Bagi Dr Elizabeth Poorman, dokter perawatan primer dan instruktur klinis di Fakultas Kedokteran Harvard, pertama kali bekerja di malam Natal merupakan hal yang sulit. Saat itu, ia merupakan seorang dokter magang di Intensive Care Unit (ICU) dan mengatakan bahwa meskipun "banyak kantor yang libur saat libur Natal, namun berbeda halnya dengan di rumah sakit. Puncak kematian cenderung meningkat di minggu terakhir bulan Desember. Bulan-bulan tersebut merupakan bulan yang sangat sibuk, dan banyak pasien kami mengalami kematian."

Ia mengatakan, "rekan sejawat saya dan saya menghabiskan Malam Natal dengan mengatur ventilator, memeriksa tekanan darah, memanggil beberapa keluarga, dan mengadakan konsultasi dengan pasien yang paling menderita dalam ruang gawat darurat. Saya merasakan apa yang dirasakan pasien saya, keluarga yang mengunjungi, dan sejawat saya. Kami semua merasakannya."

Rasa solidaritas dengan pasien juga dirasakan oleh Jenny Hugher, seorang dokter pelatih, di bulan Desember 2014, saat ia sendiri bekerja di malam Natal. Saat bekerja, seorang wanita yang sangat menderita datang dan ada seorang ibu lansia yang juga harus diperiksa.

"Saya merasa sangat ketakutan. Saya sudah pernah menyampaikan berita buruk sebelumnya, tetapi ini adalah Malam Natal. Saya membawa ibu itu ke ruangan sebelah bersama seorang perawat dan dengan berat hati, saya harus tetap berdiskusi dengannya," ungkap Hughes.

Meskipun demikian, ia kemudian merasa terkejut, sang ibu memeluknya dan berterimakasih karena ia sudah berusaha keras hari itu. "Saat itu, ia merupakan seorang wanita yang harus mendengar berita terburuk yang pernah ada, namun ia khawatir terhadap saya," tutur Hughes.

Kreativitas ada di mana saja

Poorman juga sangat terbantu karena para perawat yang mendekorasi rumah sakit dengan berbagai hiasan Natal dengan nama para dokter di atasnya. Ada juga lagu-lagu Natal dan tradisi seadanya di rumah sakit.

Faktanya, rasa kebersamaan dan keinginan untuk mengaplikasikan kebahagiaan Natal selalu ada di seluruh rumah sakit di dunia.

Nurses at Baylor Surgical Hospital at Fort Worth put up a Christmas tree made of gloves. Photo credit: onlyanurse.com
Nurses at Baylor Surgical Hospital at Fort Worth put up a Christmas tree made of gloves. Photo credit: onlyanurse.com

Meskipun demikian, bukan hanya pasien-pasien, namun para pekerja rumah sakit juga menyadari bahwa dukungan dari keluarga pasien sangat bermanfaat bagi pasien itu sendiri. Klinik Manajemen Penyakit di LIFT (Living in a Fit Tennessee) Wellness Centre di Amerika, memberikan semua pasien di Diabetes and Congestive Heart Failure Clinic satu kaos kaki berisi hadiah dan buah. Mereka juga mengumpulkan makanan kaleng bagi keluarga yang kurang beruntung.

Jackson Madison County General Hospital di Amerika juga memberikan tas berisi hadiah kepada keluarga-keluarga yang menunggu di departemen perawatan klinis dan memberikan mainan kepada pasien anak-anak di Hari Natal.

Bekerja keras demi pasien anak-anak

Rumah sakit seringkali memberikan perhatian ekstra bagi pasien anak-anak.

"Jika Anda perlu menghabiskan malam Natal di suatu tempat, Anda bisa saja menghabiskannya di rumah sakit anak," jelas Dr, Mike Rothera, seorang konsultan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) di Royal Manchester Children’s Hospital. "Anda masuk ke bangsal dan sama seperti Santa, dan anak-anak mendapat banyak sekali perhatian. Setiap tahun, Dr. Malcolm Lewis mengenakan baju Santa, membagikan hadiah dan mengambil foto bersama para pasien.

Magee-Womens Hospital of the University of Pittsburgh Medical Centre, volunteers knitted Santa blankets and caps for their newly born babies. Photo credit: @stevemellon412/Twitter/Pittsburgh Post-Gazette
Magee-Womens Hospital of the University of Pittsburgh Medical Centre, volunteers knitted Santa blankets and caps for their newly born babies. Photo credit: @stevemellon412/Twitter/Pittsburgh Post-Gazette

Tetapi bukan berarti semuanya berjalan mulus.

"Tentu saja selalu ada yang terjadi. Ada anak-anak yang mungkin tidak bisa sembuh," sebut Dr Rothera. "Ada beberapa anak penderita tumor yang sudah kami operasi dan tahu bahwa mereka mungkin tidak akan selamat. Saya sudah berdiskusi dengan orangtua mereka minggu lalu yang anaknya meninggal pada 23 Desember tahun lalu dan hal inilah yang sangat sulit bagi saya."

Namun, Dr Lewis tetap yakin, dengan mengatakan, "penyakit selalu akan datang dan saya ingin memastikan anak-anak ini bisa hidup, dan bahwa kami dapat membantu mereka menghadapi penyakitnya daripada menyerah pada penyakit yang mereka derita."

Bekerja di Hari Natal mungkin akan membawa berkat

Bagi Hughes, "Pertanyaannya adalah, mengapa kita harus bekerja di saat semua orang berkumpul bersama keluarganya? Namun jika kita telaah, sebenarnya bekerja di saat seperti ini bisa jadi merupakan waktu dengan berkat terbanyak."

"Semua pasien berterimakasih karena saya ada di sana, dan beberapa kerabat yang belum pernah saya temui sebelumnya memberikan kartu ucapan," ungkapnya. "Saat saya mulai bekerja, saya terkejut karena banyak pekerja yang kehilangan moral dan etika. Ini sangat melelahkan [dan] akhirnya Anda mulai menyesali pilihan karir Anda."

Meskipun sangat melelahkan, namun "harapannya menjadi kenyataan. Akhirnya kami bisa bekerja sama, tidak ada lagi masalah di rumah sakit, dan semangat para pasien juga ikut menjadi penyemangat saya." MIMS

Bacaan lain:

6 emosi yang pernah dirasakan semua dokter
Hari libur yang tidak menyenangkan bagi penderita Seasonal Affective Disorder
Dokter: Berikut cara agar mimpi liburan Anda menjadi kenyataan

Sumber:
https://www.theguardian.com/healthcare-network/views-from-the-nhs-frontline/2014/dec/22/nhs-staff-dread-working-christmas-fills-pride 
http://blog.hornellp.com/healthcare/how-hospitals-spread-holiday-cheer-for-patients-families-and-staff 
http://www.telegraph.co.uk/news/health/news/11308596/How-does-a-childrens-hospital-cope-at-Christmas.html 
https://www.statnews.com/2017/12/22/hospitals-labs-holiday-decor/ 
https://www.statnews.com/2017/12/22/christmas-hospital-patients-doctors/