Maraknya wabah kolera di Yaman menyebabkan lebih dari 100.000 kasus kolera, hampir setengah dari pengidapnya merupakan anak-anak di bawah usia 15 tahun, lapor World Health Organization.

Di bulan Juni 7, sejumlah dugaan kasus kolera berhasil mencapai angka 101.829; dimana 791 di antaranya sudah meninggal.

Kolera merupakan infeksi diare akut yang bisa membunuh dalam hitungan jam jika tidak diobati, tetapi bisa diobati dengan cairan rehidrasi oral. Di Yaman, epidemik besar-besaran membunuh satu orang per satu jam, kata Oxfam, organisasi amal.

Ada 46% anak-anak di bawah usia 15 tahun yang menderita penyakit ini, dan hampir sepertiga fatalitas terjadi di usia 60 tahun dan di atasnya.

"Tempat ini merupakan sumber transmisi kolera di seluruh negara," ungkap kepala WHO di Yaman, Dr Nevio Zagari. Ia menambahkan bahwa membasmi kolera di tempat tersebut akan memperlambat penyebaran penyakit dan menyelamatkan nyawa.

Meskipun demikian, Yaman, negara Arab di Asia Barat, berada dalam konflik antara pemerintah dan gerakan Houthi. Hasilnya, terdapat penurunan sistem kesehatan dan air.

Sekitar 300 fasilitas kesehatan di negara ini tidak lagi berfungsi, menurut BBC.

Empatbelas setengah juta orang tidak mendapat akses ke air bersih dan sanitasi, dan pekerja kesehatan tidak mendapat gaji.

Yang lebih buruk, WHO mengindikasikan bahwa anak-anak yang mengidap penyakit ini, dan banyak anak-anak lain meninggal karena malnutrisi akut.

"Kolera sebenarnya mudah ditangani dan dicegah, tetapi karena kondisi negara yang sulit membuat semakin sulitnya penanganan kolera. Bantuan besar sangat dibutuhkan sekarang," kata direktur Oxfam untuk Yaman, Sajjad Mohammed Sajid.

WHO bersama dengan UNICEF dan organisasi dunia lain, bekerja sama untuk menyelesaikan wabah terbaru.

Sekitar 3,5 juta orang berhasil dibantu, sumber air mereka berhasil didisinfeksi, air minum berhasil diklorinasi, dan sistem pengairan tanaman berhasil dibentuk.

Organisasi juga mendistribusikan bantuan medis, melakukan pemeriksaan dan membangun pusat rehidrasi oral.

"Semua hal ini dilakukan dengan meningkatkan kesadaran akan higienitas ke semua populasi terpengaruh," lapor WHO.

Tetapi tetap saja, masih dibutuhkan banyak dukungan di lapangan untuk mengatasi masalah ini secara total. MIMS

Bacaan lain:
Perang melawan malaria terus berlanjut
WHO mengeluarkan inisiatif global untuk mengurangi kesalahan obat hingga setengahnya di tahun 2022
PBB: Serangan ke rumah sakit dan tenaga kesehatan di Siria merupakan bentuk dari "kriminalitas dalam peperangan"

Sumber:
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2017/suspected-cholera-yemen/en/
http://www.bbc.com/news/world-middle-east-40200017
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs107/en/