Sebagai seorang dokter, saya terus mencaritahu bagaimana rumah sakit harus didesain," kata Dr Dhruv Khullar.

"Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas dengan biaya pembangunan termahal, diikuti dengan infrastruktur kompleks, teknologi, regulasi dan keamanan. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa kami membangunnya dengan salah - dan bahwa kekuarangnnya bukan dari sisi estetika atau ketidak nyamanan. Semua kesalahan desain membuat kami bingung."

Sebagai seorang dokter magang di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Fakultas Kedokteran Harvard, Khullar mengatakan bahwa bukan hanya dokter yang sulit beristirahat di rumah sakit, namun pasien juga merasakan kesulitan yang sama saat dirujuk untuk rawat inap.

Kemungkinan karena kekurangan pada desain rumah sakit, yang bisa membuat rumah sakit tampak membuat sakit, cedera, dan menurunkan kesehatan mental seseorang.

Infrastruktur yang lebih ekonomis, berkualitas tinggi dan berdesain baik

Infeksi di rumah sakit merupakan kontributor utama pada penyakit dan kematian, memengaruhi hingga 30% pasien di unit perawatan intensif. Meskipun demikian, pasien yang dirawat di rumah juga bisa mengalami masalah ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Teltsch dan kolega menunjukkan bahwa ruang pribadi bisa menurunkan risiko infeksi saluran napas dan orang lain bisa terinfeksi hanya dengan menyentuh permukaan terkontaminasi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Sadatsafavi dan kolega menemukan bahwa penghembatan dengan menurunkan infeksi pada ruangan satu kasur menyebabkan tambahan biaya dan pengeluaran operasi.

Di samping itu, memasang permukaan yang mudah dibersihkan, wastafel di tempat yang baik dan penyaring udara kualitas tinggi bisa menurunkan angka infeksi, ungkap Khullar. Teknik membersihkan merupakan faktor yang juga menyebabkan infeksi bakteri.

Sejumlah faktor desain seperti buruknya pencahayaan, lantai dan kamar mandi yang licin seringkali menciptakan satu masalah baru - jatuh, menyebabkan cedera serius, rawat inap yang lebih panjang dan biaya yang lebih mahal. Selama kejadian tersebut, seberapa cepat anggota staff bisa mendatangi pasien juga bisa membuat satu perubahan. Misalnya, desentralisasi ruang perawat agar lebih dekat ke ruang pasien dan membuat perawat bisa langsung melihat kasur pasien untuk menghindari risiko jatuh dan cedera.

Lingkungan rumah sakit yang lebih baik untuk meningkatkan kesan pasien

Menyediakan lingkungan yang baik di rumah sakit bisa jadi relevan akan bagaimana pasien bisa beristirahat dan sembuh. Selain itu, privasi masih menjadi tantangan sendiri di rumah sakit. Peneliti telah menemukan bahwa hampir semua dokter melanggar konfidensialitas pasien dengan mendiskusikan riwayat seksual atau obat pasien di saat orang asing di samping tirai bisa mendengar dengan jelas. Dengan demikian, pasien yang dibatasi oleh tirai bisa menolak membicarakan riwayat pengobatan atau menolak beberapa pemeriksaan fisik tertentu.

Selain itu, rata-rata tingkat polusi suara di rumah sakit juga ditemui melebihi batas dalam rekomendasi panduan, sehingga pasien seringkali tidak bisa tidur. Menurunkan paparan ke suara melalui penutup telinga, panel akustik penyerap suara, pembicaraan antar staf yang lebih pelan dan alarm yang tidak perlu bisa meningkatkan kualitas tidur pasien, menurut Khullar.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr Roger Ulrich, sekarang profesor arsitektur di Universitas Teknologi Chalmers di Swedia, menyarankan agar pemandangan di dinding bisa memengaruhi kesembuhan pasien setelah operasi. Penelitian menemukan bahwa pasien yang melihat pohon-pohonan memiliki lama rawat inap lebih pendek dan mengonsumsi lebih sedikit obat nyeri daripada pasien yang hanya melihat dinding bata.

Khullar mengatakan, "Banyak fasilitas harus lebih mempromosikan istirahat dan kesembuhan seiring dengan mencegah stres dan infeksi. Jelas bahwa perawatan medis sangat berhubungan dengan desain rumah sakit."

Membuat rumah sakit orang dewasa lebih tampak seperti rumah sakit untuk anak-anak

Penelitian terbaru menyarankan penyembuh rasa gelisah akibat rawat inap adalah dengan: Membuat rumah sakit orang dewasa lebih tampak seperti rumah sakit untuk anak-anak.

Di rumah sakit untuk anak-anak, terapi banyak dilakukan secara berkelompok bukan per satu orang. Sehingga, pasien yang berusia masih muda ini tidak akan sering terbangun dan bisa lebih banyak beristirahat. Atmosfer di ruangan dan bangsal yang lebih berwarna juga bisa menciptakan atmosfer yang lebih riang dan menyambut. Desain ini bisa dicapai dengan menggunakan kertas dinding dan dekorasi yang meriah.

Hal yang mungkin sama pentingnya adalah membuat pasien muda bisa mengikuti aktivitas seni seperti menulis, menggambar, musik, yang bisa mempercepat kesembuhan pasien.

Salah satu penulis penelitian, Kumar Dharmarajan, seorang asisten profesor di Fakultas Kedokteran Yale menjelaskan, "Anak-anak pergi ke satu ruang spesifik untuk mengambil darah atau mengikuti prosedur lain. Idenya adalah agar anak-anak tidak mengalami stres karena prosedur dilakukan di tempat yang sama dengan tempat mereka tidur.

"Tetapi dari sisi orang dewasa, pasien bisa secara rutin dibangunkan di tengah malam ntuk mengambil darah, terkadang mengikuti urutan yang bahkan tidak mereka ketahui. Ini merupakan tantangan bagi pasien berusia lebih tua yang memiliki masalah dengan ingatan.

Dengan demikian, Dharmarajan mengeluhkan bahwa sedikit masalah kecil bisa menyelesaikan masalah baik bagi rumah sakit dan perusahaan asuransi, karena bisa menurunkan angka rawat inap dan pemeriksaan kembali, serta menghindari mahalnya biaya perawatan. MIMS

Bacaan lain:
5 poin penting BPJS yang perlu diketahui oleh tenaga kesehatan
Tips ruang tunggu medis agar tampak lebih menyambut
Apa yang membuat website rumah sakit banyak dikunjungi?
Bagaimana cara mempertahankan kedudukan dan reputasi rumah sakit Anda


Sumber:
https://www.nytimes.com/2017/02/22/well/live/bad-hospital-design-is-making-us-sicker.html?_r=1
http://www.menshealth.com/health/hospitals-make-us-sicker
https://www.wsj.com/articles/why-hospitals-should-treat-adults-like-children-1487864240
http://www.medicine.mcgill.ca/epidemiology/hanley/reprints/TeltschICU.pdf
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6143402
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26586445