Bernapas merupakan kegiatan yang selalu dilakukan manusia. Meskipun demikian, banyak orang tidak menyadari mekanisme pernapasan dan juga konsekuensi dari cara bernapas yang salah.

Contohnya adalah bernapas melalui mulut banyak dihubungkan dengan berbagai konsekuensi kesehatan. Selain itu, manusia bisa jadi secara tidak sadar bernapas melalui mulut karena ada obstruksi saluran napas, baik itu karena akumulasi mukosa akibat infeksi atau rhinitis alergi.

Praktisi kesehatan seperti Alan Ruth sudah menyatakan adanya beragam manfaat dari bernapas melalui hidung.

Bernapas melalui hidung berfungsi untuk menangkap partikel besar, memfasilitasi inhalasi nitrat oksida (vasodilator dan bronkodilator) dan juga menjaga kelembapan dari udara yang dihembuskan. Hal ini bisa mencegah kekeringan hidung dan memfasilitasi diafragma agar bekerja dengan benar.

Efek negatif bernapas melalui mulut

Menurut penelitian yang dipublikasi pada 2010, kebanyakan tenaga kesehatan tidak menyadari masalah fisik, medis dan sosial yang berhubungan dengan bernapas melalui mulut. Bernapas melalui mulut bisa menyebabkan buruknya kebiasaan tidur, dan kemudian mengganggu pertumbuhan dan performa akademik pada anak-anak.

Yosh Jefferson, penulis penelitian, menyatakan bahwa banyak anak-anak yang melakukan hal ini seringkali salah didiagnosis dan disebut menderita attention deficit disorder (ADD) dan hiperaktif.

Bernapas melalui mulut bisa mengganggu pertumbuhan tulang

Bernapas melalui mulut juga bisa mengganggu pola pertumbuhan tulang. Hal ini ditemukan oleh C. Grippaudo dan beberapa peneliti lain di Italia. Korelasi signifikan ditemukan berhubungan dengan pernapasan melalui mulut dan maloklusi (pertumbuhan gigi yang tidak rata).

Penelitian di tahun 2016 menemukan bahwa bernapas melalui mulut berhubungan secara signifikan dengan masalah gigi. Penulis penelitian menyebutkan bahwa intervensi awal pada faktor etiologi penapasan melalui mulut penting dilakukan untuk menghindari semakin memburuknya maloklusi.

Bernapas melalui mulut menyebabkan dermatitis atopik

Sebuah laporan penelitian dipublikasi tahun 2015 mengenai hubungan bernapas melalui mulut dengan prevalensi dermatitis atopik pada anak-anak. Harutaka Yamaguchi dan beberapa peneliti lain menemukan adanya hubungan antara bernapas melalui mulut dan dermatitis atopik pada anak-anak Jepang usia prasekolah yang berusia dua hingga enam tahun.

Menurut hasil penelitian, dermatitis atopik terjadi pada 22,3% anak yang bernapas terus-menerus melalui mulut, 12,7% anak yang terkadang bernapas melalui mulut dan 7,0% anak yang bernapas terus-menerus menggunakan hidung.

Mungkin perlu dilakukan perawatan gigi

Berdasarkan penemuan tersebut, penting untuk menyadari peran dokter gigi dalam mengidentifikasi gejala awal bernapas melalui mulut, khususnya pada anak-anak. Dokter gigi bisa menyadari gejala apapun yang berhubungan dengan bernapas melalui mulut dan pembengkakan amandel, dan pasien bisa dirujuk ke dokter spesialis telinga-hidung-tenggorokan (THT) saat dibutuhkan.

Tentu saja, intervensi awal penting untuk mengubah kebiasaan bernapas yang salah ini mengingat banyaknya pengaruh pada fungsi biologis tubuh.

Dimulai dari fungsi yang paling lokal, seperti penggunaan otot berlebih, gangguan pertumbuhan dan fungsi kraniofasial, kesadaran kemosensorik, perkembangan saluran makan dan napas, hingga fungsi yang lebih umum. Fungsi umum termasuk kualitas tidur, karakter tempramental, reaktivitas stres dan kualitas hidup. MIMS

Bacaan lain:
Mengulas kasus "Ganja untuk Istri" Fidelis Ari Sudarwoto dari pandangan medis
5 poin penting BPJS yang perlu diketahui oleh tenaga kesehatan
Ketidak jelasan ilmu pengetahuan mengenai memori bau
Kemajuan ilmu pengetahuan mengenai penyakit Parkinson


Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3397177/
http://www.lenus.ie/hse/bitstream/10147/559021/1/JAN15Art7.pdf
https://www.sciencedaily.com/releases/2010/04/100406125714.htm
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5225794/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4411141/