Pernahkah Anda terpikir bahwa istilah "lanjut usia" merupakan kosakata yang lebih menyenangkan daripada, "orang tua"? Hal yang sama juga terjadi pada pemilihan kata "penyandang disabilitas" dan "orang cacat".

Kamus Cambridge mendefinisikan eufemisme sebagai "sebuah kata atau ungkapan yang digunakan untuk menghindari kata-kata tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan." Contoh tadi merupakan beberapa eufemisme yang telah lama digunakan – baik untuk tujuan politik, sosial, medis atau bisnis.

Intinya, eufemisme adalah bentuk kosakata yang bertujuan untuk memberi konotasi positif pada suatu ungkapan tertentu, dan dalam beberapa hal, membuatnya dapat diyakini atau diterima. Untuk alasan ini, kita sering mendengar istilah "korban sipil" yang digunakan untuk menyebut korban salah sasaran dalam peperangan, dan "perubahan iklim" sebagai kosakata pengganti pemanasan global.

Pentingnya bahasa untuk membentuk persepsi publik

Eufemisme sebenarnya merupakan bagian dari praktek medis dan perawatan kesehatan, karena  dapat membuat istilah atau kosakata tertentu tampak lebih "sesuai" bagi pasien, keluarga, tenaga medis, dan masyarakat. Istilah "perawatan paliatif" atau "perawatan di rumah sakit" misalnya, sering dikaitkan dengan kematian atau kehilangan harapan untuk hidup. Hal ini menimbulkan pendapat untuk mengubah kosakata ini.

Sebuah penelitian kualitatif yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal (CMAJ) mengenai persepsi publik terhadap kosakata "perawatan paliatif", menghasilkan beberapa temuan penting mengenai kesan awal negatif yang terkait. Kosakata "perawatan paliatif" seringkali mengarahkan pada suatu stigma, sedangkan "perawatan pendukung" dianggap lebih sesuai bagi pasien dan tenaga kesehatan. Poin penting lain dari penelitian adalah bahwa stigma yang terkait dengan kosakata "perawatan paliatif" mungkin merupakan penghalang yang menghambat manfaat perawatan paliatif bagi pasien dan tenaga kesehatan.

Penggunaan bahasa yang sesuai untuk memengaruhi mental dan persepsi publik atau pendengar dikemukakan oleh Dr Akopova Asya dari Departemen Bahasa Inggris Fakultas Kemanusiaan, South Federal University, Rusia, dalam sebuah artikel yang diterbitkan tahun 2013 di International Journal of Cognitive Research in Science, Engineering and Education. Menurut Dr Asya, manipulasi linguistik didasarkan pada mekanisme yang memaksa kita untuk melihat pesan verbal secara tidak kritis dan memfasilitasi penciptaan ilusi dan kesalahan persepsi, memengaruhi emosi pendengar dan membuatnya melakukan tindakan yang menguntungkan bagi pembicara. Salah satu jenis manipulasi linguistik adalah "manipulasi linguistik rasional", dimana pembujuk akan menyajikan fakta dan argumen yang meyakinkan untuk memengaruhi kesadaran seseorang.

Masih menjadi perdebatan: "kematian terbantu" atau "eutanasia"

Usage of the term “euthanasia” or “assisted suicide” often conjures a negative and troubling perception among patients and the public.
Usage of the term “euthanasia” or “assisted suicide” often conjures a negative and troubling perception among patients and the public.

Pengamatan yang dilakukan pada RUU Voluntary Assisted Dying (VAD) baru-baru ini diperdebatkan oleh anggota parlemen Victoria di Australia, menunjukkan bagaimana pemilihan kata mencerminkan sudut pandang berbeda yang dimiliki oleh pendukung dan penentang RUU tersebut. Mereka yang mendukung RUU yang cenderung menggunakan kosakata "kematian terbantu" sepanjang perdebatan. Sebaliknya, penentang lebih suka istilah "dibantu bunuh diri" dan "eutanasia" dalam argumen mereka – kosakata yang membuat pasien, keluarga dan masyarakat tidak nyaman.

Perdebatan ini juga terjadi dalam kasus pemungutan suara tahun 2016 di Colorado, Amerika Serikat yang memutuskan apakah dokter diizinkan menulis resep ‘pengakhir hidup’ untuk pasien sakit parah – masalah ini muncul sebelum undang-undang tersebut disahkan. Mereka yang mendukung hal tersebut menggunakan kosakata seperti "mati dengan hormat" atau "bantuan medis untuk kematian", sebaliknya yang lain cenderung menyebutnya sebagai "bunuh diri dengan bantuan dokter".

Menurut The Denver Post, penggunaan bahasa yang memecah belah ini juga menyebabkan organisasi berita memertimbangkan kosakata paling objektif untuk gambaran suatu prosedur. Salah satu stasiun TV, KUSA-Channel 9 memutuskan untuk menyebutnya sebagai "dibantu bunuh diri", sesuai dengan definisi Oxford tentang "tindakan bunuh diri dengan sengaja". Sedangkan yang lain memilih menggunakan "bantuan medis untuk kematian", karena makna yang disampaikan dengan istilah "bunuh diri" tidak sesuai dengan definisi dalam kamus.

Apakah eufemisme harus dipandang sebagai ‘pil pahit tersalut gula’ atau sekadar cara untuk menggunakan bahasa yang nyaman didengar, masih tetap menjadi perdebatan. Meskipun demikian, pernyataan yang dibuat oleh David Woods, mantan pemimpin redaksi CMAJ, mungkin bisa dijadikan pertimbangan dalam penggunaan eufemisme: "Bahaya dari semua ini – dalam bidang kesehatan dan lainnya – adalah bahwa eufemisme menyebabkan ketidakjelasan dan kesalahpahaman. Tentunya kita, dan bahasa yang kita digunakan, saat ini sudah cukup dewasa untuk menyebut sekop sebagai sekop – bukan alat bertani." MIMS

Bacaan lain:
Euthanasia pada bayi: Perlukah dilegalkan?
Tidak berbicara terlalu "seperti dokter" saat berkomunikasi dengan pasien
Dengarkan! – Penyebab bunuh diri di kalangan remaja

Sumber:
https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/euphemism?q=euphemism+
http://www.cmaj.ca/content/188/10/711
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1491368/
http://ijcrsee.com/index.php/IJCRSEE/article/view/128/215
https://theconversation.com/the-fear-that-dare-not-speak-its-name-how-language-plays-a-role-in-the-assisted-dying-debate-86308
http://www.denverpost.com/2016/08/28/dying-with-dignity-doctor-assisted-suicide-language-battle/