Di penghujung bulan kesadaran kanker payudara, sebuah penelitian mengenai mammogram membentuk diskusi mengenai apakah skrining kanker payudara bisa menyebabkan berlebihannya diagnosis kanker dan memicu terjadinya terapi yang tidak perlu.

Peneliti mengumpulkan data dari Institut Kanker Nasional AS dari tahun 1975 hingga 2012, dan menemukan bahwa mammogram benar-benar bisa menyebabkan berlebihannya diagnosis kanker payudara, bukannya mendeteksi tumor kecil lebih awal, sebelum tumor menunjukkan gejala.

Beberapa kanker tumbuh dan tidak terdeteksi lebih awal

Ketidak-patuhan terhadap rekomendasi skrining mammogram satu kali dalam dua tahun mungkin sebenarnya sikap yang baik, karena "Mammografi bisa membantu sangat sedikit orang, tetapi dibutuhkan harga kehidupan manusia, termasuk membuat seseorang mendapat terapi yang tidak perlu," ungkap salah satu kepala penelitian, Dr. H. Gilbert Welch dari Institut Dartmouth untuk Divisi Kebijakan Kesehatan.

Setelah aktris Angelina Jolie menyatakan di tahun 2013 bahwa ia memiliki mutasi genetik yang membuatnya berisiko menderita kanker payudara dan ovarium, ditemukan bahwa sekitar 80 dan 100 wanita di Singapura diminta untuk melakukan tes pemeriksaan setiap tahunnya. Dimana "hanya lima dari 10 wanita di sini akan melakukan tes ini setiap hari," ungkap Dr Lee Soo Chin, seorang peneliti onkologi senior di Institut Kanker Universitas Nasional, Singapura.

Menurut Data Kanker Singapura lebih dari 9.000 kasus baru kanker payudara didiagnosis antara tahun 2010 dan 2014 sehingga jenis kanker ini menjadi lebih umum pada warga wanita di Singapura. Selain jumlah insiden yang tinggi, hanya kurang dari 40% wanita usia lanjut di Singapura melakukan skrining kanker payudara dalam dua tahun terakhir, menurut Badan Promosi Kesehatan.

Mammogram bisa memicu outcome yang buruk

Penelitian Dartmouth juga menemukan bahwa nilai mammogram sebagai penyelamat terlalu dilebih-lebihkan. Selain itu, penggunaan terapi yang lebih efektif seharusnya mendapat perhatian lebih karena berhasil meningkatkan angka keselamatan pasien kanker payudara, simpul peneliti.

Karena teknologi skrining kesehatan sekarang masih tidak bisa membedakan kanker mana yang cenderung akan menjadi letal dan mana yang bisa hilang dengan sendirinya, sehingga semua kanker payudara yang terdeteksi akan mengarahkan kepada pemberian terapi.

Dengan demikian berarti akan ada semakin banyak prosedur yang tidak perlu seperti biopsy invasif, mastectomy, radiasi, dan kemoterapi dalam kasus ekstrem pada wanita yang sebenarnya masuk dalam kategori sehat.

Angka kematian menurun tidak sepenuhnya disebabkan skrining

Pertanyaan selanjutnya yang muncul berhubungan dengan penurunan angka kematian disebabkan kanker payudara. Kelompok peneliti yang sama menyimpulkan bahwa hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh banyak faktor seperti peningkatan terapi selain deteksi awal melalui mammogram.

Hasil penelitian ini semakin memperpanas perdebatan mengenai seberapa sering dan kelompok wanita mana yang perlu melakukan pemeriksaan mammogram, kontroversi yang menarik perhatian bukan hanya para profesional dalam organisasi, dan tenaga kesehatan, tetapi juga termasuk pasien wanita mereka.

American Cancer Society memperingati penelitian "harus dikaji secara hati-hati"

Laporan ini merupakan penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa skrining teratur penting untuk menjaga kesehatan wanita. Namun dalam dua tahun terakhir, penelitian pada pasien kanker payudara di Norwegia menemukan bahwa mammogram rutin menurunkan risiko mati karena kanker payudara hingga kurang dari 10% sedangkan penelitian lain menemukan tidak ada efek skring pada angka kematian di negara Eropa dimana skrining menjadi lebih sering dilakukan pada tahun 1990an dan semakin banyak di tahun 2000an.

Archie Bleyer, seorang profesor di Institut Kanker Knight di Universitas Kesehatan dan Sains Oregon yang merupakan penulis penelitian lain, mengatakan ia tidak menyarankan wanita berhenti melakukan pemeriksaan mammogram. "Pasti ada wanita yang mendapat manfaat dari melakukan hal ini," ungkapnya.

Pesan hasil penelitian ini kepada wanita adalah mengenai bagaimana mammogram harus ditempatkan. Para wanita di usia 40 tahunan yang merasa nyaman melakukan pemeriksaan mammogram setiap tahun sebaiknya disarankan untuk tidak melakukan hal demikian, Tetapi, para wanita yang tidak menyukai pemeriksaan tersebut atau merasa tidak mau melakukan prosedur, jangan ditakut-takuti mengenai risiko gangguan kesehatan mereka. MIMS

Bacaan lain:

Mengapa kanker lebih banyak muncul di payudara daripada di jantung?
Cryotherapy: Membekukan kanker payudara
Budaya memengaruhi para wanita dalam mencari bantuan medis untuk penyakit kanker

Sumber:
http://www.straitstimes.com/singapore/jolie-effect-more-in-singapore-doing-gene-test-for-cancer
http://www.latimes.com/science/sciencenow/la-sci-sn-breast-cancer-screening-mammograms-20161012-snap-story.html
http://www.channelnewsasia.com/news/singapore/less-than-40-of-older-women-get-breast-cancer-screening/3159456.html 
http://naturalsciencenews.com/2016/10/13/researchers-caution-that-mammograms-sometimes-do-more-harm-than-good/