Helen Chen, seorang wanita Taiwan-Amerika yang didiagnosis kanker payudara di usia muda, 27 tahun, menyatakan bahwa ia tidak percaya karena awalnya ia kira kanker merupakan penyakit "usia tua".

Anggapan kanker sebagai 'penyakit orang barat' atau 'penyakit orang berkulit putih' sangat merugikan – bukan hanya pada keturunan Asia di negara Barat, tetapi juga di negara Asia Selatan dan Timur.

Anggapan kanker payudara merupakan penyakit wanita berkulit putih merupakan pola seni rumah sakit barat, karena banyak orang mengadakan penggalangan dana dan berpartisipasi untuk mengumpulkan uang demi terapi pasien. Meskipun benar adanya – dan negara ini memiliki kemajuan signifikan dalam menyembuhkan pasien – namun di negara Asia, keparahan dan penyebaran penyakit sangat buruk.

Masalahnya dimulai saat pasien melakukan pendekatan dengan gaya 'Barat'

Banyak pemeriksaan dan terapi awal kanker payudara yang tidak mendukung. Misalnya, mereka lebih percaya pada asumsi dengan keterbatasan pendidikan yang mereka miliki; kebanyakan wanita di Asia tidak memiliki pendidikan setinggi mereka yang berkulit putih.

Biasanya juga ada batasan bahasa – khususnya bagi mereka yang baru berimigrasi ke negara barat. Wanita dengan gejala kanker payudara mungkin ragu mencari bantuan "setelah 30 tahun tidak bisa menggunakan bahasa setempat dan mendapat pelayanan yang mereka inginkan," ungkap Betty Guzman, seorang mantan pengidap kanker payudara yang pindah dari Filipina ke Amerika Serikat.

Selain itu, kanker payudara biasanya didiskusikan secara terbuka di negara Barat – tetapi membagikan informasi seringkali tidak dilakukan oleh wanita Asia, karena mereka cenderung tidak suka membagikan informasi pribadi.

Dan yang lebih mengagetkan lagi, pandangan orang Barat mengenai penyakit ini juga memengaruhi sistem pengobatan yang diberikan di negara Asia. Selama 20 tahun terakhir, penyakit kronik, termasuk kanker, bisa dijadikan sebagai kerugian ekonomi sebesar USD100 miliar dan USD 2,8 triliun di negara berkembang, menurut peneliti di Forum Ekonomi Dunia.

Mudahnya, orang-orang menganggap malnutrisi, bencana alam, kesulitan air bersih, banyaknya orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan wabah virus sebagai masalah kesehatan terbesar – tetapi, bukan kanker. Hal ini sangat memengaruhi investasi dalam intervensi kesehatan untuk mendiagnosis dan mengobati kanker secara lebih efisien dan tepat waktu. Sekarang ini, negara berpendapatan rendah hanya menggunakan kurang dari 5% pengeluaran dunia untuk kanker – meskipun negara-negara ini memiliki angka kasus kanker 80% dari beban kanker dunia.

Kurangnya pengetahuan menyebabkan kanker menjadi 'silent killer'

Anggapan seperti ini membuat wanita Asia tidak sadar, dan tidak mematuhi proses pemeriksaan dan teknik pencegahan. Penelitian kualitatif mengenai persepsi pasien kanker mengenai pemeriksaan kanker oleh Universiti Sains Malaysia (USM) mengumpulkan respon untuk beberapa pertanyaan peneliti.

"Saya tidak pernah membaca hal mengenai pemeriksaan kanker sebelum diagnosis. Saya hanya pernah membaca poster di rumah sakit, yang biasanya dalam bahasa Melayu. Namun, seharusnya juga ditulis dalam bahasa lain, seperti Tamil atau Mandarin. Terkadang, ada juga yang dalam bahasa Inggris, namun saya tidak paham artinya," kata seorang responden.

"Akses memainkan peran yang besar – tidak mengetahui jenis akses apa yang tersedia. Dalam hal batasan pemeriksaan, beberapa orang berpikir, 'Jika saya tidak merasakan apa-apa, mengapa saya perlu memeriksakan diri ke dokter?'" ungkap Scarlett Lin Gomez, seorang peneliti di Institut Pencegahan Kanker di California.

Pemeriksaan kembali juga sulit dilakukan. Dr Rita Ghatak, kepala Program Kesehatan Pelayanan Orang Lanjut Usia di Universitas Stanford, menjelaskan – ada kecenderungan pasien kanker payudara di Asia tidak melakukan kontak dengan para dokter, dokter spesialis yang mahal, klinik dan pemeriksa, yang bisa memberikan efek buruk pada kelanjutan terapi.

Wanita Asia juga jarang mengikuti program pemeriksaan kembali setelah ditemukan mamogram yang abnormal, menurut penelitian yang dilakukan oleh Kim Hanh Nguyen dan Dr. Leah Karliner dari Universitas California. Dengan mengevaluasi data dari lebih dari 50.000 wanita selama sepuluh tahun terakhir, peneliti menemukan bahwa hanya 57% wanita Asia melakukan pemeriksaan kembali setelah satu bulan dibandingkan dengan 77% wanita berkulit putih.

Tentu saja, masalah ini menyebabkan kurangnya pengetahuan mengenai penyakit dan saat para wanita ini sudah sekarat, penyakit menjadi sebuah stigma sosial yang sudah tersebar luas. MIMS

Bacaan lain:

6 penemuan baru di tahun 2016 untuk melawan kanker payudara
Cryotherapy: Membekukan kanker payudara
Eksisi dengan vakum berhasil diaplikasikan untuk manajemen kanker payudara

Sumber:
https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/1471-2458-13-48
https://www.indiacurrents.com/breast-cancer-the-hidden-epidemic/
http://www.huffingtonpost.com/entry/asian-american-women-breast-cancer_us_596d181be4b0e983c0584166 
https://www.ucsf.edu/news/2017/06/407371/ucsf-study-reveals-longer-follow-time-asian-american-women-after-abnormal