Lari maraton merupakan kegiatan yang melelahkan. Nyeri di bagian punggung bawah dan lutut sering dialami pelari, namun mereka tetap bertahan saat latihan. Penelitian jangka panjang terbaru berusaha untuk menyediakan bentuk kenyamanan kepada para pelari. Penelitian ini melakukan observasi terhadap individu yang sering melakukan lari maraton dan kemudian melakukan pemeriksaan kembali setelah 20 sampai 30 tahun kemudian. 

Selain menjaga berat badan tetap stabil, berlari dapat meningkatkan angka harapan hidup karena dapat menghindari penyakit seperti diabetes, osteoartritis, dan penyakit kardiovaskular. Dr Reed Ferber dari Running Injury Clinic di Kanada mengatakan "Berlari bukan hal yang buruk untuk sendi, pergelangan kaki, lutut, maupun sendi panggul".

World Health Organization (WHO) bahkan merekomendasikan untuk melakukan aktivitas mingguan yang terdiri dari aktivitas fisik dengan intensitas berat, seperti berlari selama 75 menit, atau aktivitas intensitas sedang seperti berjalan cepat selama 150 menit.

Meskipun sangat baik, namun tetap harus berhati-hati


Sebuah studi di Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam jurnal Progress in Cardiovascular Diseases pada bulan Maret juga mendukung pernyataan bahwa pelari memiliki harapan hidup lebih lama.  Studi ini melakukan analisis terhadap data 55.000 pria dan wanita berusia 18 hingga 100 tahun yang berasal dari studi lain yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology di tahun 2014.

Dalam studi tersebut, dilaporkan bahwa kelompok pelari memiliki risiko mengalami kematian prematur lebih rendah, yaitu sebesar 30% dan kematian akibat penyakit kardiovaskular 45% lebih rendah dibandingkan kelompok non-pelari. Pelari juga memiliki usia kehidupan yang lebih panjang dibandingkan kelompok non-pelari. Hal ini menyebabkan berlari menduduki peringkat teratas dalam kelompok aktivitas fisik dengan beragam manfaat.

"Berlari mungkin merupakan bentuk gaya hidup paling hemat dari sudut pandang kesehatan masyarakat," tutur penulis penelitian.

Selain itu, Julien Schipman, seorang ahli kesehatan olahraga di France's Institute of Sport and Performance juga mengaitkan aktivitas berlari dengan keuntungan lainnya. 

"Berlari bagus untuk kesehatan mental dengan memproduksi hormon endorfin yang dapat mnciptakan perasaan sejahtera," tutur Schipman. 

Kunci untuk memperoleh hasil maksimal dari berlari adalah dengan tidak berlari secara berlebihan dan perhatikan isyarat tubuh untuk mecegah cedera pada punggung bawah dan lutut. Seperti yang dijelaskan oleh Dr Ferber, seorang pelari dengan cedera sebelumnya kemungkinan besar dapat memperparah cedera tersebut akibat latihan terus-menerus.

Sementara pada pasien artritis, berlari bukan suatu larangan, tetapi dibutuhkan perhatian lebih untuk mencegah cedera lebih lanjut. 

Berlari juga memiliki risiko serangan jantung dan kematian tiba-tiba sehingga setiap orang direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk mempertimbangkan faktor-faktor seperti berat badan, usia, dan kebiasaan gaya hidup.

Stephane Cade, seorang ahli jantung dalam bidang kesehatan olahraga, mengatakan bahwa kematian seringkali berhubungan dengan penyakit jantung yang tidak pernah disadari hingga akhirnya muncul karena dipicu oleh berlari. 

Walaupun demikian, Cade juga mengungkapkan bahwa risiko kematian dapat diperkecil dengan menerapkan variasi laju kecepatan berlari.

Jangan membebani tubuh untuk mencegah cedera

Latihan dengan tenaga bisa menurunkan risiko kematian prematur
Latihan dengan tenaga bisa menurunkan risiko kematian prematur

Berlari bukan merupakan satu-satunya aktivitas fisik yang dapat menurunkan risiko kematian prematur. Latihan kekuatan tubuh seperti berjongkok, angkat besi, dan push-up juga dianggap bermanfaat menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Sydney di Australia. Studi ini menunjukkan bahwa olahraga yang meningkatkan kekuatan otot dapat diasosiasikan dengan penurunan risiko kematian yang disebabkan oleh berbagai hal, termasuk kematian yang diakibatkan kanker. 

Melalui analisis data 80.306 orang dewasa berusia 30 tahun ke atas dari Health Survey for England dan Scottish Health Survey, Dr Emmanuel Stamatakis, seorang profesor di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Charles Perkins Centre, menemukan bahwa individu yang rutin melakukan latihan kekuatan tubuh memiliki risiko kematian akibat semua hal sebesar 23%, dan penurunan risiko kematian akibat kanker sebesar 31%. 

"Studi ini menunjukkan bahwa olahraga yang meningkatkan kekuatan otot mungkin sama pentingnya dengan aktivitas aerobik seperti jogging dan bersepeda untuk kesehatan," ujar Dr Stamatakis.

Menurut Dr Ferber, latihan kekuatan tubuh perlu ditambahkan ke dalam aktivitas berlari, sama seperti halnya dengan penambahan aktivitas lain seperti cross-training untuk mencegah terjadinya cedera. MIMS

Bacaan lain:
Dokter sebagai contoh hidup sehat bagi pasien
Makanan adalah obat: Apakah nutrisi saja cukup untuk menyembuhkan penyakit?
Menyelesaikan masalah kesehatan dimulai dari edukasi dan perubahan gaya hidup

Sumber:
https://www.medicalnewstoday.com/articles/319975.php
http://www.businessinsider.com/marathon-running-health-benefits-long-term-knees-injuries-2017-11/?IR=T
http://www.tnp.sg/lifestyle/health/running-may-be-most-cost-effective-lifestyle-medicine
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs385/en/