Semua dokter pasti mengingat kematian pasien pertama meeka.

Racher Clarke, seorang dokter junior di NHS, merasa lelah dan merasa "mabuk" akibat bekerja terus-menerus selama 14 jam. Selain terus diganggu oleh bunyi pager – membuatnya harus melayani pasien lain – ia juga mulai memeriksa seorang pria yang kemudian meninggal.

Setelah insiden tersebut, ia merasa tidak bisa meminta bantuan atau bercerita ke siapapun. Namun, ia terus berusaha menunjukkan keberaniaannya – melanjutkan kegiatannya dan menangani mereka yang sakit.

Ini bukannya situasi yang tidak biasa. Dokter seringkali merasa kehilangan saat mereka kehilangan pasien mereka.

"Banyak hal yang harus diproses dan dirasakan, namun kita tidak membicarakannya. Namun, kita mencari tempat aman dengan terus bekerja. Kita mendokumentasikannya. Kita membersihkan tubuhnya. Kita memberitahu bank organ. Kita mengganti baju praktek dan sarung tangan kita yang penuh darah dan melemparnya ke tong sampah. Kita menutupi tubuh Kevin dengan selimut baru dan menunggu keluarganya datang," ungkap Dr Jay Baruch, seorang profesor asosiasi dari bangsal gawat darurat dan direktur Scholarly Concentration Programme in Medical Humanities and Ethics di Warren Alpert Medical School of Brown University.

Ia menceritakan apa yang ia rasakan setelah kematian yang mengerikan dan tidak biasa dari seorang pria muda berusia 20 tahun yang terlempar dari kaca depan mobil seorang temannya yang mabuk, saat mobil ini menabrak tiang telepon. 

"Dan kami melanjutkan hidup," tambahnya dengan tegas.

Trauma emosi harus diperhatikan dengan serius Terutama di bangsal gawat darurat, "terus bergerak" merupakan budaya yang harus terus diingat. Tidak ada waktu untuk berfokus pada satu aktivitas pada jangka waktu yang lama – apalagi untuk meratapi kepergian pasien.

Dokter berada di garis depan bantuan medis yang seringkali harus melakukan beberapa pekerjaan, prosedur dan pembicaraan kompleks di satu waktu yang sama disebabkan banyaknya jumlah pasien.

Meskipun demikian, sikap "terus bergerak" bukannya tidak berisiko.

"Di samping terus bekerja dengan baik, tenaga kesehatan di bangsal gawat darurat, bersama dengan dokter spesialis, seringkali harus tetap tampak baik-baik saja meskipun mereka merasa depresi dan lelah," kata Dr Baruch. "Saat seorang dokter menunjukkan penderitaannya, pasien juga akan merasa menderita."

Di samping kelelahan fisik, trauma emosi yang dirasakan dokter juga bisa mengganggu kualitas perawatan medis – menurunkan rasa iba, kesabaran, dan kesenangan.

Depresi dan kelelahan sudah banyak menyebabkan banyak dokter bunuh diri. Kasus terbaru, di Inggris, seorang dokter junior berusia 30an ditemukan meninggal di Rumah Sakit Musgrove Park, Somerset. Pada 18 bulan terakhir, Inggris sudah menyaksikan setidaknya tiga dokter junior yang bunuh diri.

Kasus Kimberly Hiatt 

Kimberly Hiatt, a longtime critical care nurse at Seattle Children's Hospital, committed suicide in April 2012, seven months after accidentally overdosing a fragile baby. Photo credit: Lyn Hiatt
Kimberly Hiatt, a longtime critical care nurse at Seattle Children's Hospital, committed suicide in April 2012, seven months after accidentally overdosing a fragile baby. Photo credit: Lyn Hiatt


Kelelahan juga bisa menyebabkan tenaga kesehatan melakukan kesalahan yang tidak diinginkan dan tidak disengaja.

Pada September 2011, seorang perawat terdaftar Kimberly Hiatt menyadari ia memberikan dosis obat terlalu tinggi untuk seorang bayi, dengan dosis kalsium klorida 10 kali lebih tinggi di Cardiac Intensive Care Unit pada Seattle Children’s Hospital.

