menulis konten mereka sendiri, dokter lebih baik mengetahui sumber informasi medis mana yang bisa dipercaya. Media sosial bisa memengaruhi bagaimana pasien berinteraksi dengan dokter mereka dan apa yang mereka harapkan. Dengan demikian, dokter perlu memastikan apa yang telah pasien dan keluarganya baca di internet, dan kemudian secara berhati-hati mengubah cara pandang mereka ke arah yang benar. MIMS

Bacaan lain:
Peneliti Rusia menginjeksi dirinya sendiri dengan bakteri berusia 3,5 juta tahun demi "hidup panjang"
PBB: Serangan ke rumah sakit dan tenaga kesehatan di Siria merupakan bentuk dari "kriminalitas dalam peperangan"
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal


Sumber:
http://www.cbsnews.com/news/most-popular-facebook-social-media-health-posts-may-be-least-accurate/
http://today.mims.com/topic/dr-wikipedia--the-rise-of-websites-as-sources-of-information-for-doctors?country=Singapore&channel=GN-Health-Wellness
http://today.mims.com/topic/the-challenge-of-patients-over-relying-on-medical-websites-and-how-to-advise-them?country=Malaysia&channel=GN-Health-Wellness
http://mashable.com/2012/06/15/online-medical-searches/#KN7ZvK_lskq1