Dideskripsikan sebagai seorang wanita yang sehat, Charlotte Foster dari Newport di Shropshire di Inggris mengunjungi Dr Sunil Idicula Simon karena keluhan nyeri punggung dan sesak napas, tiga minggu sebelum kematiannya.

Menyatakan bahwa rasa nyeri "berasal dari otot", dokter tidak menemukan gejala trombosis vena dan kemudian menyarankan pasien untuk "dipijat" atau melakukan spa.

Dokter gagal mendeteksi efek samping yang muncul dari penggunaan pil kontrasepsi yang ia resepkan lima bulan lalu. Pasien menggunakan pil untuk kontrol kehamilan dan juga sebagai terapi jerawatnya.

Foster kemudian mengalami henti jantung saat bekerja. Tiga hari kemudian, ia mengalami kerusakan otak dan meninggal di Rumah Sakit Princess Royal.

Pil memiliki risiko pembekuan darah hingga dua kali lipat

Pemeriksaan resmi menemukan bahwa Foster sudah melakukan tes yang menunjukkan bahwa ia sangat berisiko jika diberikan pil tersebut. Kolonel John Ellery menyimpulkan pasien kemungkinan akan selamat jika tidak mengonsumsi pil tersebut - cyproterone - jika terapi tersebut dihentikan saat ia memeriksakan diri ke dokter.

Dalam satu pernyataan, Orangtua Foster, Stephen dan Cecilia mengatakan, "Kami sangat sedih dengan kehilangan yang tiba-tiba dan tidak terduga pada putri, kakak, dan cucu kesayangan kami."

"Charlotte merupakan seorang wanita yang periang, pintar, cantik dan penyayang, yang tentu saja akan selalu diingat keluarga, teman dan kawan sekerjanya."

Dokter tidak melakukan pemeriksaan yang seharusnya

Dokter dituduh gagal mempertimbangkan pemberhentian penggunaan pil kontrasepsi, mencatat riwayat kesehatan, atau mempertimbangan terjadinya trombosis vena dalam (DVT) atau embolisme paru (PE).

Dr Simon gagal melakukan pemeriksaan yang seharusnya setelah konsultasi melalui telepon pada 24 Desember 2015 dan konsultasi pada 4 Januari tahun lalu.

Catatan riwayat kesehatan menunjukkan bahwa selama konsultasi, ia "gagal memeriksa sistem respirasi pasien, kaki atau skapula dan gagal mencatat nadinya, saturasi oksigen atau saran medis yang dibutuhkan."

Ia dikatakan gagal merujuk pasien ke rumah sakit atau membuat janji pemeriksaan kembali untuk konsultasi jika gejalanya tidak hilang.

Dalam hal ini, kolonel mengatakan, "Pada tanggal 4 Januari 2016, berdasarkan kesaksian keluarga, teman, dan tulisan Charlotte sendiri, kondisi Charlotte sangat buruk dan parah.

"Saya menerima fakta dari keluarga dan teman dan fakta bahwa Charlotte datang memeriksakan diri ke dokter pada tanggal 4 Januari sebagaimana yang dijelaskan oleh Mrs Foster."

Dr Simon akan menghadapi keputusan pengadilan dan akan hadir sebelum penyelidikan GMC pada 2 Juni dimana mereka akan memberikan peringatan kepadanya.

Catatan dokumen menyatakan bahwa "Dr Simon sudah mengindikasikan bahwa ia belum siap untuk menerima peringatan sebagaimana yang diberikan oleh pemeriksa kasus GMC, dan sudah memilih untuk mendengar pemaparan kasusnya di pengadilan oleh komite penyelidik." MIMS

Bacaan lain:
Mengapa ada pasien yang berbohong?
Depresi setelah melahirkan: Bagaimana perawat bisa membantu
Memaksa istri hamil, salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga

Sumber:
http://www.bbc.com/news/uk-england-shropshire-39829035
http://www.telegraph.co.uk/news/2017/05/06/doctor-sent-patient-spa-day-allegedly-misdiagnosing-blood-clot/
http://metro.co.uk/2017/05/07/doctor-told-woman-with-blood-clot-from-taking-contraceptive-pill-to-take-spa-break-6620486/
http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/doctor-investigated-after-telling-woman-10368162