Kebanyakan dokter tidak mengetahui harga tes kesehatan, obat atau pemeriksaan yang mereka resepkan untuk pasien. Jika mereka mengetahuinya, akankah ada perbedaan keputusan?

Secara logis, pernyataan ini masuk akal secara teoritis; tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa informasi harga tidak memengaruhi sikap dokter dalam praktek medis.

Meliputi hampir 100.000 pasien - lebih dari 140.000 rujukan ke rumah sakit dan distribusi acak pemeriksaan laboratorium - penelitian menemukan bahwa dokter sama sekali tidak memperhitungkan biaya kesehatan. Beberapa dokter bahkan menambah jumlah tes kesehatan setelah biaya diinformasikan, menurut penelitian terpisah.

Selama proses permintaan elektronik, setengah pengujian dilakukan pada dokter dengan memaparkan biaya dan setengahnya lagi tanpa data biaya.

Peneliti menduga bahwa dalam kelompok yang melihat harga, akan ada penurunan signifikan jumlah pengujian per pasien - dan kemudian, menurunkan pengeluaran untuk tes.

Selain itu, selama satu tahun, tidak ada perubahan berarti atau konsisten dalam perintah tes kesehatan yang diberikan dokter.

Perbedaan dalam fasilitas kesehatan primer oleh dokter umum dan spesialis

Ini bukan penelitian pertama yang membuktikan bahwa dokter tidak memberikan sikap berbeda dengan mengetahui atau tidak mengetahui harga. Di awal tahun ini, penelitian acak terkontrol serupa pada dokter anak dilakukan.

Dokter diacak dan dibagi ke dalam tiga kelompok dimana kelompok pertama diberikan nilai tengah harga tes kesehatan, kelompok kedua diberikan dua harga tes kesehatan - informasi harga dari sistem kesehatan sekarang dan harga terakhir. Kelompok ketiga tidak diberikan daftar harga sama sekali. Kemudian lagi, tidak ada efek yang ditemukan. Dokter pasien dewasa malah memerintahkan pasien melakukan lebih banyak tes kesehatan saat mereka melihat harga.

Tahun lalu, survey yang dilakukan oleh CMI/Compas, firma penelitian pasar, memeriksa lebih dari 800 dokter, dan menemukan bahwa dokter spesialis lebih tidak memperhatikan harga. Hanya dokter umum yang menyebutkan biaya merupakan salah satu hal yang paling dipertimbangkan; tetapi hanya 47% dari dokter ini yang menilai masalah ini sebagai masalah penting.

Dokter onkologi, kardiologi, neurologi, dermatologi dan pulmonologi semuanya menilai keamanan obat lebih penting daripada biaya kesehatan.

Tipe pasien juga memberikan efek berbeda

Perbedaannya bisa dijelaskan.

"Kemungkinan karena sifat alami dokter umum dan apa yang melatarbelakanginya," ungkap pembicara firma penelitian. "Bayangkan Anda seorang dokter umum yang perlu mengikuti semua alur pembentukan diagnosis dan penyembuhan. Anda memiliki seorang pasien yang mengeluhkan mengenai masalah lambung persisten. Mungkinkah hal ini terjadi karena alergi makanan, konstipasi, atau Crohn's disease? Kemungkinan Anda akan mulai meresepkan obat berbiaya lebih rendah untuk penyakit yang lebih menyerupai," jelasnya.

Tekanan dari pasien mengenai harga juga sangat memengaruhi, dibandingkan pasien penyakit kronis atau penyakit mengancam jiwa, tambah pembicara.

Sejumlah spekulasi dinyatakan; meskipun demikian, temuan utama dari penelitian ini adalah dokter cenderung akan mengubah pilihan terapi mereka jika pasien membicarakan mengenai kemampuan mereka saat mengkaji pilihan terapi yang ada.

Faktor lain yang memengaruhi keputusan dokter

Sejumlah faktor lain mungkin bisa digunakan untuk menjelaskan paradoks seperti mengikuti literatur penelitian, mengikuti konferensi, mengikuti berita medis dan mengikuti perkembangan penelitian klinis. Dokter-dokter ini mungkin tergoda mencoba obat atau alat baru yang biasanya lebih mahal.

Di tahun 2007, kajian sistematik menunjukkan bahwa dokter juga cenderung tidak peduli dengan biaya obat resep - mengabaikan harga obat mahal, melebih-lebihan harga obat yang tidak mahal dan tidak memahami perbedaan harga antara obat murah dan mahal.

Hubungan dengan penjual obat juga merupakan faktor lain. Penelitian di bulan lalu menunjukkan bahwa dokter cenderung jarang meresepkan obat merk, yang cenderung lebih mahal, dan menggunakan lebih banyak versi generik meskipun saat rumah sakit sangat dekat dengan penjual obat.

Ahli menunjukkan bahwa dokter harus lebih diedukasi untuk memberikan "perawatan berkualitan tinggi, tidak membuat pasien khawatir akan harga dan melakukannya dengan metode yang lebih holistik. Menggarisbawahi satu data yang cenderung tidak akan mendukung pekerjaannya, karena transmisi pengetahuan harus diikuti dengan "praktek refleksi dan lingkungan yang mendukung". Penting untuk memahami mengapa dokter meminta tes ini, namun faktor biaya juga harus ikut diperhatikan.

Nilai sebagaimana didefinisikan sebagai kualitas dan pengaruh relatif dari biaya juga harus difokuskan - sehingga akan membuat adanya perbedaan, baik bagi dokter dan pasien. MIMS

Bacaan lain:
Bisakah AI mengubah harga obat dan mensuplai obat untuk generasi selanjutnya?
Obat baru ditemukan efektif menurunkan nilai LDL, tetapi harga obat masih perlu dipertanyakan
Produsen obat ditekan untuk menurunkan harga obat

Sumber:
https://www.nytimes.com/2017/06/12/upshot/theres-no-magical-savings-in-showing-prices-to-doctors.html?_r=0
https://www.statnews.com/pharmalot/2016/11/15/doctors-cost-treatments/
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/05/02/526558565/doctors-prescribe-more-generics-when-drug-reps-are-kept-at-bay
http://theconversation.com/how-much-seeing-private-specialists-often-costs-more-than-you-bargained-for-53445