Indonesia, dengan populasi sekitar 250 juta penduduk membutuhkan sekitar 190 juta ton makanan tiap tahun. Namun sebanyak 13 juta metrik ton makanan malah terbuang dengan percuma. Jumlah tersebut seharusnya bisa memenuhi hampir 11% penduduk Indonesia, atau sekitar 28 juta penduduk miskin setiap tahunnya. Hal ini disampaikan oleh Kepala Perwakilan FAO (Food and Agriculture Organization) untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders.

Hal serupa juga dijabarkan pada hasil studi dari Economist Intelligence Unit (EIU) dan Barilla Center for Food and Nutrition (BCFN). Data studi diperoleh dari beberapa lembaga global pada tahun 2016. Antara lain FAO, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), International Monetary Fund (IMF), Organization for Economic Cooperation & Development (OECD), dan hasil Economist Intelligence Unit (EIU) dan Barilla Center for Food and Nutrition (BCFN).

Dari 25 negara anggota G20 ditambah Nigeria, Ethiopia, Kolombia, Israel, dan Uni Emirat Arab yang dinilai, Indonesia merupakan Negara pembuang makanan terbesar kedua setelah Arab Saudi. Rata-rata tiap orang di Indonesia membuang makanan hingga 300 kg per tahun.

Produksi dan konsumsi pangan secara intensif memang telah meningkatkan ketersediaan pangan, namun di sisi lain membawa dampak negatif terhadap lingkungan hidup seperti degradasi lahan, perubahan iklim, kelangkaan air dan epidemi obesitas.

Hubungan antara limbah makanan dan kesehatan masyarakat

Masalah pemborosan pangan yang dialami oleh negara dengan berbagai kondisi ekonomi tentu berbeda satu sama lain. Di negara-negara berkembang, sebagian besar limbah makanan berdampak pada infrastruktur, sedangkan di negara maju, limbah makanan sebagian besar berdampak pada reaksi konsumen.

Di Afrika Sub-Sahara misalnya, 150kg/tahun per kapita makanan hilang pada proses produksi hingga penjualan di tingkat pengecer, karena teknologi produksi pangan yang buruk. Negara-negara di wilayah ini memiliki angka kurang gizi dan anak-anak dengan berat badan sedang atau sangat kurus di bawah usia lima tahun paling tinggi.

Sebaliknya, sikap sosial terhadap makanan di negara maju adalah bersifat sekali pakai, berlimpah dan bernilai rendah. Bagi mereka, makanan yang dijual di supermarket harus menarik dan sesuai dengan spesifikasi ukuran, bentuk dan warna tertentu, jika tidak, maka akan dibuang. Menu makanan yang kaya akan daging dan makanan olahan di daerah seperti itu menunjukkan tingkat penyakit kardiovaskular, obesitas, diabetes dan kanker yang tinggi.

Meningkatnya produksi pangan juga menyebabkan kebutuhan petani terhadap pestisida, herbisida, antibiotik dan pupuk kimia yang merupakan faktor penyebab terjadinya kanker dan resistensi antibiotik.

Pemborosan makanan juga berdampak negatif pada lingkungan hidup

Emissions of methane from livestock are one of the biggest contributors to greenhouse gases.
Emissions of methane from livestock are one of the biggest contributors to greenhouse gases.

Emisi metana dari peternakan merupakan salah satu penyumbang gas rumah kaca terbesar. Hewan seperti sapi dan domba, serta pembusukan sampah organik di tempat pembuangan, menyumbang dua pertiga metana yang dihasilkan. "Karena menu makanan kita mengandung banyak daging dan susu, maka dampak iklim tersembunyi dari menu makanan kita cenderung meningkat," kata profesor Dave Reay dari Universitas Edinburgh.

Metana dalam jumlah berlebih bisa sangat berbahaya bagi lingkungan hidup, terutama kesehatan manusia. Dikenal sebagai "asphyxiate sederhana", metana menggantikan oksigen dalam ruang kecil tertutup. Oksigen minimum yang dibutuhkan untuk bernapas adalah 18%, namun bila lebih rendah dari 10% dapat berakibat fatal.

Bila tercampur dengan zat lain, metana juga berpotensi beracun. Bila gas alam, yang mengandung 97% metana, dibakar tanpa pengaturan ventilasi yang tepat, karbon monoksida yang dihasilkannya bisa menyebabkan kematian dalam waktu dua jam. Pada kadar yang tinggi bisa membunuh hanya dalam waktu tiga menit. Dilaporkan 500 orang meninggal karena keracunan karbon monoksida setiap tahunnya di Amerika.

Salah satu cara agar produksi metana dapat diminimalisir adalah dengan menambahkan rumput laut ke dalam pakan ternak. Pada tahun 2015, tim peneliti Australia menemukan bahwa jenis rumput laut tertentu, yang disebut Asparagopsis taxiformis, mengurangi produksi metana lebih dari 99%.

Menu makanan vegetarian yang mengurangi konsumsi daging berdampak pada menurunnya emisi metana. Disamping mengurangi konsumsi daging sesuai pedoman kesehatan internasional dapat mengurangi emisi hingga sepertiga-nya pada tahun 2050, penerapan menu makanan sehat ala vegetarian secara luas akan menurunkan emisi sebesar 63%.

Strategi yang lebih baik untuk menciptakan kesadaran, mengurangi limbah makanan

Sebagai permulaan, para peneliti dapat menggabungkan dan memeriksa berbagai rekomendasi yang berbeda untuk menu makanan  sehat dan menentukannya secara berkelanjutan. Hal ini juga penting untuk meningkatkan pemahaman mengenai nilai makanan melalui keseluruhan proses, mulai dari pencarian sumber, perdagangan, pengemasan, produksi, distribusi hingga konsumsi makanan, serta mengidentifikasi masalah dalam proses ini dan mengatasinya. Teknologi juga dapat membantu dalam menciptakan sistem siklus pembuangan makanan di kota untuk meningkatkan efisiensi. MIMS

Bacaan lain:
Makanan adalah obat: Apakah nutrisi saja cukup untuk menyembuhkan penyakit?
Orthorexia nervosa: Apakah Anda terobsesi dengan makanan sehat?
Susu kecoa - Makanan sehat terbaru

Sumber:
https://beritagar.id/artikel/berita/indonesia-negara- pembuang-makanan- terbanyak-kedua
https://dailyplanet.climate-kic.org/understanding-urban-consumption-will-critical-transforming-food-systems/ 
http://www.straitstimes.com/singapore/200m-worth-of-food-and-beverage-waste-discarded-by-singapore-households-yearly-survey 
https://www.japantimes.co.jp/news/2017/09/29/world/science-health-world/study-scientists-finds-amount-methane-gas-produced-worlds-livestock-underestimated/#.WeVhI1uCyUk 
http://blogs.plos.org/publichealth/2013/01/15/food-waste/ 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19965345 
http://www.ibtimes.com/livestock-methane-emission-more-estimated-how-curb-it-2596620 
https://www.livestrong.com/article/120550-dangers-methane-gas/