Ia kemudian melaporkan kesalahannya dan sepanjang karirnya selama 24 tahun, ini merupakan satu-satunya kesalahan serius yang pernah ia lakukan. Meskipun demikian, Kaia Zautner yang saat itu berusia 8 bulan kemudian meninggal dan Hiatt diberikan hukuman cuti administratif – sebelum akhirnya dipecat.

Hiatt kemudian melalui masa penyelidikan yang melelahkan. Kepada komisi keperawatan negara, ia setuju untuk membayar denda, mendapat masa percobaan empat tahun dan mengikuti supervisi pengobatan untuk kembali melayani sesuai dengan profesinya. Ia juga mahir dalam perawatan tingkat lanjut dan memenuhi kualifikasi sebagai perawat pesawat.

Ia mendapat banyak sekali tawaran pekerjaan. Meskipun demikian, saat mengetahui riwayat pekerjaannya, ia kemudian ditolak. Depresi dan isolasi terjadi – kemudian ia bunuh diri pada 3 April 2012.

Huatt merupakan "korban kedua" kesalahan medis – seseorang yang hidup dengan akibat dari kesalahan. Korban pertama adalah pasien yang langsung menderita karena kesalahan yang terjadi.

"Korban kedua" – Pengaturan umum dalam dunia kesehatan 

Dr J. Ravichandran presenting his lecture on “The Second Victim”, about the psychosocial effects of peers who have gone through disciplinary action.
Dr J. Ravichandran presenting his lecture on “The Second Victim”, about the psychosocial effects of peers who have gone through disciplinary action.


"Korban kedua" merupakan frase yang disebutkan satu dekade silam oleh Dr Albert Wu, seorang profesor kebijakan kesehatan dan manajemen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg.

Kondisi ini menggaris bawahi realitas bahwa tenaga kesehatan, yang melakukan kesalahan, seringkali harus terus bekerja. Banyak yang merasa trauma, dengan reaksi berbeda seperti rasa gelisah dan gangguan tidur karena terus mempertanyakan kemampuan profesional mereka, yang kemudian menyebabkan bunuh diri.

"Dilaporkan bahwa 10-40% tenaga kesehatan korban kedua terus merasa trauma dan mengalami penderitaan psikofisik, bahkan dalam waktu lama setelah kejadian tersebut," catat Dr J Ravichandran, mantan Presiden Obstetrics and Gynaecology Society of Malaysia (OGSM) 2016/2017 saat menjadi pembicara di Kongres OGSM ke-25, di Kuala Lumpur.

"Bahkan meskipun hanya kesalahan kecil, saat outcome-nya masih bisa diterima... tetap ada masalah pada kepercayaan diri, kepuasan bekerja dan kemampuan untuk lanjut bekerja hingga tingkatan tersebut," tambahnya.

Komunitas obstetrik dan ginekologi memiliki jumlah masalah mediko-legal tertinggi. Dengan demikian, Dr Ravichandran meminta tenaga kesehatan untuk memberikan dukungan ke korban kedua.

"Kita juga manusia; dokter bukan Tuhan," ungkapnya.

"Keinginan untuk terus bergerak merupakan keinginan yang alami dan muncul bersamaan dengan tujuan dan kebanggaan hidup," jelas Dr Baruch, "Tetapi, kematian Kevin mengajarkan saya bahwa semuanya pasti ada akibatnya."

Pemahaman bahwa kemuliaan dari sikap "inilah yang kita lakukan" seringkali digunakan sebagai alasan – membiarkan keberagaman pengaruh psikososial yang dirasakan tenaga kesehatan. "Jika kita terlalu longgar, semuanya akan mengalami kehancuran," sebut Dr Clarke. MIMS

Bacaan lain:
Seri kesalahan dan kekerasan di tempat kerja yang menyebabkan dokter kehilangan nyawa
Dokter: Apakah kualitas konsultasi tergantung pada lamanya waktu?
Dokter: Bagaimana Anda dapat membicarakan mengenai kematian ke pasien

Sumber:
http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/doctors-here-save-lives-not-10953168
http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/doctor-haunted-face-man-who-10880039
http://www.nbcnews.com/id/43529641/ns/health-health_care/t/nurses-suicide-highlights-twin-tragedies-medical-errors/#.WY1bJ1UjGUk
https://www.statnews.com/2017/08/02/emergency-medicine-trauma-doctors/