Antara Agustus 2015 dan Januari 2016, empat pasien wanita berusia di antara 19 dan 29 tahun menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh Dr David Newman, 46 tahun, seorang dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Gunung Sinai, yang biasanya memberi kuliah mengenai hubungan pasien-dokter.

Mantan Direktur Penelitian Klinis di departemen gawat darurat dari Gunung Sinai diberi hukuman dua tahun penjara pada 23 Januari 2017 dan tiga tahun masa percobaan setelah melakukan satu pelecehan seksual di tingkat pertama, dan empat pelecehan seksual di tingkat ketiga.

Dokter mensedasi pasien dan melakukan hal yang tidak seharusnya

Ia dilaporkan ke pihak pengadilan setelah satu pasiennya menggugatnya. Seorang wanita berusia 29 tahun datang untuk mencari terapi untuk cedera pundak, saat ia datang ke Newman, yang kemudian memberikan dosis morfin meskipun Newman tahu ia sudah mendapatkan morfin sebelumnya.

Ia kemudian meraba dadanya dan bermasturbasi di atasnya, dan kemudian melakukan ejakulasi di wajahnya.

Korbannya sadar setelah pengobatan, dan menyadari perbuatan dokter yang menjijikan tersebut.

"Saya ingat saya berpikir bahwa saya akan meninggal jika saya tidak keluar dari sini," katanya.

Ia langsung menyimpan sampel DNA-nya dan melaporkannya ke polisi.

Pengkhianatan rasa percaya, korban tidak bisa lagi memercayai dokter

Ayah dari dua anak ini membantah tuduhan tersebut, menyebut bahwa ia melakukannya sendiri sebelum menemui pasiennya dan secara tidak sengaja memidahkan semen dari tangannya ke pasien.

"Saya malu karena saya melakukannya di ruang santai, dan kemungkinan sisa ejakulasi berpindah dari tangan saya ke wajahnya saat saya memberi terapi untuknya."

Namun, hakim memutuskan sebaliknya.

"Dr. Newman melakukan masturbasi di sisi tempat tidurnya dan melakukan ejakulasi di wajahnya," kata Asisten Pengacara Distrik Eun-Ha Kim.

"Spermatozoa ditemukan dimatanya, dan DNA dari pipi dan matanya cocok dengan DNA Dr. Newman."

Menurut Kim, dosis ekstra morfin yang diberikan Newman juga tidak dicatat dalam catatan pasien dan dianggap sebagai "protokol kekerasan di rumah sakit" karena hanya perawat yang boleh memberikan obat.

"Saya ingin menghilangkan rasa jijik yang saya rasakan ketika saya ingat Anda menyerang saya, perasaan tidak berharga, rasa malunya," kata korban di Mahkamah Agung Manhattan, menambahkan bahwa ia tidak bisa percaya lagi ke dokter.

Rasa bersalah setelah melakukan lima pelecehan seksual

Tiga wanita lain juga ikut melapor, menuduh Newman menyentuh payudaranya saat memeriksakan diri ke departemen darurat untuk pediatrik. Salah satu pasiennya datang ke rumah sakit untuk terapi flu, sedangkan yang lain untuk sakit kepala, dan yang ketiga untuk ruam di daerah alis.

"Tidak ada alasan untuk menyentuh payudara wanita ini," ungkap Kim, mendeskripsikan perilaku dokter sebagai sesuatu yang "mengerikan".

Newman kemudian merasa bersalah setelah melakukan lima pelecehan seksual dan menunjukkan kesedihan atas perbuatannya.

"Apa yang saya lakukan merupakan hal buruk dan menjijikan, dan saya minta maaf. Saya minta maaf ke semua orang yang terlibat," katanya. "Saya minta maaf ke semua dokter dan semua pasien."

Meskipun demikian, korbannya tidak percaya.

"Saya pikir Anda hanya merasa bersalah karena sudah ketahuan," ungkap korban yang berbicara saat bersaksi. MIMS

Bacaan lain:
5 oknum “dokter palsu”
Memberi terapi dengan gelar dan nama palsu
Seorang dokter spesialis anak penderita pedofilia dijatuhi hukuman penjara 22 tahun
Internet dijadikan ‘jalan pintas’ oleh para wanita yang membutuhkan aborsi, akibat pandangan negatif masyarakat