Di Laos, keputusaasaan membuat semakin berkembangnya bisnis ibu pengganti. Banyak klinik fertilitas - meskipun tidak diizinkan - menyediakan jasa untuk pasangan yang mencari bantuan atas masalah fertilitas yang dialaminya.

Sejak 2015, klinik maju dan modern banyak menggunakan kata-kata seperti "Keajaiban" dan "Sempurna" untuk membuat mereka tampak menonjol di antara persaingan bisnis fertilitas di ibukota Laos, Vientiane.

Karena lokasinya berdekatan dengan perbatasan Thailand, kelompok hak asasi mengatakan lokasi ini membuat Laos - salah satu negara termiskin di Asia - menjadi pusat barang selundupan seperti narkoba, kayu dan yang terbaru adalah semen.

Di bulan April, polisi berhasil menangkap enam vial semen manusia dalam tangki berisi nitrogen cair di Laos untuk dikirimkan ke klinik fertilitas.

Pelanggan Australia dan Cina mengarah ke Laos

"Laos memiliki sistem pemerintahan terbaik. Penyewaan dan donasi telur tidak ilegal!" ungkap seorang staf klinik, Thai Perfect IVF, di WeChat di Cina, berharap bisa menarik pelanggan dari Cina dimana pelayanan terhadap penyewaan dianggap ilegal sejak tahun 2001.

Ini hanya salah satu media iklan dari sekian banyak iklan di media sosial, dan berhasil menarik ratusan dan ribuan pasang suami-istri infertil dan perawan agar pergi ke Laos untuk mencari penyewaan atau prosedur IVF.

"Banyak orang pergi ke Laos," kata Sam Everingham, direktur Yayasan nirlaba Families Through Surrogacy, yang mengatakan sudah ada 600 pasang suami-istri dan lajang yang mengunjungi Laos di empat tahun terakhir.

Mengikat bisnis penyewaan di Asia Tenggara

Fertility clinic Miracle IVF Centre in Vientiane, Laos. Photo credit: Phoonsab Thevongsa/Reuters
Fertility clinic Miracle IVF Centre in Vientiane, Laos. Photo credit: Phoonsab Thevongsa/Reuters


Penyewaan berbayar baru-baru ini dianggap sebagai masalah Komisi Hak Asasi Manusia, karena banyaknya skandal bermunculan. Bisnis ini banyak dilarang di banyak negara seperti Thailand di tahun 2015, setelah beberapa seri kasus - termasuk pasangan Australia yang menelantarkan bayi dengan Down's syndrome.

Kamboja juga mengeluarkan keputusan tahun lalu setelah Phnom Penh menahan seorang perawat Australia Tammy Davis-Charles yang melakukan bisnis penyewaan. Tetapi negara berpendapatan rendah banyak mendukung bisnis ini, dibandingkan negara berpendapatan tinggi.

Paket jasa, dimulai dari pemeriksaan calon ibu sewaan untuk melahirkan anak, biasanya berkisar USD51.150 di Asia Tenggara, ungkap agen penyewaan New Genetics Global, sehingga menjadi negara termurah ketiga setelah Ukraina dan Kenya.

Seorang pasangan Australia dikatakan perlu membayar sebesar AUD75.000 untuk seorang bayi di Laos - lebih murah dari Amerika Serikat, meskipun dikatakan lebih mahal daripada di Ukraina, ungkap Everingham. Ibu sewaan hanya akan menerima 10% dari jumlah biaya tersebut, namun harga ini masih tergolong tinggi dibandingkan pekerjaan lain di Laos.

Seorang ibu sewaan berusia 28 tahun mengatakan ia dibayar USD8.000 untuk bayi kembar - sekitar 72 kali gaji minimal bulanan negara tersebut. Ia juga diakomodasi di Bangkok selama trimester ketiga kehamilan.

Kurangnya fasilitas medis untuk menangani ibu sewaan

Pelarangan di berbagai negara membuat banyak orang lari ke Laos - dimana, ibu sewaan biasa dibuat hamil di Laos, tetapi akan melahirkan di Thailand atau negara lain.

Fasilitas medis di Laos juga tidak mendukung prosesi melahirkan dari ibu sewaan, yang kemungkinan melahirkan anak kembar dari prosedur IVF, dan cenderung lahir sebelum waktunya dan membutuhkan penanganan dokter spesialis.

"Unit Perawatan Intensif Neonatus hanya tersedia di Thailand," kata Everingham, yang bekerjasama dengan dua rumah sakit di Thailand dan dua fasilitas kesehatan di Vientiane untuk ibu sewaan.

Dengan semakin majunya perawatan medis, tidak perlu diragukan lagi mengapa Thailand masih menjadi pusat ibu sewaan. Selain itu, pemerintah Thailand juga tidak melarang ibu sewaan untuk melahirkan bayinya di sana, meskipun ibu sewaan harus "mengidentifikasi ayah biologis sang bayi," ungkap Thongchai Keeratihuttayakorn, wakil direktur Depertemen Pendukung Pelayanan Kesehatan.

Masa depan bisnis "penyewaan rahim"

Meskipun begitu, masa depan bisnis ibu sewaan tampak suram. Terutama karena banyaknya tekanan dari negara tetangga yang lebih maju dan berbagai organisasi hak asasi manusia, pemerintah Laos mungkin melarang penyewaan rahim komersil.

Organisasi hak asasi manusia seperti Sensible Surrogacy di Nevada banyak memeringati pasangan untuk menghindari Laos, dan menjauhi praktek demikian di Asia Tenggara.

"Meskipun pemerintah tidak menentang hal ini selama beberapa bulan terakhir... namun gerakan pemerintah cenderung cepat dan komprehensif," catat Sensible Surrogacy, yayasan di Las Vegas, di website nya.

Kasus penyelundupan sperma sudah banyak menarik perhatian nasional dengan pemerintah Laos sendiri sedang melakukan penyelidikan mengenai hal ini. Tidak ada hukum yang mengantur penyewaan rahim dan tidak ada klinik di Laos yang memiliki izin untuk menawarkan pelayanan ibu sewaan, kata Dr Chanphomma Vongsamphan, direktur umum Menteri Kesehatan.

Kelompok Hak Asasi Manusia juga mempertimbangkan kemungkinan eksploitasi ibu sewaan karena tidak adanya peraturan di negara tersebut, sehingga sulit untuk mengetahui apa yang terjadi pada wanita miskin, yang daftar menjadi ibu sewaan. MIMS

Bacaan lain:
Wanita muda dibujuk untuk membuang rahim di India
Transplantasi rahim sekarang bisa dilakukan pada manusia
Rahim buatan untuk masa depan masalah fertilitas dan perawatan neonatus

Sumber:
http://www.freemalaysiatoday.com/category/world/2017/06/08/wombs-for-rent-business-flourishes-in-communist-laos/
http://www.straitstimes.com/asia/se-asia/rent-a-womb-trade-goes-cross-border-in-parts-of-indochina
http://www.straitstimes.com/asia/se-asia/thai-clinic-denies-role-in-sperm-smuggling
http://www.reuters.com/article/us-laos-surrogacy-idUSKBN18Y39R