Media sosial merupakan media dengan pengguna dan jumlah akses terbanyak di dunia. Kemajuan dalam dunia teknologi ini juga sangat memengaruhi dunia kesehatan sekarang ini.

Ada yang menggunakan media sosial sebagai wadah untuk berkeluh-kesah. Begitu pula dengan tenaga kesehatan, yang bisa menggunakan media sosial sebagai sarana mengedukasi pasien dan/atau menciptakan hubungan yang baik antara dokter dan pasien.

Apapun profesinya, seorang tenaga kesehatan harus menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Jangan sampai konten yang dibagikan membuat Anda kehilangan profesionalitas dan pekerjaan mulia Anda. Untuk itu, MIMS mengadakan diskusi dengan seorang dokter umum generasi milenial – dr. Wisniaty – untuk meminta pendapatnya mengenai tren kesehatan ini.

Poin penting yang perlu diperhatikan dokter zaman ‘now’

Dalam Pasal 16 Kode Etik Kedokteran Indonesia, disebutkan bahwa: "Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia."

Meskipun belum mengucapkan sumpah kedokteran, namun kode etik ini juga harus diperhatikan oleh para mahasiswa kedokteran – terutama dokter koasistensi.

Namun bukan berarti para dokter dan calon dokter generasi milenial ini tidak boleh membagikan foto sama sekali. "Menurut saya tergantung konteks yang diunggah ke media sosial itu sendiri, jika berkonten negatif atau menjurus ke pelanggaran privasi jelas tidak dapat diterima, sedangkan jika kontennya bertujuan untuk membuka wawasan baru atau membagi kisah inspiratif, tidaklah masalah (asalkan seizin pasien dan tidak membeberkan identitas pasien)," tutur dr. Wisniaty, seorang dokter umum yang terlahir sebagai seorang generasi milenial.

"Penting bagi dokter untuk meminta izin pasien dan/atau keluarga pasien (terutama jika pasien tidak sadarkan diri). Selain itu, foto dan/atau video yang ingin dibagikan harus menutup muka pasien atau hanya diambil pada bagian tertentu. Misalnya jika seorang pasien menunjukkan gejala khas penyakit, sebaiknya dokter hanya mengambil foto bagian tersebut – ditambahkan dengan beberapa informasi saintifik untuk menambah wawasan kepada pembaca," tambah dr. Wisniaty.

Dr. Wisniaty juga menyarankan untuk menghindari membagikan foto atau video kegiatan di tempat rehabilitasi pasien-pasien kejiwaan. Alasannya adalah untuk menghindari stigma dari publik – terutama jika wajah pasien dan/atau keluarga terlihat dalam foto atau video.

Potensi kebocoran informasi kesehatan pasien

Mengingat banyaknya pengguna media sosial – termasuk di antara mahasiswa kedokteran, mahasiswa koasistensi, dokter dan dosen fakultas kedokteran – menciptakan potensi pemanfaatan media sosial untuk satu tujuan lain, yaitu sarana edukasi dan bertukar pikiran antar dokter.

Penyelidikan yang dilakukan oleh tim Imperial College London menemukan bahwa banyak dokter dan perawat menggunakan aplikasi, messenger dan surat bergambar untuk membagikan informasi klinis mengenai pasien mereka – beberapa dari mereka bahkan lupa untuk menghapus detail mengenai pasien setelahnya.

Dalam jurnal BMJ Innovations, peneliti menyatakan bahwa "Rendahnya teknologi enskripsi data dan modul penting menyebabkan penyebaran informasi pasien sekarang menjadi tidak aman dan bisa menyebabkan tersebarnya data yang sangat sensitif dan rahasia, terutama jika telepon genggam yang digunakan hilang, dicuri atau dilihat oleh pengguna lain."

Dari 287 dokter di lima rumah sakit di London, 65% dokter mengaku mengirimkan informasi mengenai pasien kepada sejawat lain, dan 46% lainnya mengaku pernah mengirim foto pasien – foto luka atau hasil X-ray untuk meminta pendapat sejawat lain.

Begitu pula di Indonesia, dalam beberapa grup tenaga kesehatan di Facebook, sangat mudah untuk menemukan foto yang mengandung informasi rahasia pasien, misalnya foto resep pasien (tanpa blur) yang berpotensi membuka kerahasiaan pasien kepada sejawat lain, dan bahkan orang luar.

Hasil ini menunjukkan bahwa organisasi kesehatan harus mengembangkan kebijakan pendukung yang mengatur penggunaan teknologi digital di tempat kerja. MIMS

Bacaan lain:

Facebook dan pemahaman publik
Tidak berbicara terlalu "seperti dokter" saat berkomunikasi dengan pasien
Dokter: Apakah kualitas konsultasi tergantung pada lamanya waktu?

Sumber:
http://www.dailymail.co.uk/health/article-3264632/Is-doctor-sharing-medical-details-WhatsApp-Majority-medics-send-texts-pictures-patient-information-lead-data-leaks.html