Baru-baru ini, di Rumah Sakit Safdarjung di Delhi, seorang bayi yang lahir prematur di usia kehamilan 22 minggu dinyatakan meninggal oleh tenaga ahli profesional.

Meskipun pengawas rumah sakit menolak adanya "kelalaian medis" – namun penyelidikan formal dilakukan untuk memeriksa mengapa bayi ini diasumsikan meninggal.

Dokter senior tidak diberitahu

Beberapa faktor ikut berperan dalam kejadian ini, yang terungkap pada beberapa tenaga kesehatan. Pertama dan terpenting, panduan resmi WHO menggarisbawahi parameter dimana seorang bayi bisa diklasifikasikan tidak sanggup hidup.

Parameter ini meliputi berat badan rendah (di bawah 500 gram) dan dilahirkan sebelum waktunya (di usia kehamilan sekitar 20 minggu). Kedua parameter ini terpenuhi dalam kasus kematian bayi – karena bayi dilahirkan sebelum waktunya, dan berat badannya hanya 460 gram.

Informasi selanjutnya menjelaskan mengapa tenaga kesehatan menyebutkan bahwa anak ini telah meninggal. Dr AK Rai, direktur Rumah Sakit Safdarjung di New Delhi menyatakan bahwa, "karena bayi tidak membuat gerakan apapun dan tidak menangis saat dilahirkan – perawat yang mendatangi sang ibu menyatakan bahwa bayi tersebut sudah meninggal tanpa menginformasikan dokter senior dan membungkusnya dengan plastik.

Sebelumnya, perlu diperhatikan bahwa ada kemungkinan terjadi sesuatu yang berbeda jika dokter yang lebih senior berhasil melakukan konsultasi atau pemeriksaan formal dilakukan untuk memeriksa apakah bayi tersebut masih hidup (mudahnya saja, pemeriksaan kecepatan jantung dan kecepatan napas bayi).

Seorang profesional juga menyatakan bahwa bayi tersebut diperiksa satu jam sebelum keputusan bisa dibuat mengenai kematiannya. Meskipun bayi tidak langsung menangis setelah dilahirkan atau tidak ada pernapasan, namun parameter kehidupan lain harus diperiksa sebelum dinyatakan meninggal.

Pengaruhnya pada keluarga

Rohit Tandon, seorang ayah beranak satu yang berusia 27 tahun, menyatakan ia merasakan "reaksi yang campur aduk, ada kaget, lega, senang, dan marah" setelah menemukan anaknya hidup.

Ia juga mengatakan, "Saya juga menjadi khawatir bagaimana jika saya tidak mengetahui fakta sebenarnya di waktu ini." Kekhawatirannya juga merupakan hal yang hampir semua orangtua rasakan terhadap anak-anak mereka, dan mencatat alasan mengapa perhatian tambahan harus diberikan dalam menyampaikan informasi kepada orangtua.

Persiapan penguburan anak sudah berjalan saat terjadi suatu keajaiban yang menunjukkan bahwa anak ini sebenarnya masih hidup dan bergerak.

Karena penundaan waktu yang cukup panjang antara menyatakan bayi sudah meninggal dan ternyata masih hidup – kondisi anak menjadi sangat kritis dan dilaporkan dalam kondisi "berbusa" saat sampai di rumah sakit. Jika penundaan ini berhasil ditunda, kegiatan yang lebih darurat bisa diinisiasikan untuk memastikan kesehatan dan keamanan anak.

Keterlibatan pegawai rumah sakit

Dr AK Rai, seorang pengawas medis di rumah sakit mengakui bahwa, "terjadinya penyelewengan; karena tampaknya pegawai yang bertugas tidak melakukan konsultasi pada dokter, dan menyatakan bayi sudah meninggal karena tidak ada tanda-tanda kehidupan dan memiliki bobot 460 gram, yang bahkan tidak bersemangat sesuai dengan standar."

Pegawai yang bekerja di bangsal kehamilan langsung membungkus anak dengan plastik dan mengantarnya ke ayahnya. Di samping fakta bahwa fetus dengan berat kehamilan ini belum beradaptasi agar bisa hidup, namun setiap kasus harus ditangani dengan cara berbeda untuk mengkonfirmasi bahwa anak tersebut memang tidak ada kemungkinan untuk hidup.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi semua tenaga kesehatan. Bukan hanya karena kelalaian dalam praktek klinis, tetapi juga karena memengaruhi kehidupan seseorang.

Usaha harus dibuat untuk memastikan adanya komunikasi yang baik antara staf klinis, diusahakan dilakukan seefisien mungkin dan harus melakukan konsultasi ke tenaga kesehatan yang lebih senior jika ada ketidakpastian dalam suatu kasus klinis. MIMS

Bacaan lain:
Pencetus metode Leboyer: Melahirkan tanpa kekerasan
Dokter Amerika memerintahkan untuk berhenti memasarkan teknik bayi tiga-orangtua
Efek psikososial dari "terus bergerak" dan menjadi "korban kedua" dalam dunia tenaga kesehatan

Sumber:
http://indianexpress.com/article/delhi/declared-dead-by-doctors-baby-found-alive-before-burial-4710870/ 
http://indiatoday.intoday.in/story/safdarjung-hospital-stillborn-fathers-day-neonatal-death/1/981932.html 
http://www.news18.com/news/india/baby-declared-dead-by-safdarjung-hospital-comes-to-life-just-before-burial-1436419.html 
http://www.hindustantimes.com/delhi-news/delhi-hospital-hands-over-dead-newborn-to-family-boy-found-alive-at-home/story-Smo4iThwT3E1LRAYMraRgO.html 
http://www.india.com/buzz/baby-declared-dead-during-birth-by-delhis-safdarjung-hospital-found-alive-before-funeral-2248648/