Semua orang pasti pernah mendapat kritik. Tetapi, berkat kemajuan teknologi dan internet, kritikan dari pasien bisa dengan mudah ditemukan orang yang bersangkutan.

Meskipun demikian, apa pengaruhnya pada dokter? Bagaimana jika pasien mulai menggunakan Yelp untuk membagikan beberapa pengalaman mereka terhadap hal ini?

Seperti bisnis lain, dokter juga khawatir mendapat komentar negatif yang berpotensi mencoreng reputasi mereka.

Selain itu, situs ulasan web online juga biasanya menyediakan akses anonim untuk penggunanya, sehingga memungkinkan kompetitor untuk ‘menyamar’ sebagai pasien. 

Meskipun tidak terlalu banyak digunakan di Indonesia, namun tenaga kesehatan lokal tetap harus berhati-hati dan bersiap menghadapi kritikan pedas dari mantan pasien mereka. Jadi, apa yang membuat para dokter sulit menghadapi kritikan tidak menyenangkan ini?

Dokter tidak bisa banyak berkomentar

Tidak seperti bisnis lain, dokter tidak boleh secara sembarangan memberikan respon terhadap komentar pasien mengingat kewajiban mereka untuk melindungi privasi pasien. Dengan demikian, bahkan saat para dokter memiliki bukti kuat untuk menolak komentar pasien, dokter tidak dapat membela diri mereka sendiri demi pasien lainnya. Posisi inilah yang membuat para dokter terkadang merasa frustasi.

Doctors cannot respond to patients’ criticisms as they are duty-bound to protect their patient’s privacy.
Doctors cannot respond to patients’ criticisms as they are duty-bound to protect their patient’s privacy.


Lebih buruknya lagi, kritik dari pasien mungkin berhubungan dengan kesalahan para dokter yang tidak mau menjelaskan dasar medis keputusan mereka kepada pasien. Sebagai pembaca komentar, termasuk mereka yang tidak mengenyam pendidikan kesehatan, mungkin ikut memercayai komentar negatif ini.

Realita inilah yang membuat para dokter merasa ulasan online merupakan sesuatu hal yang tidak adil.

Ingin membawanya ke jalur hukum? Pikirkan dulu!

Saat merasa difitnah, banyak dokter memutuskan untuk melindungi reputasi mereka dan menyelesaikan pokok permasalan yang ada. Namun karena tidak ingin bertengkar, ada dokter yang memutuskan untuk langsung melaporkan fitnah ini ke jalur hukum.

Law and justice: Nonetheless, there are doctors who retaliate by commencing defamation suits against their patients over their reviews.
Law and justice: Nonetheless, there are doctors who retaliate by commencing defamation suits against their patients over their reviews.


Sayangnya, di Amerika, kemungkinan menang dalam kasus fitnah sangat rendah.

Alasan pertamanya adalah karena hukum fitnah bisa dibantah dengan hak berbicara dan mengungkapkan pendapat. Kedua, penggugat harus memiliki bukti yang sangat kuat. Didukung dengan fakta bahwa pasien mungkin dilindungi oleh "perlindungan hak berbicara dan afirmasi", membuat "hanya 13% gugatan fitnah yang berhasil diproses pengadilan". Dan kegagalan ini bisa jadi membuat reputasi para dokter semakin buruk.

Dengan demikian, menggugat pasien mungkin bukanlah keputusan terbaik. Selain itu, dokter juga perlu menyadari bahwa "litigasi bisa membuat publik menciptakan klaim lain" yang mungkin semakin merusak reputasi dokter. Pikirkan juga biaya yang perlu dikeluarkan mengingat "pengacara biasanya tidak mau secara sukarela berurusan dengan kasus fitnah". Ditambah lagi dengan sanksi dari pengadilan yang membuat dokter penggugat harus membayar biaya pengacara pasien.

Inilah beberapa alasan mengapa dokter sebaiknya memikirkan secara matang jika ingin menggugat fitnah. Meskipun demikian, jika memang harus melakukannya, ingatlah untuk "berhati-hati dan memikirkan baik-baik keputusan tersebut".

Solusi lain

Maka langkah apa yang bisa diambil oleh dokter? Jangan terlalu defensif terhadap ulasan negatif, namun gunakan saat ini untuk memanfaatkan komentar negatif pasien. Mungkin akan tampak aneh, tetapi Sean D. Lee menyebutkan bahwa "dokter perlu memanfaatkan komentar tersebut untuk menyampaikan nilai positif praktek mereka". Ia juga menyarankan para dokter untuk terus memeriksa profil online mereka sehingga mereka dapat langsung bereaksi dan "mengatasi komentar yang berpotensi merusak reputasi".

Savvy physicians should take advantage of these resources to deliver a message that presents their practices in the best light.
Savvy physicians should take advantage of these resources to deliver a message that presents their practices in the best light.


Mungkin akan ada lebih banyak ruang untuk solusi filosofis. Terimalah ulasan negatif sebagai bagian dan hadiah dari praktek medis di era teknologi ini. Percayalah pasien bisa membedakan antara "saran dan rengekan atau ejekan". Terakhir, jika terdapat beberapa keluhan berulang tentang praktek tertentu, gunakan komentar tersebut sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri.

Karena pada dasarnya, ulasan online memberikan "kesempatan langka bagi dokter untuk lebih mengenal pasiennya". Jika dilihat dari sisi positif, informasi dari pasien bisa digunakan sebagai pendorong bagi dokter untuk bekerja lebih baik demi pasien. Dengan demikian, bukan hanya pasien yang menang. Dokter juga akan menang, ingatlah saran dari Eric Goldman, "Tenaga kesehatan yang baik akan dikenal dari pelayanan mereka yang berkualitas".

Dari perspektif ini, mungkin beberapa ulasan baik juga bisa muncul — di samping ulasan negatif. MIMS

Bacaan lain:

Dokter zaman ‘Now’ – Potensi bocornya informasi kesehatan pasien melalui media sosial
Facebook dan pemahaman publik
Dokter: 5 tips menggunakan media sosial

Sumber:
https://scholarlycommons.law.case.edu/cgi/viewcontent.cgi?referer=
https://www.google.com/&httpsredir=1&article=1076&context=healthmatrix
http://digitalcommons.law.scu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1289&context=historical
http://digitalcommons.law.scu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1812&context=facpubs