Penelitian klinis dilakukan untuk mengetahui kemajuan medis di ranah pengobatan dan efeknya ke publik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan potensi obat yang diteliti dan juga efek sampingnya.

Meskipun telah diketahui bahwa hasil lengkap penelitian tidak pernah dipublikasi dalam jurnal, tidak lengkapnya publikasi juga bisa mengarah ke efek samping yang ditemukan selama penelitian klinis.

64% efek samping tidak dilaporkan

Menurut analisis meta oleh Universitas York, Norwich, dan Manchester yang dipimpin oleh Su Golder dari departemen sains kesehatan York, ada "bukti kuat" bahwa efek samping tidak dilaporkan secara lengkap dalam artikel jurnal yang dikaji para agli yang mendeskripsikan manfaat klinis obat dan terapi medis lain.

Ini mengartikan bahwa efek samping sering kali tidak diketahui oleh tenaga kesehatan. Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti menemukan bahwa sekitar 64% efek samping sering kali terlewatkan oleh para pembaca yang hanya membaca pada laporan terpublikasi mengenai terapi medis.

Penulis menyimpulkan bahwa laporan lengkap efek samping dalam artikel di jurnal penting bagi pasien dan dokter untuk memeriksa keseimbangan antara manfaat dan efek samping terapi medis, dan mencatat "pentingnya penyingkapan dan menghilangkan pembatas akses ke informasi dari penelitian klinis."

Mereka juga mencatat bahwa "keikutsertaan data yang tidak dipublikasi juga bisa menurunkan angka ketidak-presisian hasil analisis meta mengenai efek samping."

Hal utama yang digaris bawahi adalah bahwa jurnal terpublikasi tidak berisi banyak informasi efek samping. Di samping itu, data mengenai efek samping lebih banyak tersedia dalam dokumen tidak terpublikasi dari penelitian yang sama. Alasan utama untuk hal ini adalah apa yang disebut sebagai bahan 'sensasional' yang menciptakan bias.

Banyak efek samping juga tidak dilaporkan dalam penelitian kanker

Kewajiban dimulai dari sumbernya. Dokter penelitian sering kali tidak mengikutsertakan efek yang sering dilaporkan pasien. Kondisi ini sering menyebabkan hilangnya data penting dan menyebabkan efek berkelanjutan dalam komunikasi dengan pasien.

Francesco Perrone, direktur Unit Penelitian Klinis di Institut Kanker Nasional di Naples, Italia dan koleganya menganalisis efek samping yang dilaporkan lebih dari 1.000 pasien kanker payudara dan paru-paru dan dokter penelitian untuk penelitian mereka di tahun 2015.

Perbandingan efek samping yang dilaporkan pasien dan dokter dalam tiga penelitian kanker terpisah menemukan bahwa persepsi dokter mengenai efek samping lebih sedikit dibandingkan yang dilaporkan pasien. Faktanya, dokter menghilangkan laporan efek samping hingga 75% dari efek samping berbeda kemoterapi yang dirasakan.

"Pasien harus didorong untuk menyebutkan efek samping yang mereka rasakan secara subjektif dan aktif dalam menentukan tolerabilitas obat antikanker," kata Perrone.

Ia menambahkan bahwa hasil tersebut membuat dokter harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendengarkan keluhan gejala pasien.

Penemuan tersebut menggaris bawahi pentingnya seorang dokter untuk mencaritahu lebih mendalam dari apa yang dipublikasikan demi mendapat data yang lebih relevan dan mengumpulkan lebih banyak kesimpulan sebelum merekomendasikan terapi baru ke pasien. Ada juga kebutuhan untuk penyingkapan dan membuka akses ke hasil penelitian klinis.

Penanggulangan untuk mengatasi hal ini dan untuk menghasilkan data yang lebih bisa dipercaya pada outcome penelitian klinis adalah dengan menciptakannya dalam beberapa cara yang ada. U.S. FDA mendorong dokter untuk melaporkan efek samping apapun melalui sistem laporan mereka. Namun tentu saja, semua ini tergantung pada dokter atau pasien itu sendiri saat mereka menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dan juga keinginan mereka untuk melaporkannya. MIMS

Bacaan lain:
Siapa yang terjebak: Jurnal saintifik atau pembacanya?
Penelitian klinis: Standar emas atau tidak berguna?
FDA mengeluarkan standar medis untuk pengujian laboratorium di industri
Aplikasi telepon genggam sebagai alat penelitian medis
Facebook dan pemahaman publik