Survey yang dipublikasi pada 2000 menunjukkan bahwa dari 394 pasien yang melaporkan reaksi simpang, 49% mengalami rasa khawatir atau ketidak nyamanan, 48% mencari bantuan medis, dan 35% melaporkan terganggu dengan pekerjaannya dan aktivitas sehari-hari. Survey ini dilakukan oleh Tejal K. Gandhi dan enam peneliti lainnya.

Menariknya, hanya sedikit pasien yang perlu dirawat inap. Ini mengindikasikan bahwa reaksi simpang minor bisa membuat pengaruh negatif pada individu yang terpengaruh. Beberapa dokter merasa khawatir saat menjelaskan kemungkinan reaksi simpang ke pasien karena hal ini bisa meningkatkan kemungkinan kemunculannya. Meskipun demikian, jika risiko yang mungkin muncul sudah dijelaskan lebih awal, pasien menjadi tidak terlalu khawatir dan bisa mengatasinya dengan lebih baik lagi.

Sayangnya, reaksi simpang terapi, misalnya erupsi perkutan seperi ruam bisa jadi muncul. Saat pasien kecewa, praktisi medis - umumnya dokter perawatan primer - memiliki risiko akan dituduh melakukan malpraktek. Menurut database Medico-legal Medical Protection Society, 19% kasus medico-legal terjadi karena "masalah peresepan".

Dengan demikian, penting untuk mengedukasi pasien mengenai efek samping yang mungkin muncul sebelum dan juga sesudah terapi. Untuk meningkatkan kepuasan pasien, dokter bisa mempertimbangkan beberapa teknik yang bisa digunakan setelah mendapat laporan reaksi simpang dari pasien.

BATHE

BATHE merupakan singkatan dari 'Background-Affect-Troubles-Handling-Empathy’. Model ini dikembangkan dan dipublikasikan oleh Stuart dan Lieberman sebagai prosedur psikoterapi yang cepat untuk memeriksa faktor psikologis yang berkontribusi terjadap keluhan pasien dalam 15 menit konsultasi. Dalam sebuah penelitian pilot, BATHE efektif untuk menunjukkan rasa simpati dan empati.

Pertama, latar belakang masalah, cerita dan konteks dari pasien harus dipahami melalui mendengar aktif. Kemudian, dokter harus mengidentifikasi bagaimana hal ini bisa memengaruhi emosi pasien. Menyadari emosi mereka dan hak mereka untuk marah akan membantu memulai proses penyembuhan dan membangun hubungan terapeutik.

Kemudian, dokter harus mencaritahu masalah apa yang paling mengganggu pasien di saat itu dan selanjutnya. Misalnya, "Katakan apa yang membuat Anda takut?" pertanyaan ini bisa mendorong pasien untuk menceritakan hal-hal yang tidak dikatakan sebelumnya.

Setelah itu, menangani situasi dengan memberikan pengetahuan medis dan saran positif bisa membantu meredakan rasa takut dan marah. Dengan demikian, dengan menunjukkan empati dan simpati, pasien bisa memahami situasi yang ada, tidak merasa ditinggalkan dan sendirian.

LEARN

LEARN merupakan singkatan dari ‘Listen-Explain-Acknowledge-Recommend-Negotiate’. Pertama kali dicetuskan oleh Residen Praktek Dokter Keluarga di Pusat Kesehatan San Jose, LEARN merupakan panduan yang bisa digunakan untuk populasi pasien multikultural dengan mempertimbangkan konteks budaya. Yang juga mengartikan bisa diaplikasikan untuk menyesuaikan praktek medis dengan latar belakang budaya pasien.

Pertama, dengarkan mereka dengan penuh simpati dan berusaha memahami keinginan dan persepsi pasien. Tanyakan "bagaimana hal ini memengaruhi Anda?" dan "apa yang mungkin bisa berguna untuk Anda?"

