Kebanyakan orang tidak berpikir bahwa dokter – atau tenaga kesehatan lain – rentan mengalami sakit dan kematian. Secara umum, mereka adalah orang yang kita kunjungi saat merasa sakit, tidak bisa bergerak, atau sekarat. Namun, bukan ini masalahnya. Dokter juga manusia biasa, dan mungkin menghadapi kematian, seperti manusia lainnya.

Di tahun 2011, Dr. Ken Murray menulis How Doctors Die. Ini merupakan tulisan yang menarik (dan viral) yang menjelaskan bagaimana dokter memandang perawatan di akhir kehidupan. Ia menulis: "Tentu saja, dokter tidak mau mati; mereka ingin tetap hidup. Tetapi mereka mengetahui pengobatan modern juga ada batasnya."

Ini merupakan batasan yang ia gunakan untuk menjelaskan istilah "perawatan sia-sia" yang merupakan usaha terakhir untuk memperpanjang kehidupan. Di sini, dokter menggunakan teknologi terbaru apapun dan menggunakannya pada pasien. Ia menjelaskan: "Tubuh pasien akan dibuka, diperforasi dengan selang-selang, diikat ke mesin, dan dipaparkan banyak obat."

Terkadang metode ini berguna, tetapi kebanyakan tidak. Dalam periode ini, pasien harus melalui situasi ekstrem yang tidak diinginkan, dan keluarga mereka harus menghabiskan ribuan dollar. Ini bukan kesalahan siapapun, pada umumnya, tulisnya, "kebanyakan merupakan korban sistem rumah sakit yang mendukung pemberian terapi berlebih."

Dokter, ia menulis, seringkali memilih untuk tidak mengikuti sistem ini.

Relawan Murray "Charlie," seorang dokter orthopedi terkenal dan mentor personalnya, misalnya. Charlie, didiagnosis kanker pankreas, diberikan kesempatan untuk melewati prosedur yang bisa memperpanjang hidupnya.

Charlie menolak pilihan prosedur ini dan kemudian pulang ke rumah, menutup prakteknya, dan menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga dan teman. Ia tidak menjalani kemoterapi, pengobatan, dan bahkan operasi minor. Ia kemudian meninggal beberapa bulan kemudian, dalam kedamaian.

Meskipun demikian, lima tahun kemudian dalam penelitian yang dipublikasi di Journal of the American Geriatrics Society, data dari sekitar 200.000 pengguna Medicare diteliti. Mereka tidak menemukan perbedaan signifikan antara jumlah dokter dan non-dokter yang dirawat dalam enam bulan terakhir kehidupan mereka.

Selain itu, 34,6% dokter cenderung akan dirawat di ICU selama setidaknya satu hari dibandingkan 34,4% non-dokter. Data mereka, meskipun tidak signifikan secara statistik, menunjukkan bahwa dokter lebih menghargai perawatan rumah sakit dibandingkan non-dokter.

Hasil ini berkebalikan dengan yang dikatakan oleh survey. Satu dari dokter dan pasien yang diwawancara menyatakan bahwa mereka lebih suka mendapat terapi saat sudah mencapai penyakit terminal. Dalam ukuran yang lebih besar, para dokter mengatakan mereka lebih menyukai sedikit terapi dibandingkan pasien mereka.

Secara keseluruhan, para dokter akan menghadapi kematian disebabkan oleh pengobatan modern.

Disamping itu, tulis Daniel Matlock dari Fakultas Kedokteran Universitas Colorado, keanehan tampaknya ada dari sisi pasien – baik ia merupakan seorang dokter atau bukan. "Hal-hal yang memicu perawatan berkualitas rendah di akhir kehidupan merupakan masalah besar dalam sistem rumah sakit."

Stacy Fischer, seorang dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Colorado, membenarkan hal ini. Ia menyatakan bahwa sistem tenaga kesehatan dibuat untuk menyelesaikan masalah bukan untuk memberikan kenyamanan. Mudahnya, lanjutnya, lebih sulit memberi rujukan perawatan daripada rujukan operasi panggul. MIMS

Bacaan lain:
3 dokter yang keluar dari zona aman untuk membantu yang kesusahan
5 dokter dan mahasiswa kedokteran yang mengubah disabilitas menjadi sebuah kesempatan
Dokter: Apakah kualitas konsultasi tergantung pada lamanya waktu?

Sumber:
https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2016/06/06/how-doctors-really-die/?tid=hybrid_experimentrandom_3_na
http://www.zocalopublicsquare.org/2011/11/30/how-doctors-die/ideas/nexus/