Banyak orang merasa asing dengan perbedaan antara Intensive Care Unit (ICU) dan Instalasi Gawat Darurat (IGD), termasuk di kalangan tenaga kesehatan sendiri. Misalnya saja dalam kasus yang baru mencuat belakangan ini mengenai Bayi Debora yang tidak tertolong karena "terlambat" masuk ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit).

Banyak perdebatan muncul mengenai kasus ini. Tenaga kesehatan ada yang mendukung dan ada juga yang menyayangkan. Para dokter berusaha untuk menjelaskan bahwa kematian yang terjadi bukan karena keterlambatan masuk PICU. Namun, publik terus-menerus mempersalahkan sikap rumah sakit dan menuduh mereka tidak bertanggung jawab.

Maka, untuk menjawab pertanyaan mengenai perbedaan ICU dan IGD – termasuk untuk kalangan tenaga kesehatan sendiri, MIMS melakukan wawancara dengan seorang dokter ICU di RSUD Brigj. H. Hasan Basry Kandangan. Berikut hasil wawancara kami dengan dr. Ahmad Adityawarman.

MIMS: Bolehkah Anda jelaskan mengenai perbedaan utama ruang ICU dan ruang IGD dirumah sakit, yang sering disalahartikan oleh tenaga kesehatan lain?

dr. Ahmad: Kalau kita lihat dari namanya saja, secara umum sebenarnya kita bisa membedakan antara IGD dan ICU. Unit Gawat Darurat adalah tempat dimana tenaga kesehatan menangani pasien yang berada dalam kondisi gawat dan darurat. Gawat artinya kondisi yang mengancam nyawa atau fungsi organ, sedangkan darurat artinya terjadi secara mendadak atau sewaktu-waktu sehingga urgen atau harus segera ditangani.

Sedangkan intensive care unit sebagaimana namanya adalah ruangan dimana pasien sakit berat dan kritis dirawat secara khusus, dengan perlengkapan khusus, dipantau secara ketat dan dilakukan total care. Pemantauan dilakukan ketat  dan berkelanjutan pada keluhan atau gejala pasien, tanda-tanda vital, saturasi oksigen, keseimbangan cairan tubuh dan lain-lain. Bilamana terdapat masalah dari pemantauan ini maka akan segera dilakukan penatalaksanaan dan evaluasi. Perawatan dilakukan secara menyeluruh dalam artian semua kebutuhan dasar pasien diatur dan dibantu sedemikian rupa untuk mendukung penyembuhan.

Jadi memang perbedaan antara UGD dan ICU ya dari penanganan, pemantauan, dan perawatannya. Penanganan di UGD adalah penanganan awal yang mampu atau sementara waktu dapat menyelamatkan nyawa atau fungsi organ pasien. Setelah itu jika memang perlu pemantauan dan perawatan ketat, pasien dapat dimasukkan ke ICU. Perawatan di IGD biasanya maksimal hanya 24 jam sementara di ICU dalam jangka panjang, berhari-hari bahkan hitungan bulan. Selain itu ruang perawatan di ICU terbatas, sedangkan untuk IGD berapapun pasien yang masuk harus diterima dan ditangani.

Nah, yang biasanya disalahartikan adalah bahwa jika pasien masuk ICU itu biasanya kondisi yang awalnya buruk pasti akan jadi baik. Bahkan kadang ada tenaga kesehatan yang mengatakan kepada pasien, masuklah ICU supaya jadi baik. Padahal sebenarnya, outcome pasien tetap ditentukan dari kondisi penyakit yang mendasari maupun penanganan sebelumnya baik di IGD maupun di ruangan. Misalnya, pasien serangan jantung yang sebenarnya perlu terapi fibrinolisis, jika penanganan awal di IGD lambat atau malah tidak dapat mendiagnosis pasiennya dari awal, maka kesempatan pasien mendapatkan terapi optimal menjadi terlewat sehingga ketika dirawat di ICU pun hasilnya tidak akan optimal.

