Bagi apoteker yang lebih sering meracik obat generik, seringkali mereka harus menghadapi pertanyaan mengenai perubahan bentuk dan warna obat. Seiring dengan kemajuan zaman, obat generik disebut-sebut memiliki kandungan zat aktif yang sama dengan formulasi inovator. Dengan demikian, ketika obat generik mulai masuk ke pasaran, apoteker bisa mengasumsikan bahwa secara umum, tidak ada perbedaan antara obat generik dan obat merk dalam hal efikasi dan keamanannya. Meskipun demikian, penelitian terbaru memiliki keragu-raguan dalam hal persamaan antara obat generik dan obat merk.

Paten obat memengaruhi bentuk akhir obat generik

Sekarang ini, keputusan nasional dan internasional mengenai obat generik hanya menyebutkan bahwa senyawa akhir dan kecepatan serta lama aborspsinya harus mirip dengan aslinya, obat merk.1,2 Dengan demikian, produsen diberikan fleksibilitas untuk memutuskan bentuk fisik produk mereka.

Meskipun demikian, industri farmasetikal seringkali memegang paten akan obat yang sama, seperti senyawa aktif, proses pengembangan, dan formulasi spesifik yang mengganggu profil farmakokinetik, dan paten ini biasanya tidak kadaluwarsa di waktu yang sama. Karena regulasi yang berbelit-belit untuk paten obat, sulit bagi industri obat generik untuk mengimpor formulasi obat asli, termasuk bentuk dan warna, menjadi versi aslinya tanpa modifikasi.

Bentuk dan ukuran pil memengaruhi ketekunan pasien

Penelitian yang dipimpin oleh Dr Aaron Kesselheim memutuskan untuk mengetahui efek bentuk dan ukuran pil pada ketekunan pasien dalam menggunakan obat. Ketekunan pasien, dalam kasus ini, didefinisikan sebagai waktu dari inisiasi hingga akhir terapi. Mereka menemukan bahwa pasien yang menerima pil dalam berbagai bentuk dan ukuran cenderung memiliki rentang waktu tertentu dalam regimen terapi mereka.3

Penelitian lain yang dipublikasikan di PLoS One mendukung penemuan di atas, menyimpulkan bahwa "pasien yang pertama kali mengubah obat spesifiknya memiliki risiko lebih tinggi tidak patuh dibandingkan pasien yang tidak pernah mengubah obatnya dan pasien yang pernah mengubah generiknya".4

Efek ketekunan pasien terhadap outcome masih belum jelas

Meskipun penelitian mungkin telah banyak dilakukan di seluruh dunia, dokter dan apoteker seharusnya tidak menyimpulkan bahwa mengubah obat menjadi obat generik bisa menurunkan efikasi terapi. Dr Kesselheim dan timnya tidak melingkupi outcome klinis sebagai bagian dari penilaian mereka.

Dengan kata lain, tidak diketahui apakah pasien yang tidak tekun dalam menggunakan obat akan memiliki outcome klinis yang lebih buruk dibanding kelompok kontrol yang ditunjuk oleh tim. Jelas bagi apoteker untuk mempertimbangkan potensi risiko ketidaktekunan dan membandingkannya dengan pengaruh klinis yang sebenarnya pada pasien sebelum memutuskan meresepkan obat generik atau obat merk.

Apoteker harus menjelaskan mengenai perbedaan obat ke pasien

Biasanya, pasien merasa bingung akan perubahan bentuk fisik obat mereka. Konsep obat generik "senyawa aktif identik tetapi dengan bentuk berbeda" tidak banyak dipahami di lingkungan sosial, dan terutama bagi pasien lansia. Obat generik memainkan peran penting dalam menurunkan biaya terapi. Waktu dan usaha tambahan untuk menjelaskan kemiripan dan perbedaannya, sebagai keuntungan dari obat generik yang lebih murah merupakan kewajiban bagi apoteker sebagai bagian dari konsultasi pasien.

Secara keseluruhan, meskipun penting untuk mencaritahu pengaruh pergantian obat menjadi obat generik dan sikap konsumsi obat pada pasien, akan sangat bijaksana bagi apoteker untuk melihat keseluruhan gambaran sebelum memutuskan apakah pergantian obat memang benar-benar berguna. MIMS

Bacaan lain:
Waktu minum obat: Masalahnya
Menghadapi krisis penggunaan obat
Efek samping penelitian klinis biasanya tidak dilaporkan di jurnal
Mengapa aspirin bekerja? Evaluasi genetik sebagai cara baru evaluasi obat