Seiring dengan semakin tingginya angka kejahatan pada tenaga  kesehatan di India, sekitar 15.000 dokter di All India Institute of Medical Sciences (AIIMS), salah satu rumah sakit pemerintah terbesar, akan diberikan pelatihan bela diri di ruang olahraga rumah sakit mulai dari 15 Mei dan seterusnya.

"Kami sangat khawatir akan keselamatan kami," ungkap Vijay Gurjar, presiden asosiasi dokter residen, yang menyarankan pelatihan bela diri di rumah sakit universitas.

"Pemerintah tidak memberikan solusi"

Menurut Gurjar, meskipun sudah banyak kejadian kekerasan pada dokter, pemerintah juga tidak mengambil langkah penting untuk mengatasinya.

"Mencegah lebih baik daripada mengobati, dan jika pemerintah tidak memberikan keamanan yang cukup, maka Anda harus bergerak untuk melindungi diri Anda dan organ penting Anda," tambahnya.

Di bulan Maret, serangan pada tenaga kesehatan di India menyebabkan terjadinya demi di Maharashtra begitu juga dengan protes dari tenaga kesehatan yang menuntut perlindungan pada tenaga kesehatan dan pembatasan jumlah pengunjung rumah sakit umum.

"Kami mendukung sejawat kami di Mumbai yang mengenakan helm saat berpraktek di bulan Maret. Tindakan ini diambil karena kami sangat khawatir mengenai keamanan kami," ungkap Gurjar.

"Dengan pola pikir yang sama, kami meminta AIIMS untuk mengatur kelas bela diri untuk kami. Mereka mengabulkan permintaan kami untuk mengadakan kelas taekwondo di klub AIIMS gymkhana.”

Kurangnya rasa percaya antara dokter-pasien merupakan faktor utamanya

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2016, 40% dokter residen di rumah sakit Delhi pernah mengalami penyerangan di tempat kerja dalam periode waktu 12 bulan. Selain itu, Indian Medical Association (IMA) melaporkan bahwa 75% dokter pernah menghadapi kekerasan fisik atau verbal sepanjang karir mereka. Serangan terhadap perawat dan pegawai rumah sakit lain juga seringkali muncul, tetapi sering ditutup-tutupi.

"Dokter dipaksa untuk mengurangi jumlah waktu mendengarkan pasien atau perawat mereka. Konsep pengambilan keputusan bersama seringkali tidak terjadi. Rata-rata pembicaraan yang terjadi antara dokter dan pasien hanya berlangsung selama beberapa detik," ungkap Dr Vijay Nath Mishra, seorang profesor neurologi di Rumah Sakit Sir Sunderlal di Varanasi.

IMA akan mengeluarkan ruang pendaftaran untuk melaporkan kasus kekerasan

Untuk mengatasi masalah ini, IMA akan meluncurkan sistem pendaftaran kekerasan dimana dokter bisa melaporkan kasus kekerasan bersamaan dengan bukti seperti video, foto, rekaman CCTV dan potongan koran.

"Hal ini akan membantu kami memahami mengapa kekerasan terjadi, dan kami mencoba memprediksikan saat kekerasan mungkin terjadi dan melihat apa yang harus dilakukan untuk menghindari kejadian demikian," ungkap Dr KK Agarwal, presiden IMA.

Di kesempatan lain, IMA menjalankan program edukasi untuk mendorong dokter menghabiskan lebih banyak waktu dan mengadakan komunikasi yang lebih baik dengan pasien mereka. MIMS

Bacaan lain:
Perawat mogok kerja dan menyebabkan enam pasien meninggal
Penyiksaan seorang dokter di India yang dilakukan oleh kerabat pasien
Dokter palsu India menggunakan dokumen curian untuk bekerja di Australia selama 11 tahun

Sumber:
https://www.theguardian.com/world/2017/may/03/doctors-delhi-hospital-martial-arts-training-after-attacks-staff
http://www.hindustantimes.com/delhi/delhi-sick-of-violence-by-kin-of-patients-1500-aiims-doctors-to-learn-taekwondo/story-MGGo29ttrNBnu6JttG8XhtmlIM 
http://www.independent.co.uk/news/world/asia/taekwondo-training-doctors-new-delhi-protect-patients-relatives-assaults-aiims-all-india-institute-a7715121.html 
http://www.theborneopost.com/2017/04/29/physical-verbal-abuse-new-threat-for-kkm-staff/