ICU - tempat pasien dirawat dengan perlengkapan khusus, dipantau ketat dan dilakukan total care
ICU - tempat pasien dirawat dengan perlengkapan khusus, dipantau ketat dan dilakukan total care

Selain itu, tenaga kesehatan di ICU tentu saja bukanlah Tuhan. Semua pasien yang masuk ICU adalah pasien kritis. Dosen anestesi saya sewaktu kuliah bahkan pernah bilang, bahwa ICU itu singkatan dari ‘I see u, u don’t see me again’. Terdengar lucu tapi kecut. Maksudnya kalau petugas ICU bertatapan dengan pasien yang baru masuk ICU, pasien itu tidak akan bisa melihat petugasnya lagi nanti karena akan meninggal. Tapi setelah saya bertugas di ICU angka mortalitas tidak sedemikian sering juga. Tentu saja kematian sudah ditentukan oleh Allah SWT. Tugas kita hanya berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan evidence based medicine. Kalau memang kondisi pasiennya sudah banyak komplikasi multiorgan misalnya, memang susah. Tapi kalau kondisi pasiennya akut dan belum banyak komplikasi serta penanganan awal di IGD benar, di ICU benar, insya Allah hasilnya juga baik.

MIMS: Kapan pasien perlu masuk ICU?

dr. Ahmad: Pasien yang dirawat di ICU adalah pasien tidak stabil yang memerlukan pemantauan ketat dengan perlengkapan khusus dan tenaga terlatih. Mereka bisa saja pasien yang kegawatdaruratannya sudah ditangani secara awal di IGD namun tetap harus dipantau karena berpotensi kondisinya kembali tidak stabil atau memerlukan terapi lanjutan yang berisiko menimbulkan efek samping yang besar. Selain itu, pasien yang sudah mendapatkan perawatan di kamar biasa maupun pasien yang baru menjalani operasi namun kondisinya tidak stabil juga perlu dirawat di ICU.

Stabil di sini adalah dalam hal fungsi fisiologis pasien dalam mempertahankan kehidupan. Biasanya fungsi itu kita singkat menjadi ABCD, yang juga menentukan urutan prioritas pasien untuk dimasukkan di ICU, karena bed di ICU terbatas. Airway (A) dan breathing (B) maksudnya kondisi jalan nafas dan organ pernafasan pasien. Jika A dan B nya terganggu atau terancam ini merupakan prioritas pertama masuk ICU. Misalnya pasien asma berat yang sudah harus perlu ventilator. Selanjutnya circulation (C), terkait dengan peredaran darah dan jantung. Ini prioritas kedua. Misalnya pasien syok atau sindrom koroner akut. Kemudian disability (D) yang menyangkut sistem saraf pusat, misalnya pasien penurunan kesadaran dengan berbagai sebab namun tanpa gangguan ABC, ini prioritas ketiga. Pasien penyakit stadium akhir, seperti kanker yang sudah menyebar kemana-mana, namun memiliki kegawatan akut, juga masuk prioritas ketiga karena kemungkinan sembuhnya sudah sangat kecil.
Pasien ICU memerlukan pemantauan ketat dengan perlengkapan khusus dan tenaga terlatih
Pasien ICU memerlukan pemantauan ketat dengan perlengkapan khusus dan tenaga terlatih


MIMS: Apakah ada cara khusus yang bisa Anda bagikan mengenai metode untuk mengatasi kecemasan pasien di ruang ICU?

dr. Ahmad: Empati dan komunikasi yang baik adalah kuncinya. Kita jelaskan apa adanya kondisi pasien, secara jujur, ramah, dan bahasa yang mudah dipahami apabila pasien dan keluarganya memang meminta untuk dijelaskan. Terkadang ada keluarga yang meminta pasien tidak diberitahu langsung kondisi penyakitnya karena keluarga melihat penyakitnya sangat serius dan mental penderita tidak siap untuk itu. Maka kita hormati keputusan keluarga, namun tetap kita jelaskan semuanya kepada keluarga. Kita seringkali harus memotivasi keluarga terdekat untuk menjadi motivator untuk penderita.

Semua pasien yang masuk ICU tentu saja cemas, karena citra ICU sudah begitu ‘mengerikan’ mungkin bagi kebanyakan orang. Sebagai muslim saya berpegang pada ajaran al-Qur’an yakni berzikirlah, ingatlah Allah maka hati akan menjadi tenang. Itu juga sering disampaikan oleh dokter anestesi kepala instalasi tempat saya bekerja. Pasien diminta sering berzikir, berdoa, shalat, karena kesembuhan hanyalah milik Allah, memintalah baik-baik kepada-Nya. Sakit adalah penghapus dosa dan segala ujian jika dijalani dengan ikhlas akan bernilai kebaikan di sisi-Nya. Jika pasien memang bisa disadarkan mengenai hal ini insya Allah ia akan menerima kondisi dirinya dan mengurangi kecemasannya.

