Beberapa tahun terakhir ini, sejumlah obat yang diperkirakan bisa menguasai pasar, berakhir dengan menjadi kerugian komersil akibat perdebatan serius mengenai harga obat.

Karena semakin kuatnya tekanan dan tantangan dari konsumen dan distributor, Presiden Donald Trump berjanji untuk menurunkan harga obat.

"Beberapa tahun lalu, mendapat persetujuan berarti mendapatkan akses luas" ke pasien, kata Simos Simeonidis, seorang analis bioteknologi di Pasar Pusat RBC. "Ini bukan lagi menjadi kasusnya."

Industri farmasi menghadapi sedikit kekhawatiran karena harga obat

Pada 28 Maret, FDA menyetujui terapi obat untuk manajemen eksim, dupilumab. Wall Street memperkirakan obat ini bisa meraup keuntungan lebih dari 5 miliar USD dalam setahun tetapi obat ini dihargai 37.000 USD satu tahun, tampaknya banyak pasien akan menolak harga yang tinggi dan menolak resep obat, sehingga industri farmasi harus memperhitungkan kembali harapan keuntungan mereka.

Hal ini membuat produsen khawatir mengingat ekspektasi investor yang tidak pernah berubah. Investor sudah menghabiskan ratusan juta dollar untuk pengembangan dan pemasaran obat.

Selain itu, ekspektasi yang terlalu kecil bisa membuat membahayakan posisi mereka di pasar saham, tetapi harga obat yang terlalu tinggi bisa meningkatkan risiko penolakan resep obat atau penolakan asuransi.

Proses pengembangan obat: Waktu, uang dan kegagalan

Proses pengembangan obat baru itu bukan proses yang murah dan mudah. Banyak penelitian menunjukkan hasil positif, namun hanya kurang dari 12% obat yang berhasil masuk ke apotek. Juga dibutuhkan biaya sekitar USD 2,6 miliar untuk memasarkan obat.

Proses ini kebanyakan diisi dengan beragam percobaan, dan ada banyak kemungkinan peneliti farmasetik menggunakan robot pipet untuk menguji ribuan varian sekaligus. Molekul terbaik masih ke tahap selanjutnya - model binatang atau kultur sel - sebelum masuk ke tahap penelitian klinis yang berisi hewan yang lebih besar dan manusia - yang terkadang masih gagal.

"Perkembangan obat bisa gagal karena banyak alasan," kata ahli epidemiologi genetik, Aroon Hingorani. "Meskipun demikian, alasan utamanya adalah kegagalan memilih target yang benar untuk mengobati penyakit."

Dibutuhkan perhitungan uang dan waktu untuk memperhitungkan biaya obat. Peneliti mengestimasikan sekitar 15% hingga 20% biaya obat baru diambil dari fase penelitian - dibutuhkan uang ratusan juta dan tiga hingga enam tahun hingga berhasil memasarkan obat.

AI: solusi untuk identifikasi potensi molekul obat

Untuk menurunkan biaya dan kegagalan, peneliti banyak menggunakan komputer dan artificial intelligence (AI) untuk memperkecil daftar potensi molekul obat - menghemat waktu dan uang saat melakukan pengujian.

Banyak algoritma tersedia untuk mengidentifikasi gen pengkode protein pengikat obat - termausk dalam model terbaru yang digunakan oleh kelompok Hingorani.

Model prediktif ini bisa mengidentifikasi beberapa kombinasi informasi genetik dari data struktur protein dan interaksi obat yang mungkin muncul, dan menghasilkan 4.500 target obat baru - dua kali lebih banyak dari jumlah genom manusia yang sebelumnya disebut "bisa diobati"

Dua orang dokter pernah mencoba membatasi data, dan mereka menemukan ada 144 obat yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit baru. Pendekatan komputasional bisa mempercepat proses penelitian dan juga menghemat biaya.

Dan dalam hal penemuan obat, waktu adalah uang.

Dibutuhkan dukungan penelitian untuk penggunaan AI dalam penyediaan obat

Tetapi belum ada obat yang berasal dari sistem AI. Banyak kritik bermunculan mengenai pendekatan komputasional murni ini - banyak peneliti juga berusaha mencari bukti nyata.

Perusahaan Hingorani, twoXAR sedang berusaha mengumpulkan buktinya. Dalam kolaborasi dengan Pusat Hati Asia di Stanford, software Hingorani berhasil mengidentifikasi 10 kemungkinan terapi, yang Samuel So, direktur pusat percobaan hati.

Dari daftar ini, salah satu obatnya sudah memasuki penelitian manusia dan beberapa obat lainnya menjadi satu-satunya obat kanker yang sudah disetujui FDA dengan waktu pengembangan lima tahun - berhasil dikembangkan oleh twoXAR dan Stanford hanya dalam waktu empat bulan.

Solusi ini mungkin menjadi apa yang dicari industri farmasi untuk menurunkan kemungkinan kegagalan penelitian mereka. Akhirnya, dengan waktu sebentar, manusia sudah bisa menghasilkan miliaran dollar, dan menyelamatkan nyawa manusia. MIMS

Bacaan lain:
Apakah obat biosimilar benar-benar lebih murah?
Apakah 'obat pintar' benar-benar memiliki kecerdasan tanpa menimbulkan efek samping?
Dongeng pola makanan dan terapi obat di balik gigi kaum Neanderthal
FDA menyetujui obat pertama untuk terapi diskinesia tardif


Sumber:
https://www.statnews.com/2017/03/29/biotech-blockbuster-eczema/
https://www.statnews.com/2017/03/29/manchin-mylan-drug-pricing/
https://www.wired.com/2017/03/supercomputers-stocking-next-generation-drug-pipelines/