Rutin pekerjaan selama 12 jam atau lebih tidak hanya menyebabkan kelemahan dan kelelahan kerja - tetapi, juga berhubungan dengan efek simpang kesehatan perawat. Selain itu, kondisi ini juga berisiko untuk keamanan pasien. Penelitian yang dipublikasi di tahun 2014 menemukan bahwa jam kerja yang panjang bisa memengaruhi kepatuhan perawat dan tenaga kesehatan lain akan higienitas tangan.

Bersama dengan lebih dari 4.100 tenaga kesehatan di 35 rumah sakit di Amerika Serikat dari data mencuci tangan tiga tahun, penelitian ini menunjukkan bahwa kepatuhan higienitas tangan semakin menurun hingga 8,7% selama jam kerja 12 jam.

Selain itu, Hengchen Dai dari Universitas Pennsylvania, yang memimpin penelitian, menambahkan bahwa "semakin intens pekerjaannya, semakin besar penurunan kepatuhan pada standar higienitas tangan".

Contoh malpraktek/kelalaian disebabkan buruknya kepatuhan higienitas tangan

1. Kesalahan kemampuan

Perawat dan tenaga kesehatan lain mungkin tidak menyadari malpraktek medis saat mereka tidak memenuhi panduan higienitas tangan. Kelalaian yang paling banyak terjadi adalah kesalahan kemampuan, yang juga dikenal sebagai penurunan performa. Kesalahan ini terjadi ketika perawat melewati satu tahapan atau lupa untuk melakukan sesuatu dalam satu prosedur, seperti lupa mencuci tangan saat memberikan obat ke pasien.

2. Melanggar aturan

Malpraktek lain yang terjadi karena buruknya kepatuhan higienitas tangan adalah pelanggaran aturan, yang merupakan kesalahan yang muncul disebabkan aplikasi peraturan yang sama dari peraturan untuk menjalankan peraturan. Cuci tangan steril diharuskan bagi semua perawat dan tenaga kesehatan yang melakukan prosedur aseptik. Jika sterilitas tidak diperhatikan karena ketidak higienitas - seperti setelah memasuki kateter urin - hal ini disebut sebagai 'pelanggaran aturan', yang mengimplikasikan peraturan tidak benar yang akan membuat pasien memiliki risiko tinggi infeksi.

Kedua jenis kesalahan yang disebabkan buruknya praktek higienitas ini bisa kemudian memaparkan mikroorganisme dan patogen ke pasien. Hal ini bisa kemudian menyebabkan transmisi infeksi disebabkan tenaga kesehatan, atau bisa juga disebut infeksi nosokomial.

Alasan penurunan kepatuhan higienitas tangan

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan penurunan kepatuhan higienitas tangan. Seiring dengan semakin panjangnya jam kerja, intensitas beban kerja menghabiskan energi perawat, yang menyebabkan kapasitas regulasi diri mereka semakin menurun.

Seringkali, mereka merasa membuang-buang waktu untuk menjaga higienitas tangan, terutama saat mereka sibuk melakukan berbagai macam pekerjaa. Miskonsepsi mengenai higienitas tangan, seperti rasa percaya bahwa sarung tangan bisa digunakan sebagai alternatif dari mencuci tangan, atau pendapat bahwa iritasi kulit bisa terjadi karena terlalu sering mencuci tangan juga mengganggu kepatuhan akan higienitas tangan. 

Apa yang bisa dilakukan perawat untuk meningkatkan kepatuhan mencuci tangan?

Manager perawat bisa memberikan waktu luang antar jam kerja sehingga perawat memiliki waktu untuk mencuci tangan, bahkan di akhir jam kerja mereka. Selain itu, kepatuhan higienitas tangan perawat yang bekerja di jam selanjutnya juga bisa ditingkatkan. Peneliti mengatakan, "Secara umum, lebih banyaknya waktu kosong berhubungan dengan peningkatan angka kepatuhan."

Mencegah kelelahan perawat merupakan hal yang penting. Karena berhubungan dengan kurangnya kepatuhan higienitas tangan, maka tenaga kesehatan harus bekerjasama untuk memperbaharui pola penjadwalan yang mempromosikan istirahat optimal untuk semua perawat yang bekerja dalam waktu panjang, biasanya 12 jam.

Meskipun demikian, perawat merupakan tenaga kesehatan profesional yang bertanggung jawab untuk merawat dan menjaga keamanan pasien. Dengan demikian, kepatuhan akan praktek higienitas tangan tidak boleh lalai dilakukan bagi siapa saja yang bekerja dalam lingkungan kesehatan.

Diharapkan perawat dan tenaga kesehatan lain bisa tetap mempertahanka kepatuhan higienitas, yang kemudian bisa meningkatkan keamanan pasien dengan menurunkan kecenderungan transmisi infeksi. MIMS

Bacaan lain:

Ditemukan ratusan cacing hidup dalam perut seorang wanita India
Lantai rumah sakit bisa menjadi sumber infeksi dan memperlambat kesembuhan pasien
Tips ruang tunggu medis agar tampak lebih menyambut

Sumber:
http://www.apa.org/news/press/releases/2014/11/wash-hands.aspx
http://journals.rcni.com/doi/pdfplus/10.7748/ns.29.35.40.e9929
Mercier. C., & Thornes, N. (1997). Infection Control: Hospital and Community. Health and Fitness. 
Collins, F., & Hampton, S. (2005). ‘Hand-washing and methicillin-resistant staphylococcus aureus’, British Journal of Nursing 14:13, 703-707