Pahlawan perang bukan hanya dikantongi oleh para tentara. Perang banyak menyebabkan orang terluka dan berdarah. Pada umumnya, mereka yang terluka akan membutuhkan perhatian dan bantuan medis, dengan demikian dokter juga termasuk dalam pahlawan saat perang.

Berikut tiga dokter, yang melayani di medan perang dan banyak membantu mereka yang membutuhkan.

1. Bapak Ilmu Pengobatan Medan Perang

Dr Jonathan Letterman, the Father of Battlefield Medicine. Photo credit: Civil War Trust
Dr Jonathan Letterman, the Father of Battlefield Medicine. Photo credit: Civil War Trust


Dr Jonathan Letterman memainkan perang penting dalam Perang Saudara di Amerika tahun 1860an. Ia merupakan seorang anak dari seorang dokter bedah – dan mengikuti jejak ayahnya, ia menjadi seorang dokter bedah tentara di tahun 1850an. Ia ikut dalam berbagai kampanye militer sebelum akhirnya ikut serta dalam Tentara Potomac di Perang Saudara, dan setelah itu ia mendapat gelar direktur medis untuk seluruh tentara.

Kejadian ini terjadi saat di mulainya Perang Saudara, yang kemudian ia menyadari tidak efisiennya membawa mereka yang terluka dari medan perang. Dalam sebuah pertempuran, akan dibutuhkan lebih dari satu minggu untuk mengevakuasi mereka yang terluka, sehingga menyebabkan kematian yang tidak dibutuhkan. Pengendara dan pembawa tandu tidak terlatih dan tidak cocok dengan tekanan perang, sehingga Dr Letterman mulai memikirkan cara baru untuk menyelesaikan masalah ini.

Dr Letterman kemudian memperkenalkan Satuan Ambulans pertama, sebutan yang dibuat untuk personel non-medis; tetapi mereka dilatih dan dipimpin oleh dokter tentara untuk mengevakuasi dokter terluka dengan cara yang seharusnya. Ia juga memperkenalkan konsep triase untuk terapi berbagai cedera.

Satuan ambulans baru dilengkapi dengan cukup alat dan dengan waktu yang lebih sesuai, Kesatuan Ambulans bisa membawa personel tentara dengan waktu yang fleksibel. Dalam perang di Gettysburd, 14.000 tentara yang cedera berhasil di bawa kembali dalam waktu tiga hari dengan menerapkan sistem Dr Letterman. Ini merupakan hasil yang sangat berguna sehingga ia akhirnya disebut sebagai Bapak Pengobatan di Medan Perang.

2. Dokter Perang Dunia II yang berusia ratusan tahun 

Dr Hinohara, the centenarian doctor who began his career during World War II. Photo credit: Reuters
Dr Hinohara, the centenarian doctor who began his career during World War II. Photo credit: Reuters


Dunia baru-baru ini kehilangan orang penting, Dr Shigeki Hinohara, yang meninggal di usia 105 tahun. Dokter ini dikenal sebagai peninggalan bersejarah di antara teman sekerjanya. Beliau dihargai karena jasanya dalam dunia pengobatan dan komunitas kesehatan.

Sebelum meninggal, beliau merupakan kepala dari lima yayasan dan juga merupakan presiden Rumah Sakit Internasional St. Luke di Tokyo. Ia terus memeriksa pasien hingga hari terakhirnya dan menyarankan mereka mengenai rahasia hidup.

Dr Hinohara memulai karirnya sebagai dokter dalam Perang Dunia II. Kemudian, beliau bekerja di St. Luke pada 1940an. Beliau tidak pernah lelah mengobati mereka yang cedera dalam pengeboman yang merusak sebagian besar bagian Tokyo.

Di tahun 1954, ia memperkenalkan sistem Jepang untuk pemeriksaan medis tahunan yang komprehensif, yang sangat berpengaruh untuk umur panjang orang Jepang. Di tahun 1990an, saat beliau menjadi direktur St. Luke, beliau memenuhi rumah sakit dengan tabung oksigen untuk membantu mereka yang cedera disebabkan gempa bumi Tokyo. Kemudian di tahun selanjutnya, rumah sakit juga mengobati mereka yang cedera akibat serangan gas, disebabkan oleh pola pikir Dr Hinohara.

Ia kemudian menjadi terkenal di TV Jepang, memiliki kehidupan sosial yang aktif bahkan hingga usia tua. Ia juga mengeluarkan buku yang laku terjual, yang akan menyemangati orang lain untuk lebih menikmati hidup dan tidak mengikuti peraturan kaku mengenai pola makan dan tidur, yang dianggap tidak dibutuhkan oleh tubuh.

3. Dokter untuk penduduk Afghanistan 

Dr Wee Teck Young, regarded as the local doctor who has been serving in Afghanistan for over a decade. Photo credit: Straits Times
Dr Wee Teck Young, regarded as the local doctor who has been serving in Afghanistan for over a decade. Photo credit: Straits Times


Dr Wee Teck Young, seorang penduduk Singapura, diberi nama 'Hakim' oleh penduduk lokal Afghanistan – menganggap dokter ini sebagai salah satu dari mereka. Menyebut Afghanistan sebagai rumahnya sejak ia pindah lebih dari sepuluh tahun lalu, dokter berusia 48 tahun ini sudah banyak membantu korban dengan ikut serta dalam berbagai program kemanusiaan.

Saat pasien membawa foto dari dua anggota NGO di perbatasan Pakistan-Afghanistan ke praktek swastanya di Singapura, Dr Wee akhirnya memutuskan untuk mengemas tasnya dan bertualang ke tanah asing.

Sejak insiden 11 September 2001, Afghanistan belum pernah bebas dari serangan oleh Taliban, ISIS, dan kelompok militan lain. Meskipun ia merupakan seorang dokter, namun ia mulai menyadari kebutuhan lain untuk penduduk Afghanistan, yaitu untuk mengedukasi dan mengembangkan masyarakatnya itu sendiri.

Di tahun 2005, ia mengadakan A Journey To Smile, yang kemudian disebut sebagai Afghan Peace Volunteers (APV). APV memiliki tujuan untuk membentuk hubungan dengan dunia tanpa perang dan menciptakan banyak inisiatif untuk membantu wanita, mereka yang buta huruf dan anak-anak jalanan. Beberapa inisiatif dilakukan untuk warga Afghanistan, membuatnya mendapat banyak penghargan kemanusiaan, termasuk Penghargaan dari International Pfeffer Peace Awards di tahin 2012. MIMS

Bacaan lain:
3 dokter yang keluar dari zona aman untuk membantu yang kesusahan
3 dokter yang banyak berkontribusi untuk kemajuan dunia pengobatan
3 dokter yang selalu mengutamakan pasien daripada hidupnya sendiri

Sumber:
https://featherfoster.wordpress.com/2014/12/07/dr-jonathan-letterman-and-civil-war-medicine/
http://www.bbc.com/news/world-asia-40647996
https://www.civilwar.org/learn/biographies/jonathan-letterman
http://www.straitstimes.com/singapore/it-changed-my-life-singaporean-doctor-spends-over-10-years-in-war-torn-afghanistan
https://www.civilwar.org/learn/biographies/jonathan-letterman