Flatulens merupakan aliran gas usus melalui rektum. Ini merupakan proses fisiologis, dan rata-rata satu orang dewasa mengeluarkan setidaknya 14 flatulens sehari, baik secara berurutan atau tidak. Kondisi medis tertentu, seperti sindrom iritasi usus halus, intoleransi laktosa dan gastroenteritis, bisa menyebabkan jumlah flatulens yang berlebihan. Flatulens bisa diatasi dengan obat anti-flatulens seperti simetikon atau perubahan pola makan. Namun, apoteker perlu mengetahui beberapa obat tertentu yang bisa menyebabkan flatulens. Berikut adalah beberapa obat penyebab peningkatan flatulens.

Antasida

Ada beberapa jenis antasida berbeda di pasaran. Kunci kandungan antasida adalah kalsium karbonat, magnesium hidroksida, aluminium hidroksida dan natrium bikarbonat. Dari semua kandungan ini, garam karbonat merupakan bentuk yang menimbulkan flatulens, karena garam ini bisa menetralisir pH usus dan melepaskan gas seperti karbon dioksida.

Aspirin

Polling yang dilakukan oleh EhealthMe1 menemukan bahwa sekitar kurang dari 0,1% populasi merasa ada gas atau flatulens setelah mengonsumsi aspirin. Lebih dari setengah responden berusia lebih dari 60 tahun yang juga menggunakan obat lain seperti tiroksin. Flatulens tiga kali lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria. Namun, mekanisme aspirin menyebabkan flatulens masih belum diketahui dengan jelas.

Suplemen serat

Suplemen serat, seperti Fibrogel dan Metamucil, merupakan suplemen over-the-counter untuk mengatasi konstipasi. Pasien perlu tahu bahwa tidak semua serat menyebabkan flatulens. Serat ada dalam dua bentuk, serat larut dan tidak larut, dan biasanya serat larut yang menginduksi produksi gas. Bakteri usus mencerna serat larut dan gas ini merupakan produk sampingan dari serat yang dicerna ini.2 Fibrogel dan Metamucil keduanya mengandung psillium, yang sebagian merupakan serat larut.

Besi

Ada dua alasan mengapa besi menyebabkan flatulens. Pertama, ada batasan jumlah besi yang bisa diabsorbsi dari usus manusia setiap harinya. Kelebihan besi akan disimpan dalam usus, menyebabkan konstipasi dan memperlambat waktu transit usus, sehingga menyebabkan fermentasi bakteri. Kedua, garam besi sulit dipecah dan sulit diabsorbsi. Dengan demikian, bentuk garam ini melewati usus dengan bentuk molekul besar, menghambat sistem pencernaan dan menyebabkan produksi gas.

Suplemen besi bisa ditemukan dalam bentuk tiga garam - sulfat, fumarat atau glukonat. Ferri sulfat merupakan garam yang paling sulit ditoleransi, dan bisa menciptakan bau flatulens. Sebaliknya, fumarat dan glukonat merupakan gula yang bisa dicerna tubuh, sehingga absorpsi besi yang diikat mereka akan menjadi lebih tinggi.

Narkotika

Narkotika, seperti morfin atau oksikodon, merupakan jenis opiat yang paling banyak digunakan dalam manajemen nyeri. Semakin panjang penggunaan narkotik, gerak peristaltik usus akan semakin lambat, dan menyebabkan bakteri usus berakumulasi. Sindrom usus narkotika (NBS) merupakan kondisi yang meliputi konstipasi, flatulens, tinja berdarah dan mual. Diestimasi sekitar 5 hingga 10% populasi pengguna narkotika jangka panjang akan mengalami nyeri yang lebih parah, disebabkan sensitisasi saraf oleh opioid.3

Di samping memalukan, flatulens bisa juga menjadi penanda kondisi medis serius, seperti sindrom iritasi usus, diare dan konstipasi kronik. Flatulens merupakan tanda bahwa usus tidak berfungsi optimal. Meskipun bisa disembuhkan, apoteker harus menyadari obat apa yang bisa menyebabkan flatulens, dan memberitahu pasien untuk menghindari obat yang bisa mengeksaserbasi produksi gas mereka. MIMS

Bacaan lain:
Obat "lepas lambat" yang sebenarnya
Dilarangnya krantom menghambat penemuan painkiller baru
Mengapa apoteker perlu berhenti memberikan gelas dan sendok ukur
Penyakit langka dan obatnya: Apa yang harus diketahui apoteker


Sumber:
1. eHealthMe. Personalised Health Information. Review: Could Aspirin Cause Gas - Flatulence? Available at: http://www.ehealthme.com/ds/aspirin/gas%20-%20flatulence/. Last accessed on 19 November 2016.
2. Fiber in my diet and increased gas? MedicineNet. Available at: http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=16336. Last accessed on 20 November 2016.
3. An under-recognized pain condition. International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders. Available at: http://www.iffgd.org/other-disorders/narcotic-bowel-syndrome.html. Last accessed on 20 November 2016.