"Saya pernah memasukkan pistol ke mulut saya dan hampir menarik pemicunya, namun tidak jadi saya lakukan karena mengingat anak saya yang akan hidup tanpa orangtua," sebut seorang dokter gawat darurat dalam survey yang dilakukan oleh Dr Louise Andrew dari American College of Emergency Physicians.

"Apakah ada orang yang pernah berpikir akan melaporkan pola pikir ini dan melakukan penelitian di bawah mikroskop? ... Jika saya bekerja sebagai tukang ledeng atau musisi, saya pasti langsung datang ke psikiatrik, mengonsumsi obat, dan melanjutkan kehidupan saya," tambah responden.

"Tetapi kami terbelenggu dengan dua standar yang tidak mungkin terpenuhi."

50% dokter wanita tidak mencari bantuan untuk masalah kesehatan mentalnya

Sekitar 2.000 dokter wanita disurvey dalam penelitian ini, dan setengahnya dipercaya memenuhi kriteria menderita penyakit mental tertentu di sepanjang karirnya, tetapi tidak mencari pertolongan, disebabkan takut melaporkan kondisinya ke badan perizinan medis dan juga karena merasa malu didiagnosis menderita gangguan mental.

"Saya sudah banyak melihat orang-orang yang memiliki stigma tertentu, tetapi saya sangat terkejut jika melihat jumlah sebenarnya," ungkap Katherine Gold, seorang penulis penelitian dan asisten profesor dari dokter keluarga dan obstetrik serta ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Michigan.

Dari mereka yang mendapat diagnosis formal masalah kesehatan mental, hanya 6% yang melaporkan informasi kesehatan mereka ke badan perizinan.

"Semua ketakutan saya muncul saat saya melaporkannya. Saya berada di posisi dimana terdapat peraturan mengenai rencana kesehatan dokter yang sangat ketat dan jelas bahwa saya tidak diperbolehkan mengonsumsi obat untuk mengatasi rasa gelisah dan insomnia," sebut seorang dokter yang ternyata menderita penyakit mental.

"Saya tidak bisa lagi berpraktek karena hal ini."

Dokter wanita menghadapi stres tambahan di tempat kerja karena diskriminasi

Menurut Andrew, insiden stres disebabkan pekerjaan memicu tingginya kemungkinan bagi dokter untuk melakukan aksi bunuh diri.

"Ada informasi dan akses letal yang berarti," tambahnya, "Saat seorang dokter mencapai titik kehancuran tertentu, ia akan merasa lebih mudah untuk mengakhirinya daripada menjalankan hidupnya yang sulit."

Hal ini benar adanya bagi tenaga kesehatan wanita, yang, tidak seperti wanita yang bukan merupakan seorang dokter, melakukan bunuh diri dengan jumlah kasus yang sama dengan para pria.

Selain stres di tempat kerja, kepribadian dokter, seperti perfeksionitas dan altruisme, bisa membuat mereka lebih berisiko menderita penyakit mental tertentu, dan wanita mungkin juga mendapat tekanan tambahan disebabkan diskriminasi jenis kelamin.

"Sudah sejak lama saya berusaha untuk memahami mengapa banyak dokter wanita melakukan bunuh diri dibandingkan para wanita lain atau wanita profesional lain," ungkap Dr Michael F. Myers. seorang profesor dalam psikiatrik klinik di Pusat Medis Downstate SUNY.

"Tetapi kita masih tinggal dimana terdapat ketimpangan seksual terutama dalam pendidikan kedokteran dan praktek medis, meskipun sudah banyak kemajuan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya, menambahkan bahwa ketidaksetaraan mikro bisa menyebabkan para sejawat wanita dikatakan tidak sehat.

Hak bagi seorang dokter, saat mereka menjadi pasien

Meskipun berfokus pada dokter wanita, namun masalah kesehatan mental sama-sama memengaruhi tenaga kesehatan dari semua gender, dan para pria juga kesulitan meminta bantuan medis.

Dr Uma Visvalingam, seorang konsultan psikiatrik di Rumah Sakit Putrajaya, mengatakan ada prasangka tertentu yang muncul pada mereka yang menderita penyakit mental tertentu. Penyebabnya adalah kesalahan pengertian masyarakat.

"Mereka tidak terlalu memahami perbedaan antara penyakit mental dan masalah kesehatan mental. Kedua kondisi ini memiliki pendekatan medis berbeda," tambahnya, menjelaskan bahwa masalah gangguan mental dan penyakit mental merupakan spektrum di tingkat psikiatrik, dan kemungkinan akan bertambah parah jika dibiarkan, sehingga membutuhkan pengobatan dan waktu untuk diterapi.

Meskipun demikian, banyak dokter menganggap ini sebagai hal aneh, karena mereka sendiri adalah seorang tenaga kesehatan, dan mungkin akan menghindari mencari bantuan medis mengingat pandangan sejawat dan masyarakat yang mungkin saja akan menganggapnya tidak kompeten. Deklarasi gangguan mental ke badan medis, juga bisa disebut sebagai pelanggaran privasi.

"Banyak hal yang perlu diperbaiki," tambahnya. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa banyak wanita mulai memasuki dunia medis?
Seri kesalahan dan kekerasan di tempat kerja yang menyebabkan dokter kehilangan nyawa
Menurunkan angka bunuh diri menjadi nol – bisakah dicapai?

Sumber:
http://www.medscape.com/viewarticle/869777
http://careers.bmj.com/careers/advice/view-article.html?id=20015983
http://today.mims.com/topic/malaysia-s-stigma-of-people-with-mental-health-problems--a-pressing-concern 
http://today.mims.com/topic/should-doctors-be-more-transparent-about-their-own-mental-illnesses-?country=Malaysia&channel=GN-Health-Wellness