Kemudian, dokter harus menjelaskan persepsi masalahnya, memberikan detail penjelasan biomedis untuk menjawab persepsi pasien. Selanjutnya, tunjukkan penghargaan akan penjelasan paien, dan berdasarkan pada pemahaman dokter dan pasien, buatlah persetujuan bersamaan dengan koflik konseptual yang bisa dipahami dan bisa diselesaikan dengan menjembatani ruang konseptual yang ada.

Dengan menyelesaikan kendala yang ada, dokter bisa merekomendasikan rencana terapi. Akhirnya, mengembangkan dan menegosiasikan rencana terapi yang memastikan bahwa proses terapeutik masih bisa diterapkan dalam kerangka budaya menyembuhkan dan menyehatkan.

ASSIST

ASSIST merupakan singkatan dari ‘Acknowledge-Sorry-Story-Inquiry-Solutions-Travel’. Model ini dibuat oleh Dr. Mark O' Brien dan koleganya di Institut Kognitif di Brisbane. Karena ASSIST banyak digunakan di Australia dan New Zealand, metode ini tampak sebagai metode yang bisa dipercaya untuk menuntun dokter mengatasi outcome reaksi simpang secara lebih efektif.

Pertama, dokter harus memahami masalah dan gangguan yang dialami pasien, diikuti dengan menunjukkan empati dan simpati. Kemudian, 'maaf' harus dikatakan untuk mengekspresikan rasa bersalah dan kesedihan.

Kemudian, mintalah pasien untuk menceritakan apa yang mereka ketahui mengenai outcome reaksi simpang dan apa yang mereka alami. Setelah itu, catatlah fakta kunci yang ada, dan tambahkan informasi penting dengan jujur dan transparan.

Dengan demikian, pasien bisa menarik kesimpulan mengenai bagaimana situasi ini bisa diatasi, dan tawarkan saran tambahan untuk membantu pasien. Terakhir, dokter dan pasien harus mengikuti alur ini untuk menyelesaikan masalah secara tuntas. Dokter harus mengekspresikan keinginan untuk melanjutkan perawatan dan tingkatkan frekuensi kontak dengan pasien, dan jangan menolak jika pasien ingin mengganti dokter penanggung jawabnya.

Komplikasi obat berhubungan dengan rendahnya kepuasan pasien dalam perawatan, meskipun bisa jadi tidak parah atau tidak mengancam jiwa. Meskipun demikian, ketidaknyamanan yang dihadapi pasien ini bisa jadi besar dan bisa memberikan pengaruh besar pada kehidupan mereka.

Karena reaksi obat sulit diprediksi, dokter harus mempersiapkan diri untuk mempelajari bagaimana cara menangani risiko yang mungkin muncul dalam praktek klinis. Misalnya dengan mengikuti seminar, workshop, dan lain sebagainya, yang disediakan oleh Ikatan Dokter Indonesia dan asosiasi kedokteran lainnya di luar negeri. MIMS

Bacaan lain:
Pembiayaan dari industri bisa jadi kontraindikasi dengan tujuan penelitian kontrol infeksi
Mengulas kasus "Ganja untuk Istri" Fidelis Ari Sudarwoto dari pandangan medis
WHO mengeluarkan inisiatif global untuk mengurangi kesalahan obat hingga setengahnya di tahun 2022


Sumber:
http://www.cfps.org.sg/publications/the-singapore-family-physician/article/7_pdf
https://www.researchgate.net/profile/David_Bates3/publication/227722269_Drug_Complications_in_Outpatients/links/0deec51b1f41a60748000000/Drug-Complications-in-Outpatients.pdf 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1011028/pdf/westjmed00196-0164.pdfO’ Brien (2003) Mastering Adverse Outcomes. Cognitive Institute, Brisbane, Australia
Haynes, Keith, and Malcolm Thomas. "Risk Management, Patient Safety and a Medical Protection Organisation." Clinical Risk Management in Primary Care. Oxford: Radcliffe Medical, 2005. 19-20. Print
https://www.medicalprotection.org/singapore/events-e-learning/workshops/workshops/sgp-mastering-adverse-outcomes-workshop