Gula, makanan manis ini, mendapat semakin banyak perhatian dalam beberapa tahuan belakangan saat penelitian mulai menunjukkan efek samping gula pada kesehatan manusia. Peneliti menyebut substansi ini sebagai "racun", sedangkan organisasi tenaga kesehatan terus membentuk panduan mengenai konsumsi gula. Beberapa bahkan mengadakan "pajak gula" pada pabrik manisan.

"Murni, Putih dan Mematikan" adalah bagaimana Profesor John Yudkin, seorang ahli nutrisi Inggris, mendeksripsikan mengenai gula. Sekarang, madu ditemukan memberikan efek lebih mematikan, setelah penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan kuat antara gula dan kanker.

"Warburg effect": Hubungan antara gula dan kanker bukanlah suatu hal baru

Pernyataan bahwa konsumsi gula bisa menyebabkan kanker sudah tersebar selama hampir 10 tahun. Hipotesis ini pertama kali dikeluarkan oleh penerima Hadiah Nobel Dr Otto Heinrich Warburg, di tahun 1920an.

Dalam kuliah yang diberikan kepada para penerima Hadiah Nobel di tanggal 30 Juni 1966, berjudul "The prime cause and prevention of cancer", Dr Warburg menyatakan bahwa "kanker, selain penyakit lain, memiliki banyak sekali penyebab sekunder. Hampir semua hal bisa menyebabkan kanker, Tetapi bagi kanker, hanya ada satu penyebab primer. Penyebab kanker adalah pergantian respirasi oksigen dalam sel tubuh normal oleh gula terfermentasi."

Hipotesis ini diangkat dari penelitian yang menemukan bahwa sel kanker mendapat energi dari proses fermentasi, kebalikan dari sel tubuh normal yang mendapat energi dari "respirasi oksigen" dalam mitokondria. Dalam pidato Dr Warburg, semua sel tubuh normal membutuhkan udara (aerob) sedangkan semua sel kanker adalah sebagian anaerob.

Peneliti berhasil menunjukkan buktinya dalam sepuluh tahun terakhir, dengan berusaha menjelaskan fenomena yang sekarang dikenal sebagai "Warburg effect".


Konflik mengenai bukti empiris

Salah satu bagian bukti yang mendukung hubungan antara gula dan kanker berasal dari penelitian gabungan selama sembilan tahun yang dilakukan oleh peneliti Berlgia dari beberapa institusi. Kelompok peneliti ini mengklarifikasi bagaimana Warburg effect menstimulasi pertumbuhan tumor; dengan demikian, memberikan bukti empiris untuk mendukung hubungan positif antara asupan gula dan kanker.

Profesor Johan Thevelein, salah satu kepala penelitian, menyatakan bahwa "Penelitian kami menunjukkan bagaimana konsumsi gula yang hiperaktif dari sel kanker bisa memicu siklus berbahaya, yaitu pertumbuhan dan perkembangan kanker. Dengan demikian, bisa digunakan untuk menjelaskan hubungan antara kekuatan Warburg effect dan agresivitas tumor."

Meskipun demikian, ia cukup berhati-hati dalam mengatakan bahwa "Hasil penelitian masih belum cukup untuk mengidentifikasi penyebab primer Warburg effect. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui apakah penyebab primer ini juga bisa ditemukan dalam sel ragi."

Tidak semua penelitian juga memberikan kesimpulan yang sama. Faktanya, banyak proyek penelitian menemukan hasil yang membangkitkan konflik, membingungkan, dan mengarah ke hubungan antara gula jenis tertentu dan subtipe kanker. Misalnya, sebuah penelitian cohort skala besar, yang dilakukan selama delapan tahun, pada berbagai etnis menemukan tidak ada hubungan antara asupan gula tinggi dengan kanker pankreas.

Hubungan signifikan juga ditemukan dengan asupan buah dan jus, tetapi tidak bisa ditemukan pada asupan soda. Observasi dimana asupan buah menghasilkan risiko lebih besar pada penelitian lebih lanjut, dan bisa digunakan sebagai pengingat bahwa korelasi yang ada memiliki tingkat kompleksitas tinggi.

Penemuan serupa juga ditemukan dalam jenis kanker lain. Konsumsi makanan mengandung gula banyak dihubungkan dengan peningkatan reseptor estrogen positif kanker payudara; tetapi, efek demikian tidak ditemukan jika dibandingkan dengan etnis dan status menopause subjek penelitian.

Keputusannya untuk sekarang

Maka, apakah bukti yang ditunjukkan dalam komunitas medis cukup untuk menyarankan makanan bebas gula untuk semua pasien kanker?

Tidak. Penting untuk membedakan terobosan dalam penelitian dan dalam dunia pengobatan. Hasil penelitian yang penting tidak selalu sama dengan praktek medis yang berhasil.

Hasil penelitian yang dipresentasikan oleh kelompok Profesor Thevelein akan membentuk dasar untuk terapi kanker di masa depan, tetapi untuk mengimplementasikan menu makanan bebas gula pada semua pasien kanker sekarang mungkin akan mengartikan keputusan yang tidak masuk akal – ceroboh.

Terdapat bukti saintifik yang menunjukkan bahwa berat badan berlebih atau obesitas bisa meningkatkan risiko berbagai jenis kanker – asupan gula tinggi bisa menyebabkan peningkatan berat badan. Mungkin akan lebih bijaksana jika memberikan saran agar menghindari konsumsi berlebih gula, misalnya dalam minuman bergula, kue, atau manisan, bukannya benar-benar tidak mengonsumsi gula dan karbohidrat sama sekali. MIMS

Bacaan lain:

Hadiah Nobel 2017: Dianugerahkan kepada penemu mekanisme molekular pengontrol ritme sirkadian
Apakah kanker muncul karena "nasib buruk"?
Mengapa kanker lebih banyak muncul di payudara daripada di jantung?

Sumber:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2140820/pdf/519.pdf 
http://www.independent.co.uk/news/uk/politics/budget-2017-sugar-tax-philip-hammond-fight-obesity-child-weight-gain-fizzy-drinks-a7618316.html 
http://www.kostdemokrati.se/matslindgren/files/2014/03/The-Prime-Cause-and-Prevention-of-Cancer.pdf 
https://www.nature.com/articles/s41467-017-01019-z#author-information 
http://ajcn.nutrition.org/content/86/5/1495.long 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4201626/
http://journal.waocp.org/?sid=Entrez:PubMed&id=pmid:25081729&key=2014.15.14.5959
https://www.usatoday.com/story/news/nation-now/2017/10/18/relationship-between-sugar-and-cancer-now-clearer-scientists-say/775963001/