Juan Carlos Izpisua Belmonte merupakan seorang revolusioner dan seperti hampir semua revolusioner lain, ia lebih maju dari zamannya. Pria dibalik eksperimen chimera manusia-babi ini juga mendapat kritik ekstensif. Tetapi sekarang, tampaknya orang-orang mulai memuji hasil kerja kerasnya.

Belmonte masuk ke dunia sains secara tidak biasa. Ia dipaksa berhenti sekolah di usia delapan tahun untuk bekerja – dan kembali ke dunia pendidikan di usia 16 tahun. Menyadari kepintarannya, para guru menyarankannya untuk mendaftar ke Universitas Valencia.

Namun, ia tidak tertarik pada sains – ia ingin mempelajari filosofi. Namun, melihat bangunan farmasi yang indah – ia kemudian mencoba mendaftar. Meskipun mendapat gelar PhD dalam jaringan adiposa, namun ia menganggap subjek perkuliahan membosankan. Kemudian saat ia pindah ke Jerman untuk bekerja sukarela di lab mengenai gen yang mengontrol pola tubuh embrio, ia mulai menemukan ketertarikannya.

Ia bisa menggabungkan ketertarikannya dalam filosofi dan bakat alami dalam sains dan mempertanyakan seperti bagaimana satu sel tunggal bisa menjadi individu unik? Dan bagaimana cara membedakan manusia dari hewan lain?

Pola pikir berbeda ini membuatnya dikenal

"Ia memiliki cara berpikir yang berbeda," kata Ron Evans dari Salk Institute yang merekrut Belmonte, "dan kombinasi pola pikir dan eksekusinya merupakan hal yang menarik." Karir Belmonte diarahkan oleh obsesinya pada kemampuan salamander untuk menumbuhkan kembali bagian tubuh manapun secara sempurna – dan keinginannya untuk mencari tahu apakah manusia suatu hari nanti bisa melakukan hal yang sama.

Rasa tertariknya membuatnya menemukan dua jenis baru sel punca manusia, salah satunya yang bisa membentuk semua jenis sel dan juga bisa membentuk jaringan seperti placenta dan kantung amnion. Laboratoriumnya juga berhasil melakukan percobaan mengembalikan penuaan pada sel tikus dewasa, membantu mengedit gen penyakit jantung pada embrio manusia – dan merupakan bagian dari usaha menciptakan embrio dari tiga orangtua.
 
"Sulit untuk mengetahui kapan memulainya, ia melakukan banyak sekali hal," kata Paul Knoepfler, peneliti sel punca di Universitas California. "Anda pasti tahu bahwa ia tidak mengenal takut." Kemampuan inilah yang membuatnya memiliki banyak penggemar.

"Juan Carlos merupakan seorang yang keras dan pemberani sehingga ia berani mengambil risiko dan kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan yang mengejutkan kita semua," ungkap Dr George Daley, seorang peneliti dan dekan sel punca di Fakultas Kedokteran Harvard.

Sifatnya yang keras kepala

Ketertarikan Belmonte dalam regenerasi karena ia menganggap sel ini seperti "embrio kecil di luar tubuh manusia," katanya dan Belmonte ingin mengetahui apakah ia bisa menciptakan organ di luar tubuh untuk orang yang sangat menginginkan transplantasi organ. Meskipun demikian, ia terus menghadapi kegagalan, ia tidak bisa membuat sel punca tumbuh menjadi jenis sel, atau bahkan organ.

"Kami mencoba mengimitasi alam dengan hanya sedikit pengetahuan," katanya. Mereka tidak bisa "mengedukasi sel dalam cawan Petri." Inilah saat ia mengambil jaringan dan tubuh embrio tikus ke sayap embrio ayam, dan menemukan pertumbuhannya tetap normal, sehingga ia menyadari bahwa perkembangannya terjadi secara serupa antar spesies.

Belmonte kemudian mulai mencoba menumbuhkan organ manusia dalam embrio babi meskipun ia dan komunitas saintifiknya tidak berpikir hal ini akan berhasil. "Embrio babi melihat sel manusia sebagai produk asing. Respon alaminya adalah mencari cara untuk membutuhnya," kata Jun Wu, peneliti senior di lab Belmonte. "Kami tidak mengira kami bisa menemukan sel manusia di dalamnya."

Tetapi, mereka berhasil – bahkan meskipun mereka hanya menemukan satu dalam 100.000 sel manusia yang selamat. Faktanya adalah bahwa ia bahkan berhasil membuatnya berjalan sesuai rencana meskipun ia tetap mendapat kritikan.

Ia ingin penelitiannya digunakan untuk membantu banyak orang

Belmonte sekarang sedang berusaha memperbaiki jumlah sel manusia dalam organ dengan memaparkan sel ke usia berbeda untuk melihat apakah sel ini akan diterima – menggunakan sel punca spesifik anggota tubuh tertentu yang lebih efektif, dan juga edit CRISPR untuk mengubah gen host yang akan digantikan dengan sel manusia.

Ia kesulitan untuk melanjutkan penelitian karena hukum mencegahnya melakukan hal yang tidak etis. Faktanya, National Institute of Health di Amerika sedang berusaha untuk membentuk kebijakan mengenai chimera manusia setelah Belmonte meminta persetujuan mengenai hal ini.

"Tidak ada kebijakan yang mengatur pekerjaannya," kata Knoepfler. "Itu merupakan daerah tak tersentuh, dan ia merupakan salah satu yang mendorong kami ke daerah tersebut."

Meskipun ada banyak tekanan dari kelompok bioetika dan agama, Hank Greely, direktur Centre for Law and the Biosciences di Universitas Stanford, mengatakan bahwa mungkin akan sulit bagi Belmonte untuk mendapat izin.

"Juan Carlos selalu mengadari masalah ini," kata Greely.

Menurut Belmonte, "Kami berada dalam momen kritis evolusi manusia. Semua yang terjadi dalam miliaran tahun ini mengikuti dua aturan: mutasi acak atau seleksi alami."

"Kita berada dalam momen sejarah dimana kita sudah tidak lagi mengikuti aturan Darwin. Kita perlu menyadari hal ini." MIMS

Bacaan lain:
Susu kecoa - Makanan sehat terbaru
Apakah suatu hari nanti babi bisa menjadi jawaban atas kebutuhan transplantasi organ?
Sejarah warfarin: Dari pembunuh ternak hingga racun tikus hingga obat paling dibutuhkan oleh manusia

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/08/07/pig-human-chimera-izpisua-belmonte/
http://www.sandiegouniontribune.com/business/biotech/sd-me-belmonte-profile-20170805-story.html