Dokter dilatih untuk menjaga kesehatan dan mengatasi penyakit, tetapi mungkinan juga perlu memberikan sedikit dukungan dengan mengadakan pembicaraan mengenai kematian yang efektif pada pasien yang sudah sekarat dan keluarganya.1-4 Pasien dan keluarga akan merasa lelah dan menderita jika harus berhadapan dengan terapi medis tanpa mengetahui arah dan akhir pengobatan mereka. Berikut panduan yang berisi beberapa poin penting untuk mengadakan pembicaraan dengan pasien yang sekarat dan penanggung jawabnya untuk mempersiapkan mereka sebelum meninggal dan membantu mereka mencapai keinginan akhirnya.

1) Mengidentifikasi kebutuhkan pasien mengenai pembicaraan tentang kematian

Tahap pertama adalah mengidentifikasi kebutuhan pasien yang membutuhkan pembicaraan tentang kematian, misalnya pasien dengan risiko tinggi akan meninggal. Kriteria berikut digaris bawahi oleh Canadian Researchers at the End of Life Network (CARENET) yang menyediakan beberapa panduan.5 Berdasarkan rekomendasi, pasien dengan risiko tinggi meninggal meliputi pasien berusia 80 tahun ke atas, masuk ke rumah sakit disebabkan kodisi medis akut atau pembedahan atau pasien berusia 55 tahun dan di atasnya yang memiliki penyakit parah: penyakit pulmoner obstruktif kronik, gagal jantung kongesti, sirosis, kanker, dan demensia atau jika dokter berpikir pasien akan meninggal tahun depan.5  

2) Inisiasikan diskusi

Hubungan baik dan rasa percaya antara dokter-pasien membentuk dasar pembicaraan efektif mengenai kematian. Penting untuk mengetahui sesiap apa pasien dan keluarga untuk mulai membicarakan mengenai kematian, serta penting untuk memahami dinamika keluarga. Pasien dan keluarganya harus dapat memahami empati dan rasa iba dokter. Ini memperkuat mereka untuk berbicara mengenai ketakutan dan penderitaan mereka. Anda bisa mulai pembicaraan dengan memberikan rasa empati mengenai rasa takut dan penderitaan pasien dan memberi tahu mereka bahwa Anda di sana untuk mendukung perjalanan mereka. Mengadakan pembicaraan ke si pembuat keputusan merupakan pekerjaan awal yang penting. Menanyakan pertanyaan ini dapat memunculkan rasa takut, tetapi melakukan klarifikasi merupakan hal terbaik untuk memulai pembicaraan ketika pasien masih stabil daripada membahas masalah ini untuk pertama kalinya ketika pasien dalam kondisi darurat. 

3) Mengklarifikasi prognosis

Pasien dan keluarga perlu mengetahui prognosis karena dapat memengaruhi keinginan terapi mereka, dan memberikan garis waktu untuk menyelesaikan rencana yang berlum terpenuhi. Model SPIKES dapat digunakan sebagai pola untuk ini - Setting up the interview (mengatur wawancara), Assessing patient’s Perception (Menilai Persepsi Pasien), Obtaining patient’s Invitation (Memuaskan keinginan pasien), Giving Knowledge (Memberikan Penjelasan), Addressing Emotions with Empathy (Menunjukkan Empati), dan Strategy and Summary (Strategi dan Kesimpulan). Sebelum memutuskan mengadakan pembicaraan ini, tenaga kesehatan perlu menyadari adanya batasan prognosis pada setiap individu yang menerima manajemen terapi.

4) Mengidentifikasi keinginan pasien sebelum meninggal

Mengetahui keinginan pasien mengenai perawatan dan keinginan hidupnya. Ini merupakan sesuatu yang ideal, adakan diskusi bersama keluarga sehingga semua orang yang ikut terlibat dalam perawatan pasien memahami keinginan pasien. Memberi contoh keinginan kehidupan seperti kenyamanan dan kontrol gejala, menjaga fungsional tubuh, dan memaksimalkan waktu dengan yang dicintai. Membantu mereka merefleksikan motivasi yang melatar belakangi keinginannya dan untuk membuka diskusi selanjutnya karena tujuan mereka dapat berubah seiring dengan perubahan waktu. 

5) Membuat rencana perawatan

Menginformasikan pilihan manajemen yang tersedia dan mengembangkan rencana perawatan yang sesuai dengan tujuan perawatan pasien. Sesuai dengan apa yang diinginkan pasien – beberapa mungkin ingin diikutsertakan secara aktif dan beberapa mungkin ingin membiarkan keputusan dibuat oleh keluarga atau tenaga kesehatan. Mengklarifikasi tempat yang diinginkan untuk perawatan, perlu untuk ditanyakan lebih lanjut saat pasien berada dalam kondisi sadar. 

6) Dokumentasikan diskusi

Mendokumentasikan diskusi akan meningkatkan kesempatan perawatan yang sebenarnya diinginkan pasien. 

Membantu pasien dan keluarganya saat transisi ke kematian dengan kenyamanan dan dignitas merupakan proses yang menantang, tetapi merupakan pelajaran yang penting dan memuaskan ketika berhasil dilakukan dengan baik. MIMS

Sumber:
1. Balaban RB. A Physician's Guide to Talking About End‐of‐Life Care. Journal of general internal medicine. 2000 Mar 1;15(3):195-200.
2. Hill PT. Treating the dying patient: the challenge for medical education. Arch Intern Med. 1995;155:1265–9.
3. Mermann AC, Gunn DB, Dickinson GE. Learning to care for the dying. Acad Med. 1991;66:32–5.
4. Tulsky JA, Chesney MA, Lo B. See one, do one, teach one? House staff experience discussing do-not-resuscitate orders. Arch Intern Med. 1996;156:1285–9.
5. You JJ, Fowler RA, Heyland DK. Just ask: discussing goals of care with patients in hospital with serious illness. Canadian Medical Association Journal. 2014 Apr 1;186(6):425-32.
6. McCutcheon Adams K, Kabcenell A, Little K, Sokol-Hessner L. Conversation Ready”: A Framework for Improving End-of-Life Care. IHI White Paper. Cambridge, MA: Institute for Healthcare Improvement; 2015.
7. http://www.kevinmd.com/blog/2012/04/successful-life-conversations.html