Sejak lama, kromosom Y dianggap “tidak memberi pengaruh signifikan”, kecuali sebagai simbol maskulinitas. Namun, terlepas dari hubungan kromosom Y dengan jenis kelamin seseorang, sebenarnya ada lebih banyak makna dan peran kromosom Y terhadap genom manusia daripada yang kebanyakan orang tahu. Studi terbaru berhasil menunjukkan peran gen dalam kromosom Y terhadap perbedaan antara pria dan wanita, terutama dalam hal kesehatan dan kerentanan terhadap penyakit.

Risiko penyakit Alzheimer dan kanker

Untuk menjelaskan pentingnya kromosom Y terhadap kesehatan manusia, Jan Dumanski, Lars Forsberg dan rekannya meneliti pengaruh hilangnya kromosom ini dalam kumpulan sel darah dari 3.000 lebih peserta pria berusia antara 37 sampai 96 tahun, dimana data dikumpulkan dari tiga studi jangka panjang. Mereka menemukan bahwa peserta dengan porsi sel darah tertinggi tanpa kromosom Y cenderung didiagnosis menderita penyakit Alzheimer

Dalam studi (yang dipublikasikan di American Journal of Human Genetics), para peneliti juga menguji kemungkinan dampak merokok terhadap hilangnya kromosom Y – dengan mempertimbangkan fakta bahwa merokok bukan hanya merupakan faktor risiko penyebab penyakit Alzheimer, tetapi juga perkembangan kanker dan tumor di luar saluran pernafasan, yang lebih sering ditemukan pada pria daripada wanita. Hasilnya mengindikasikan bahwa merokok dapat sangat mempengaruhi hilangnya kromosom Y, sehingga meningkatkan risiko penyakit Alzheimer dan juga kanker.

"Anda mungkin pernah mendengar sebelumnya bahwa kromosom Y berukuran kecil, tidak signifikan dan mengandung sedikit informasi genetik. Hal tersebut tidak benar. Hasil kami menunjukkan bahwa kromosom Y ikut berperan dalam menekan tumor dan mungkin ini juga alasan yang menjelaskan mengapa pria lebih sering mengalami kanker daripada wanita," kata Dumanski, profesor di Departemen Imunologi, Genetika dan Patologi, Universitas Uppsala. Beliau menambahkan, "Kami percaya bahwa analisis kromosom Y di masa depan bisa menjadi penanda umum yang berguna untuk prediksi risiko kanker pada laki-laki."

Dalam sebuah studi yang lebih baru, rekan Dumanski, Lars Forsberg juga meneliti efek negatif sel tanpa kromosom Y pada fungsi sel kekebalan normal. Temuannya mengungkapkan bahwa fungsi kekebalan tubuh yang rusak pada sel darah dapat menyebabkan peningkatan risiko kematian serta berbagai penyakit lainnya pada laki-laki yang kehilangan kromosom Y.

Bagaimana masa depan pria?

An increased risk for pathology and mortality associated with the loss of the Y chromosome in blood cells could help to explain men’s shorter life expectancy compared to women.
An increased risk for pathology and mortality associated with the loss of the Y chromosome in blood cells could help to explain men’s shorter life expectancy compared to women.

Jika kromosom Y hilang – apakah itu juga berarti dunia harus bersiap-siap menghadapi masa depan tanpa manusia?

Penemuan yang dibuat oleh sekelompok ahli yang dipimpin oleh Profesor Sun Yingli di Institut Genomik Beijing, yang menganalisis kromosom X dan Y dari 72 donor laki-laki menunjukkan bahwa prediksi tentang punahnya manusia akibat hilangnya kromosom Y tampak berlebihan dan, mungkin, terlalu mengada-ada.

Manusia bisa mulai bernapas lega sejak penelitian, yang dipublikasikan dalam PLoS One, mengungkapkan bahwa fungsi dan fenotip laki-laki sebenarnya dilindungi oleh pola metilasi DNA yang stabil selama puluhan ribu tahun.

Studi lain yang dilakukan oleh para peneliti di Institut Whitehead di Cambridge, Massachusetts yang dipimpin oleh Daniel Bellot dan David Page juga membantu menjelaskan mengapa kromosom Y harus diberi lebih banyak perhatian daripada seharusnya. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, para ilmuwan merekonstruksi evolusi kromosom Y pada delapan mamalia.

Mereka menemukan bahwa kromosom Y manusia hanya kehilangan satu gen leluhur selama 25 juta tahun terakhir. Temuan mereka menunjukkan sekelompok kecil gen yang tersimpan dalam kromosom Y manusia yang menjadikannya komponen penting untuk kelangsungan hidup pria. "Ini bukan hanya contoh acak dari kumpulan kromosom Y leluhur . Ini adalah sekelompok gen elit," kata Page.

Dari pernyataan tersebut, pria seharusnya tidak perlu khawatir bila kromosom Y hilang. "Kehilangan Y bukan berarti 100% menunjukkan bahwa Anda akan terkena kanker atau Alzheimer," tutur Lars Forsberg. Menurut Forsberg, ada pria dalam penelitian yang mengalami mutasi dan hidup tanpa gejala sampai usia 90-an. "Tapi di masa depan, hilangnya Y dalam sel darah bisa menjadi biomarker baru untuk menilai risiko penyakit sehingga penyakit dapat dideteksi dan ditangani lebih awal." MIMS

Bacaan lain:
Kesehatan mental memberi pengaruh lebih besar ke pria daripada wanita
Bayi dengan 'tiga orangtua' membuktikan kontroversi ilmu pengetahuan dapat melawan infertilitas
Apakah dokter benar-benar mendengarkan keluhan pasien wanita?

Sumber:
http://www.cell.com/ajhg/fulltext/S0002-9297(16)30149-5
https://www.sciencedaily.com/releases/2016/05/160523212527.htm 
http://www.uu.se/en/media/news/article/?id=3395&area=2,4,8,10,16&typ=artikel&na=&lang=en
https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs00439-017-1799-2 
http://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0146402
https://www.nature.com/articles/nature13206 
http://wi.mit.edu/news/archive/2014/liability-viability-genes-y-chromosome-prove-essential-male-survival