Pada 11 Mei 1811, di rumah apung sepanjang sungai kampung ikan di Siam, lahirlah dua anak kembar laki-laki dari pasangan nelayan Cina-Thailand dan istrinya yang setengah-Cina setengah-Malaysia. Orangtua baru ini sangat gembira saat menyambut anak laki-laki mereka, tetapi saat bidan melihat anak kembar ini, ia terkejut karena bentuk fisiknya yang berbeda dengan yang lain.

Kembar ini menempel satu sama lain - anomali anatomi yang kemudian membuat mereka terkenal di dunia.

Mereka kemudian diberi nama Chang dan Eng.

Dihina warga kampung karena anomali fisik mereka

Dengan dukungan ibu mereka, Chang dan Eng belajar berlari dan berenang, dan bahkan bisa menjalankan perahu, tetapi di masa itu, warga kampung menganggap mereka sebagai pertanda buruk.

"Mereka pikir mereka membawa nasib buruk, dan bahkan beberapa warga kampung ingin agar mereka dibunuh, tetapi ibunya melindungi mereka," kata Jim Haynes, cucu Chang. "Warga lain berusaha memisahkan mereka, dan melakukan uji coba gila seperti mengikat mereka dan perlahan-lahan memotong mereka."

Berita mengenai kembar unik ini menyebar ke ibu kota dan menarik perhatian Raja Siam, Rama III, yang menunjuk mereka menjadi wakilnya. Meskipun demikian, Chang dan Eng juga menarik perhatian pedagang Swedia bernama Robert Hunter, yang menyadari potensi anak laki-laki ini untuk keuntungan mereka jika mereka dikirim ke luar negeri dan membuat mereka menjadi tontonan dunia.

Untuk membujuk mereka, Hunter membayar ibu kembar ini sejumlah $500 dan membujuk raja dengan sejumlah penari dan teleskop, dan di tahun 1928, kembar ini sudah berada di kapal menuju Boston.

Pertunjukan aneh membuat "Kembar Siam" menjadi terkenal

"Kembar Siam" ini menjadi semakin terkenal dan dikenal di seluruh Amerika dan di Inggris, dimana 300.000 pengunjung berbaris untuk menonton mereka bermain catur atau melakukan akrobat. Selama perjalanan mereka, banyak dokter juga datang untuk melihat kembar ini, bahkan terkadang juga melakukan pemeriksaan. Ketenaran mereka membuat untung bagi manajernya, tetapi saat Chang dan Eng memasuki usia 21 tahun, masa kontrak mereka sudah berakhir dan mereka mulai melanjutkan perjalanan mereka sendiri, dan mengambil untung untuk diri mereka sendiri.

A poster for Chang and Eng’s travelling show. Photo credit: ABC News/ University of North Carolina Wilson Library
A poster for Chang and Eng’s travelling show. Photo credit: ABC News/ University of North Carolina Wilson Library


Di tahun 1838, kembar ini memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka dan tinggal di Carolina Utara. Mereka menjadi warga negara AS dan mengambil nama Bunker sebagai nama belakang mereka, membeli berhektar-hektar lahan dan menjadi petani tembakau dengan beberapa budak yang mengurus kebun.

Chang dan Eng menikah dengan kakak-beradik Adelaide dan Sarah Yates di tahun 1843, dan meskipun ada beberapa intoleransi publik mengenai status pernikahan mereka - baik dalam hal perbedaan ras atau tentangan mengenai intimasi antara keempat orang ini - kembar ini menjadi ayah dari 21 anak, sepuluh dari Chang dan 11 dari Eng.

Kakak-beradik yang hidup dan meninggal bersama

Kekayaan mereka menurun selama perang dunia, dan kembar ini melanjutkan perjalanan mereka dan melakukan pertunjukan untuk mencari uang. Saat itu, mereka sudah berusia lima puluh tahunan, dan ketenaran mereka sudah lama hilang. Chang mulai minum berlebihan, dan meskipun Eng tidak terpengaruh, kakak-beradik ini sering berkelahi - sangat parah hingga mereka mulai berpikir untuk melakukan operasi pemisahan.

"Mereka mencari teman mereka Dr Hollingsworth," kata Haynes. "Dia membuat mereka berbaring di atas meja operasi dan mengatakan: 'Kita mungkin perlu memotong kepala kalian di waktu bersamaan karena hasilnya akan sama saja. Kalian tidak akan selamat.'"

"Jadi mereka tetap bersama," tambahnya.

Chang and Eng with their wives. Photo Credit: Listverse/ Mathew Brady
Chang and Eng with their wives. Photo Credit: Listverse/ Mathew Brady


Di usia 59 tahun, Chang mengalami stroke yang "membuat sisi kanannya mengalami paralisis, sisi terdekat ke kembarannya." Meskipun Eng berusaha membantu Chang sebisa yang ia bisa, namun Chang tidak pernah sembuh total. Suatu malam di musim dingin pada Januari 1874, ketika mereka berusia 62 tahun, Chang menderita bronkitis dan kemudian meninggal. Ketika Eng menyadari bahwa saudaranya sudah meninggal, ia menyebutkan, "Maka saya juga akan pergi," dan kemudian meninggal kurang dari tiga jam kemudian.

Pemeriksaan post-mortem di Fakultas Kedokteran di Philadelphia menunjukkan bahwa kembar ini sebenarnya hanya memiliki satu hati dan tidak akan selamat jika dilakukan operasi pemisahan. Sampel kembar siam dibuat berdasarkan anatomi tubuh mereka, dan ditempatkan di Museum Mutter di Philadelphia hingga hari ini, untuk memperingati Kembar Siam pertama dan warisan yang mereka berikan. MIMS

Bacaan lain:
Membunuh yang satu demi menyelamatkan yang lain: Tantangan etika dan medis pada kembar siam
Bayi dengan 'tiga orangtua' membuktikan kontroversi ilmu pengetahuan dapat melawan infertilitas
Pengaruh ilmu pengetahuan terhadap bisa ular yang mematikan
Lahir dengan otak di luar tengkorak kepala, anak laki-laki ini kini tumbuh sehat


Sumber:
http://www.abc.net.au/news/2016-11-14/chang-and-eng-bunker-the-original-siamese-twins/7992942
http://listverse.com/2017/03/30/top-10-amazing-facts-about-the-original-siamese-twins/ 
http://nypost.com/2014/11/01/the-sex-lives-of-siamese-twins/ 
http://dc.lib.unc.edu/cdm/landingpage/collection/bunkers/ 
http://www.bradenton.com/latest-news/article34494324.html