Di tahun 1980an, beberapa penelitian klinis menunjukkan bahwa ada sedikit manfaat, tetapi signifikan, dengan "memblok" efek adrenalin, yang bisa menginduksi kerusakan letal ritme fibrilasi ventrikular jantung.

Sejak saat itu, ada pengertian bahwa peresepan rutin jangka panjang dari beta-bloker setelah serangan jantung atau bypass harus diberikan atau tidak.

Meskipun demikian, penelitian terbaru dari Universitas Leeds merekomendasikan bahwa banyak pasien yang diberikan beta bloker setelah serangan jantung tidak mendapat manfaat dari obat sama sekali.

Menyelesaikan masalah peresepan beta-bloker

Selama beberapa dekade, direkomendasikan bahwa penderita serangan jantung harus diberikan beta bloker untuk menurunkan aktivitas jantung dan menurunkan tekanan darah.

Obat ini penting bagi pasien yang mengalami serangan jantung dengan gagal jantung, karena otot jantung sudah mengalami kerusakan dan tidak bekerja dengan benar. Beta bloker membantu jantung bisa bekerja lebih efektif.

Meskipun demikian, 95% pasien serangan jantung yang tidak mengalami gagal jantung juga mendapat obat beta bloker dan obat ini ditemukan tidak membantu mereka bisa berumur lebih panjang.

Tidak semua serangan jantung berakhir dengan gagal jantung, dengan demikian penelitian ini dilakukan dengan fokus pada pasien yang tidak menderita komplikasi.

Tidak ada perbedaan statistik antara tingkat kematian dari dua kelompok

Tim ini menganalisis data anonim dari daftar serangan jantung nasional Inggris dan menemukan 179.810 pasien yang dirawat akibat serangan jantung dalam periode tahun 2007 dan 2013, tetapi tidak mengalami gangguan jantung.

Kesempatan hidup satu tahun kemudian dengan menggunakan beta bloker diperhatikan.

Tidak ada perbedaan statistik pada angka kematian dalam waktu satu tahun pasien mengalami serangan jantung antara pasien yang diresepkan beta bloker dan pasien yang tidak.

"Jika Anda memperhatikan pasien yang mengalami serangan jantung tetapi bukan gagal jantung, tidak ada perbedaan angka kesembuhan antara pasien yang diresepkan beta bloker dan pasien yang tidak," kata Dr Marlous Hall, kepala investigator dan senior epidemiologi di Institut Leeds Pengobatan Kardiovaskular dan Metabolik.

Hal ini menunjukkan bahwa obat - yang mempunyai potensi efek samping, seperti pusing dan kelelahan - terlalu banyak diresepkan dan membebani pasien.

Efek psikologis beta bloker bisa jadi fatal

Efek psikologis beta bloker sudah banyak tercatat dan termasuk efek samping depresi yang banyak dialami pasien, setelah operasi jantung.

"Saya merasa seperti mayat hidup," tulis seorang pria yang berusia enam puluh tahun, yang "kehilangan" kehidupan sosialnya. Hal ini bisa menyebabkan beberapa kondisi jantung, seperti angina dan "kematian tiba-tiba".

"Penelitian ini menunjukkan bahwa kemungkinan tidak ada untungnya mendapat resep beta bloker," kata Chris Gale, Profesor Pengobatan Kardiovaskular di Universitas Leeds dan Konsultan Kardiologi di Rumah Sakit Pendidikan York.

Meskipun demikian, peneliti setuju bahwa penelitian pasien dibutuhkan untuk mendukung penemuan dan memeriksa masalah lain seperti apakah beta bloker bisa mencegah serangan jantung di masa depan, untuk membantu "mempersonalisasikan" obat setelah serangan jantung.

Penelitian ini dibiayai oleh Yayasan Jantung Inggris. MIMS

Bacaan lain:
Golongan darah non-O memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan
Mahalnya biaya kesehatan akibat ketidakpatuhan terhadap obat resep
Gangguan jantung merupakan penyebab satu per tiga kematian di dunia

Sumber:
https://www.theguardian.com/society/2017/may/29/beta-blockers-may-not-help-many-heart-attack-victims-research-claims
http://www.telegraph.co.uk/wellbeing/doctors-diary/doctors-diary-beta-blockers-may-do-harm-good/
http://www.telegraph.co.uk/news/2017/05/29/thousands-heart-attack-victims-may-needless-drugs/
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/05/170529142105.htm