Saat ini, stres kehidupan sudah jauh meningkat jika dibandingkan dengan 50 tahun lalu. Banyak orang mengalami stres di setiap detik kehidupannya, dan akhirnya memengaruhi kehidupan mental dan emosi mereka. Bila tingkat stres terlalu tinggi, seseorang akan berpikir ada yang tidak beres dengan dirinya dan akan menemui dokter di rumah sakit.

Akibatnya, dokter akan melakukan konsultasi dengan pasien, yang mengira ada yang salah dengan dirinya padahal sebenarnya tidak ada, secara medis. Jenis pasien ini sebenarnya menderita cyberchondria.

Semakin meningkatkan kasus ansietas

Profesor Peter Tyrer, profesor emeritus dalam komunitas psikiatri pada Imperial College London, mengatakan, "Kami menduga bahwa [kecemasan kesehatan] semakin meningkat karena apa yang sekarang disebut 'cyberchondria'."

Kasus cyberchondria sekarang dianggap terus berkembang, setelah para peneliti di Inggris menemukan bahwa satu dari lima pasien rawat jalan menderita kondisi tersebut. Karena belum ada pilihan terapi yang ditawarkan dokter, para peneliti menyarankan psikoterapi.

Sebuah tim peneliti, dokter jiwa, dari Imperial College London dan King's College London memutuskan untuk mempelajari fenomena cyberchondria yang berkembang dengan harapan dapat memudahkan dokter.

Meskipun penelitian ini dilakukan di Inggris, masalah ini juga sebenarnya dihadapi negara lain, baik itu di negara berkembang atau negara maju. Sebuah penelitian World Health Organisation (WHO), yang dilakukan pada tahun 2016, menemukan bahwa pasien dari semua lapisan masyarakat pernah mengalami kecemasan kesehatan.

Excessive “Googling” and self-diagnosing among patients with cyberchondria would lead to situations whereby patients insist that there’s something wrong with them, despite being told otherwise by their medical experts.
Excessive “Googling” and self-diagnosing among patients with cyberchondria would lead to situations whereby patients insist that there’s something wrong with them, despite being told otherwise by their medical experts.

Sudah menjadi fakta bahwa kecemasan merupakan gejala yang serupa dengan penyakit fisik tertentu. Sementara dokter menyadari bahwa pasien ini mungkin mengalami gejala kecemasan, pasien justru merasa bahwa mereka menderita penyakit.

Ketika pasien mengeluhkan sakit kepala dan nyeri di rumah sakit, pasien bisa saja berpikir sedang menderita suatu penyakit; jadi, meski dokter meyakinkan tidak ada penyakit yang diderita, pasien akan tetap terus khawatir dan meminta diagnosis lanjutan atau bahkan mencari pendapat kedua dan ketiga.

Mengenai hal tersebut, Prof Tyrer berkata, “Hal ini terjadi karena saat ini orang pergi ke dokter umum setelah membaca berbagai informasi di internet – yang menyebabkan dokter harus menjelaskan panjang-lebar di saat waktu konsultasi."

Menurut peneliti, melakukan pencarian di internet merupakan sesuatu yang tidak perlu dan sangat membuang waktu. Meskipun Google sangat informatif, namun bukan berarti pasien bisa mendiagnosis dirinya sendiri.

NHS harus menghabiskan sekitar GBP420 juta (USD73 juta) per tahun untuk mengatasi masalah ini. Peneliti melaporkan hasil temuan ini di National Institute for Health Research Journal.

Sesi Cognitive behavioural therapy (CBT)

Peneliti menemukan bahwa terapi CBT jauh lebih efektif untuk pasien dengan masalah kecemasan kesehatan. Sesi CBT bukan hanya solusi obat stres yang lebih baik, tapi efeknya juga dapat bertahan hingga lima tahun.

Dari lima rumah sakit di Inggris, 444 pasien dengan kecemasan kesehatan parah dipilih oleh peneliti untuk dilibatkan dalam penelitian ini. CBT adalah terapi yang dapat diberikan oleh perawat, dokter dan psikolog terlatih.

Prof Tyrer berkomentar bagaimana kecemasan kesehatan tidak terlalu penting oleh National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Ia berkomentar bagaimana pasien dengan penyakit fisik umumnya menderita kecemasan kesehatan, namun hal ini diabaikan oleh profesional kesehatan.

CBT yang disarankan dari hasil penelitian tersebut terdiri dari rata-rata enam sesi. Pasien, yang menjalani enam sesi, mengalami perbaikan besar sehingga mengalami penurunan yang signifikan dan berkelanjutan atas tingkat kecemasannya.

Efek jangka panjang dari CBT

Efek dari sesi CBT dirasakan oleh pasien bahkan lima tahun setelah terapi berakhir. Mereka merasa tidak secemas pasien yang belum menjalani sesi CBT.

Seorang konsultan dokter kardiologi di Rumah Sakit Guy’s and St Thomas, Prof John Chambers, sepakat bahwa pasien perlu memperoleh penjelasan dan intervensi psikologis ketika dokter mendapati bahwa tidak ada yang salah dengan mereka secara fisik.

Menurutnya, kecemasan kesehatan adalah alasan mengapa departemen kecelakaan dan gawat darurat, dokter bedah dan klinik rawat jalan dipenuhi oleh pasien yang tidak benar-benar memerlukan perawatan.

Ini merupakan fakta yang belum banyak diperhatikan karena para ahli juga mengeluhkan bahwa lebih dari 20% permintaan pemeriksaan scan jantung atau otak di Inggris dilakukan atas permintaan pasien, yang baik-baik saja dan diduga menderita kecemasan atau hipokondria berlebih. MIMS

Sumber:
Perlindungan privasi data: Bagaimana pemerintah menangani kebocoran data pada perusahaan asuransi kesehatan
Serangan 'WannaCry' bisa berubah menjadi malpraktek digital di rumah sakit, kata ahli hukum
Tenaga kesehatan perlu meningkatkan keamanan digital dan meningkatkan kesadaran komunitas

Sumber:
http://www.bbc.com/news/health-41176729
http://www.channelnewsasia.com/news/health/cognitive-therapy-found-to-cut-cyberchondria-health-anxiety-9191872