Di tengah masa ketakutan akan resistensi antibiotik, peneliti dipaksa untuk cepat-cepat mencari solusi masalah ini.

Untungnya, tim peneliti dari Universitas George Mason di AS menemukan kemungkinan solusi masalah ini. Mereka menemukan strain antibiotik baru peptida sintetik dari komodo yang berpotensi menjadi jawaban krisis antibiotik sekarang.

Air liur komodo kaya akan berbagai jenis strain bakteri

Berasal dari sebuah pulau di Indonesia, komodo merupakan spesies kadal terbesar di dunia. Komodo dipercaya hanya ada di Pulau Komodo dan tampak sangat mencolok - karena ukurannya yang besar, kepalanya yang pipih, kaki membengkok dan panjang, ekor yang tebal.

Lebih menariknya lagi, komodo diketahui memiliki lebih dari 80 strain bakteri berbeda dalam air liurnya. Strain bakteri berbahaya ini diketahui bisa menyebabkan sepsis bakteri parah dan keracunan.

Menurut tim peneliti yang dipimpin oleh Monique van Hoek, reptil ini jarang mengalami sakit, meskipun mengonsumsi daging mentah dan menelan air liur yang kaya akan bakteri berbahaya.

Komodo tidak pernah terinfeksi oleh bakteri dalam air liurnya, dan hal ini menjelaskan ada sistem imunitas di baliknya. Sistem imunitas ini kemungkinan berasal dari faktor antimikroba dalam darah reptil.

Darah komodo yang menakjubkan

Pertama kali dipublikasikan pada 11 April 2017, penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui potensi darah reptil. Peptida sintetik, DRGN-1, diuji pada tikus dan menunjukkan aktivitas antimikroba poten dan anti-biofilm melawan superbugs seperti Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus.

"Peptida sintesis DRGN-1 bukan peptida alami komodo; namun aktivitasnya sudah ditingkatkan untuk menghasilkan peningkatan potensi dan stabilitas," jelas van Hoek.

Dua bakteri superbugs yang dijelaskan di atas dikenal resisten terhadap antibiotik. Namun aplikasi peptida DRGN-1 diketahui bisa meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.

Selain itu, luka yang diterapi dengan DRGN-1 sembuh lebih cepat secara signifikan dibandingkan dengan luka yang tidak diterapi. Keberhasilan peptida ini mengindikasi kemampuannya dalam meningkatkan adesi sel dan penyembuhan, selain juga menangkis infeksi mikroba.

Implikasi di masa depan

Seperti sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui; implikasi DRGN-1 masih banyak lagi, selain hanya dibuktikan efektif pada luka terinfeksi dan steril. Dalam hal manfaat jangka pendek, DRGN-1 terbukti merupakan terapi efektif untuk berbagai jenis luka, termasuk membuka metode baru untuk terapi antimikroba dan luka.

Pembentukan dan ditemukannya peptida DRGN-1 bukan berarti memberikan solusi langsung krisis resistensi antibiotik. Faktanya, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sebelum peptida ini bisa digunakan selain aplikasi topikal.

Selain itu, DRGN-1 benar-benar memberikan cara baru untuk mengatasi krisis antibiotik. Peptida ini juga menunjukkan aktivitas tambahan, seperti mempercepat penyembuhan luka, yang membuktikan viabilitas dari peptida ini.

Dengan penelitian dan perkembangan, DRGN-1 terbukti memiliki potensi memajukan dunia medis. Dengan penemuan ini, kemungkinan kita harus mulai memusatkan fokus kita pada apa yang sudah disediakan alam. MIMS

Bacaan lain:

Satu-dua serangan obat bisa digunakan untuk melawan superbug
Hubungan antibiotik dengan perubahan tingkah laku
Ruang angkasa diciptakan untuk memecahkan masalah tersulit dunia pengobatan
Pembiayaan dari industri bisa jadi kontraindikasi dengan tujuan penelitian kontrol infeksi


Sumber:
http://www.livescience.com/27402-komodo-dragons.html
http://www.bbc.com/news/health-39554531
https://www.nature.com/articles/s41522-017-0017-2
http://www.medicalnewstoday.com/articles/316929.php