"Saat saya mengatakannya ke suami saya bahwa saya menderita kanker payudara, ia kemudian mengatakan, 'Saya tidak mau melakukan apapun. Mati saja sekarang,'" ungkap seorang wanita berusia 45 tahun yang kemudian bercerai dan tidak memiliki rumah. Meskipun tampak kejam, sayangnya, beginilah realitas yang banyak dihadapi wanita beretnis Asia, di dunia.

Pendekatan ke-Barat-baratan untuk skrining dan pemeriksaan, membuat wanita dari latar belakang non-Barat cenderung tersisih dari dunia. Hal ini menciptakan kesenjangan ilmu pengetahuan mengenai skrining dan terapi, yang juga berarti wanita cenderung terlambat mendapat diagnosis dan membuat kanker tampak seperti 'hukuman mati' – menciptakan stigma yang memicu banyak wanita menghindari bantuan medis.

Stigma sosial membuat para wanita Asia menyembunyikan penyakit mereka

Salah satu stigma yang membuat pasien menyembunyikan penyakitnya adalah masalah fisik. Pravina Patel, seorang wanita Asia Selatan yang tinggal di Inggris dan kemudian didiagnosis kanker payudara di usia 36 tahun, mengatakan mereka ragu untuk melakukan tes pap smear karena mereka tidak ingin 'tercemar' atau dianggap 'tidak suci lagi'.

Bagi yang lain, agama juga memainkan peran. Betty De Guzman, seorang keturunan Filipina-Amerika yang didiagnosis kanker payudara tingkat 3 di usia 62 tahun, mengatakan, "Banyak orang Filipina percaya pada takhayul. Mereka takut mengakuinya [kanker] karena hal ini membuat mereka tampak seperti mereka memang pantas mendapatkannya... Dan membuat mereka malu."

Bharti Patel (centre), co-founder of the Asian Women Cancer Group (AWCG), with fellow members, Bharti Patel (left) and Shaila Rasania (righst). Photo credit: Teri Pengilley/Guardian.
Bharti Patel (centre), co-founder of the Asian Women Cancer Group (AWCG), with fellow members, Bharti Patel (left) and Shaila Rasania (righst). Photo credit: Teri Pengilley/Guardian.


Kanker payudara, juga seringkali dihubung-hubungkan dengan masalah seksual. "Anda tidak membicarakan mengenai kanker payudara yang Anda derita ke orang luar. Anda bahkan tidak akan menggunakan kata 'payudara'. Karena bagian ini merupakan privasi seorang wanita," jelas Bharti Patel, seorang mantan pengidap kanker payudara dan kepala Asian Women Cancer Group (AWCG) di Inggris. Kelompok ini dibuat untuk membantu memberikan tempat yang aman untuk mendiskusikan kesulitan mereka – setidaknya satu sama lain.

Ada juga ekspektasi budaya pada para wanita. Patel, misalnya, bercerai dari suaminya saat terapi – karena ia tidak bisa memenuhi ekspektasi 'bagaimana menjadi istri yang baik'. Konsekuensinya, banyak wanita ragu mencari bantuan terapi karena bisa menyebabkan perceraian.

Nilai seksisme dan moneter juga menjadi dua faktor penyebab dalam komunitas. Pooja Saini, kepala penelitian di NHS, yang meneliti ketidaksetaraan kesehatan, mengatakan, "Jika mereka [para pria dan lansia dalam komunitas besar] tidak menganggap para wanita harus melakukan pemeriksaan, sehingga mereka tidak pergi melakukannya."

Khususnya dalam negara berkembang, kesehatan seorang wanita dianggap tidak terlalu penting – karena dianggap prioritas harus diberikan pada anak-anak dan suami sebagai penanggung jawab utama kondisi ekonomi keluarga. Biaya terapi yang mahal dengan demikian menjadi kerugian bagi para wanita ini.

Para wanita lebih memilih untuk menderita sendiri

Dalam situasi ini, beberapa wanita memilih untuk menolak terapi meskipun bisa mendapatkan akses. Saini mengatakan, "Beberapa wanita memilih untuk tidak melakukan terapi karena, jika mereka mencari bantuan medis, orang-orang tahu mereka akan kehilangan rambut mereka." Yang lainnya memilih untuk tidak melakukannya karena takut "mengganggu anak-anak mereka sehingga tidak ada orang yang ingin menikahi mereka," tambahnya.

Madhu Agarwal, seorang manager pendukung kanker mengatakan bahwa seorang wanita pernah datang mencari bantuan medis sangat terlambat sehingga payudaranya sudah "menjamur" dan "busuk". "Payudaranya berbau sangat busuk sehingga Anda bahkan tidak akan mau duduk di sebelahnya," ungkapnya. Sayangnya, wanita yang memiliki anak kecil ini, kemudian meninggal.

Di instansi lain, para wanita memilih untuk mencari bantuan medis tetapi menahan rasa sakitnya sendiri. Misalnya, Patel merahasiakan terapinya, mengatakan ia merasa "sangat kesepian" saat kemoterapi. "Saya melewati hari yang sangat kelam," ungkapnya.

Deviben Patel yang berusia 63 tahun selalu mengenakan wig "dan terus merahasiakan hal ini selama satu tahun." Sedangkan Samina Hussain, salah satu anggota keluarganya menyarankannya untuk mengenakan hijab untuk menutupi kerontokan rambut yang terjadi akibat kemoterapi.

Sensitivitas budaya harus menjadi bagian dari sikap dokter

Jika dokter mengobati pasien dengan sensitivitas budaya, mereka hanya bisa membuat pasien beristirahat selama periksa. Hal ini juga bisa digunakan untuk mendorong pasien melakukan skrining dan terapi. Misalnya Dr Rita Ghatak, Kepala Aging Adult Services/Geriatric Health Program Stanford, mencatat, ibu mertuanya pernah menderita kanker payudara – dan selama mastectomy, ia ditangani dengan sensitivitas budaya yang sangat baik dan dihibur melalui perawatan yang ia terima.

Dr Ghatak memberikan arahan yang dibutuhkan wanita Asia Selatan mengenai manajemen penyakit mereka dan percaya mereka perlu melanjutkan terapi. Sikap yang kompleks antara dokter umum, dokter spesialis, klinik dan pemeriksa menghasilkan rendahnya efisiensi dan kohesi emosi. Dengan demikian, saat kontinuitas perawatan hilang, pasien tanpa dukungan mungkin akan berhenti mencari pertolongan medis.

Hal ini juga bisa jadi berguna bagi dokter untuk memeriksa kemungkinan keikutsertaan kelompok sosial dalam proses penyembuhan – seperti yang dilakukan di Jepang, mudahnya. Beberapa dokter di Jepang, saat diminta oleh keluarga pasien, tidak memberitahukan prognosis penyakit lansung ke pasien mereka – khususnya jika mereka menderita penyakit parah, karena terkadang bisa menyebabkan stres berat yang tidak bisa ditahan. MIMS

Bacaan lain:
Apakah kanker muncul karena "nasib buruk"?
Budaya memengaruhi para wanita dalam mencari bantuan medis untuk penyakit kanker
3 terobosan baru dalam penelitian mengenai kanker

Sumber:
https://www.theguardian.com/society/2012/jul/08/asian-women-breast-cancer-taboo 
https://www.indiacurrents.com/breast-cancer-the-hidden-epidemic/ 
http://www.bbc.co.uk/news/health-40802527 
http://www.huffingtonpost.com/entry/asian-american-women-breast-cancer_us_596d181be4b0e983c0584166