MIMS: Bisakah Anda ceritakan satu pengalaman menarik di ICU tempat Anda bekerja?

dr Ahmad: Sebenarnya banyak hal menarik karena bekerja di ICU seringkali memaksa saya melibatkan emosi. Senang dan terharu ketika pasien keluar dari ICU dalam kondisi baik, sedih bahkan terkadang kecewa ketika ada pasien yang meninggal.

Ada satu kasus dimana kami menangani pasien myasthenia gravis dengan gagal nafas, atau krisis myastenik. Kami semua all out dalam menangani beliau. Pasien dirawat oleh dokter spesialis saraf, anestesi, jantung, rehab medik, dan paru. Bahkan kami mengadakan sebuah rapat khusus yang dihadiri semua spesialis tadi ditambah dokter spesialis penyakit dalam senior, patologi klinik, kepala instalasi farmasi, serta wakil direktur bagian pelayanan. Kesimpulan dalam rapat, kemungkinan bertahan pasien sempat diragukan. Hal ini karena adanya keterbatasan fasilitas serta kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi cukup besar. Namun kami juga bersepakat tidak mempertimbangkan masalah biaya lagi untuk mengoptimalkan terapi agar benar-benar sesuai dengan protap. Komplikasi yang kami takutkan akibat penggunaan ventilator, yakni pneumonia, akhirnya benar-benar terjadi pada pasien. Namun atas izin Allah, kondisi pasien berangsur membaik dan setelah delapan hari dirawat di ICU pasien bisa lepas dari ventilator mekanik. Setelah beberapa hari dirawat di ruang biasa akhirnya pasien bisa pulang dan hingga sekarang masih bisa bekerja. Saya kira kasus ini yang paling menarik untuk diceritakan. 

Hikmahnya, ketika semua pihak, dokter, perawat, farmasi, gizi, rehabilitasi medik dan bagian penunjang dapat bekerja sama dengan baik dalam menangani pasien, maka insya Allah hasilnya luar biasa. Selain itu penanganan yang maksimal sesuai dengan protap jauh lebih baik daripada penangan yang seadanya karena terkendala biaya.

MIMS: Apa saran Anda bagi para dokter muda dan/atau mahasiswa kedokteran yang ingin dan tertarik bergabung dalam departemen ICU?

dr. Ahmad: Ada ungkapan menarik yang pernah diucapkan oleh Sir William Osler, sang bapak kedokteran modern. To study the phenomenon of disease without books is to sail an uncharted sea, while to study books without patients is not to go to sea at all. Ini penting sekali, bahwasanya kita harus belajar teori kedokteran, termasuk intensive care, tidak hanya dari textbook semata namun harus sambil menerapkannya pada pasien yang kita rawat. Saat menjadi dokter muda adalah kesempatan yang baik untuk itu, karena kita bisa langsung mengamati fenomena penyakit pada pasien dan mendapat bimbingan langsung dari dokter-dokter senior. Maka manfaatkanlah dengan terus rajin memeriksa pasien dan berdiskusi dengan pembimbing. Ingatlah kata-kata Imam Syafi’i, barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

Belajar teori kedokteran tidak hanya dari textbook namun sambil menerapkannya pada pasien
Belajar teori kedokteran tidak hanya dari textbook namun sambil menerapkannya pada pasien

Penting sekali untuk melatih kemampuan berkomunikasi dan bekerja sebagai tim. Hal ini bisa dipelajari dengan aktif berorganisasi di kampus. Selain itu setelah lulus menjadi dokter ikutilah pelatihan yang menunjang peran kita sebagai dokter ICU nantinya, seperti Advanced Cardiac Life Support atau bahkan Fundamental Critical Care Support. MIMS

Bacaan lain:
Menghadapi krisis penggunaan obat
Semakin sibuk rumah sakit, semakin kompeten dokter lulusannya
Bagaimana desain rumah sakit bisa membuat pasien semakin sakit