Tenaga kesehatan di Malaysia dan Singapura masih sulit beradaptasi dengan media sosial. Banyak yang menganggap media sosial sebagai pengganggu.

Meskipun demikian, tujuh dari sepuluh orang tidak hanya menggunakan internet untuk mencari diagnosis penyakit dan pilihan terapinya, tetapi juga mencari informasi mengenai dokter mereka. Untuk itu, dokter bisa menggunakan media sosial untuk 'mendekati pasien' demikian.

Media sosial membuat dokter bisa membagikan cerita, pandangan, komentar, dan penghargaan. Dokter bisa mengontrol informasi apa yang ingin ia bagikan ke pasien melalui Google. Mereka juga bisa merujuk pasien ke sumber medis yang baik.

Menurut seorang internis dan ahli media sosial, Dr. Kevin Pho, menggunakan media sosial merupakan tanggung jawab dokter, baik itu Facebook atau Twitter, atau dengan menciptakan konten seperti video YouTube atau blog.

Berikut 5 tips penggunaan media sosial yang profesional.

1. Mulai dari yang kecil

Menurut Dr. Pho, semua dokter harus punya LinkedIn. Profil LinkedIn bisa digunakan sebagai CV online seorang dokter. Jika profil ini diisi dengan lengkap, profil Anda bisa mudah ditemukan di Google. Luangkanlah beberapa jam untuk membuat profil LinkedIn yang baik. Doximity juga salah satu media sosial yang bisa dicoba Anda gunakan.

2. Pilih media sosial yang sesuai dengan objektif Anda

Sebelum memilih media sosial yang akan digunakan, dokter harus mengetahui apa tujuannya. Tujuannya bisa jadi untuk mengedukasi pasien, menghubungi kolega, atau membuat ruang diskusi. Seiring berjalannya waktu, ketika dokter semakin nyaman muncul di ruang online, Anda bisa mulai memilih media sosial mana yang sesuai untuk tujuan spesifik Anda.

Misalnya, beberapa mungkin ingin mencaritahu pandangan ahli di Twitter dan Facebook tanpa menulis konten apapun. Yang lainnya mungkin ingin membagikan konten menarik. Dan yang lain lagi, mereka mungkin ingin menciptakan konten mereka sendiri, baik itu dalam bentuk video Youtube atau artikel di blog.

3. Minta penilaian dari pasien

Anda Dalam masa dan dunia digital, penilaian bisa digunakan untuk tetap menjaga hubungan dokter-pasien. Sekarang, media sosial dan situs penilaian memberikan transparansi pandangan baik ke semua orang. Untuk mengkapitalisasikannya, mintalah lebih banyak pasien memberikan penilaian secara online.

"... penelitian menunjukkan bahwa mayoritas penilaian adalah, faktanya, positif dan lebih baik daripada yang dipikirkan dokter. Saya pikir dokter, daripada menolak penilaian, lebih baik menggunakan media sosial/penilaian untuk menjadi sumber pandangan positif atau perbaikan," kata Dr. Pho.

4. Bijaksana menerima komentar negatif

Di mata publik, Anda tidak bisa menghindari komentar negatif. Bintang Youtube selalu mendapatkan komentar negatif. Bagaimana Anda bisa menghadapinya?

"Dengarkan," saran Dr. Pho. "Ketika pasien, meninggalkan ruang pemeriksaan, saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang saya, perawat, dan tenaga kesehatan lain. Apakah mereka mendapat tempat parkir atau apakah majalah di ruang tunggu sudah diganti dengan majalah terbaru. Semua masalah ini banyak dipermasalahkan pasien. Dengan membaca komentar, terkadang kita dapat menemukan kekurangan dari praktek kita dan berusaha mengubahnya."

Selesaikan diam-diam. Dokter tidak boleh merespon langsung secara online, tetapi, lakukan pembicaraan offline dan hubungi pasien tersebut melalui telepon atau temui langsung. Jika masalah bisa diselesaikan, pasien mungkin akan mengubah komentarnya. Hal terburuk yang akan dilakukan pasien adalah menuntut dokter - yang akan lebih banyak menarik perhatian orang lain.

Meskipun demikian, dokter tetap perlu meminta komentar dan saran dari pasien. "Jika Anda sudah melakukan yang terbaik, komentar positif akan lebih menonjol daripada beberapa komentar negatif," tambah Dr. Pho.

5. Tetap ingat peraturan

Ada beberapa hal yang tidak boleh disebarkan online mengenai pasien mereka, karena secara tidak sengaja bisa menyebarkan rahasia pasien. Maka dari itu, sebelum menggunakan media sosial, dokter harus memahami bagaimana cara menggunakan media sosial untuk tenaga kesehatan profesional, seperti dengan membaca Ethical Code and Ethical Guidelines yang dikeluarkan oleh Singapore Medical Council (SMC). Misalnya, dokter bisa menerima permintaan pasien melalui internet, tetapi dokter tidak boleh menginisiasikannya.

"Media sosial sekarang merupakan bagian dari kehidupan semua orang dan dokter juga menggunakannya," kata Dr Tan Chi Chiu, pemimpin komite kerja untuk pengkaji panduan. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa tidak boleh selfie dengan pasien yang sakit?
5 Tips membangun hubungan baik untuk tenaga kesehatan
Bagaimana cara menghadapi pasien yang marah?
3 cara mendapat berita dan literatur terbaru untuk tenaga kesehatan


Sumber:
http://stateofreform.com/news/industry/healthcare-providers/2016/10/qa-physician-social-media-leader-kevin-pho/
http://www.straitstimes.com/singapore/health/doctors-get-new-guidelines-on-using-social-media
http://www.forbes.com/sites/joannabelbey/2016/01/31/is-social-media-the-future-of-healthcare/#5d6bdcb148d6