Saat perawat Niels Högel melayani di sebuah rumah sakit di Delmenhorst, jumlah kematian pasien di intensive care unit (ICU) terus meningkat tajam. Penyelidikan polisi menyimpulkan bahwa seorang perawat sudah membunuh setidaknya 84 orang, yang lemah dan rentan, di saat mereka membutuhkan bantuan perawat ini.

"Jumlah korban tewas sangat unik sepanjang sejarah republik Jerman," catat kepala penyidik, Arne Schmidt. Ia menambahkan ada "bukti setidaknya terjadi 90 pembunuhan, namun beberapa dugaan kasus tidak bisa dibuktikan."

Saat memeriksa catatan medis dari lebih dari 500 pasien, Komisi Khusus dibentuk pada Oktober 2014 untuk mencaritahu kesimpulan dari tes toksikologi 134 calon korban, yang di angkat kembali dari kuburannya untuk memeriksa jejak dosis letal obat jantung.

Laporan toksikologi pada 41 kasus masih ditunda, dan polisi menduga jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih besar – beberapa tidak pernah diketahui, karena mayat dari beberapa pasien dikremasi atau beberapa yang lain tidak mungkin dilakukan penggalian kubur.

"Realisasi dari yang kami pelajari sangat mengerikan," ungkap Johan Kühme, kepala polisi di Oldenburg. "Sangat bertentangan dengan imajinasi saya."

"Delapan puluh empat pembunuhan... membuat kami tidak bisa berkata apa-apa," tambah Kühme. "Dan itu belum semuanya, kita menyadari jumlah sebenarnya korban Niels Högel mungkin jauh lebih besar dari ini."

Perawat Jerman menikmati saat menghidupkan kembali pasien – kegagalan berakhir dengan kematian yang tidak diinginkan 

Högel dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di tahun 2015 dengan pelanggaran dua pasal pembunuhan dan dua pasal percobaan pembunuhan.

Saat pengadilan, perawat senior, sekarang 40 tahun, mengakui ia sengaja membuat pasien mengalami henti jantung pada 90 pasiennya dengan memberikan dosis obat jantung berlebih. Ia mengatakan ia menikmati saat-saat ia mencoba membangkitkan kembali pasien, tetapi terkadang ia gagal.

"Perawat menggunakan lima obat berbeda, seperti ajmaline, sotalol, lidocaine, amiodarone dan kalsium klorida," catat polisi. "Overdosis bisa memicu terjadinya aritmia jantung yang membahayakan jiwa dan penurunan tekanan darah, menyebabkan penurunan kondisi pasien yang memang sudah dalam keadaan sakit."

Catatan polisi menunjukkan bahwa tindakan mengerikan Högel pertama kali dilakukan pada Februari 2002, saat ia menjadi seorang staf di sebuah klinik di Oldenburg di Lower Saxony, dekat dengan perbatasan Belanda.

Meskipun demikian, injeksi letal yang dilakukannya memicu kecurigaan sejawat lain. Ia kemudian dikirim ke posisi dalam unit anestesiologi. Di sana, dokter yang penah bekerja bersamanya, mengatakan Högel senang menjadi pusat perhatian, berusaha melakukan resusitasi ke pasien.

Menurut catatan polisi, perawat senior ini pindah ke sebuah rumah sakit di Delmenhorst pada 2002, setelah menyebabkan kematian pada setidaknya 35 pasien. 

Pembunuhan berantai yang tidak dilaporkan, jumlah kematian terus meningkat di ICU

Pada 2005, sejawat Högel pernah memergokinya memberikan ajmaline ke seorang pasien – tetapi tidak ada yang dilakukan manajemen. Saat itu, Högel sudah membunuh pasiennya.

Dokter senior, setelah mendengar desas-desus perawat, mulai memeriksa catatan kematian dan obat yang diberikan oleh Högel. Ia kemudian melaporkan hal ini ke pihak berwajib saat ia meragukan ada seorang perawat yang terlibat dalam kematian pasien sebelum waktunya.

"Pembunuhan mungkin bisa dicegah," sebut Kühme. Ia menambahkan bahwa Högel dibekali catatan referensi yang baik sehingga ia bisa pindah ke rumah sakit di Delmenhorst dan terus membunuh orang. "Orang-orang di klinik Oldenburg mengetahui ada sesuatu yang tidak beres."

Di tahun 2016, enam petugas rumah sakit Delmenhorst juga pernah dijatuhi hukuman karena lalai dalam pelaporan ke pihak berwajib. Penyelidikan terhadap kelalaian di Oldenburg ini sedang berlangsung.

Högel akan menghadapi beberapa pengadilan tambahan mengikuti penemuan baru dari penyelidikan polisi. MIMS

Bacaan lain:
4 "Malaikat Kematian" lain dalam dunia kesehatan
Perawat berkebangsaan Filipina dihukum karena membunuh pasien akibat salah memberikan transfusi darah
Membunuh yang satu demi menyelamatkan yang lain: Tantangan etika dan medis pada kembar siam

Sumber:
http://www.npr.org/sections/thetwo-way/2017/08/28/546837162/german-nurse-suspected-of-murdering-at-least-86-patients-in-his-care
http://nypost.com/2017/08/28/nurse-who-killed-2-patients-may-have-murdered-84-more/
https://www.nytimes.com/2017/08/28/world/europe/niels-hogel-german-nurse-killed-at-least-86-patients-officials-say.html