Babi sudah sangat terkenal dalam penelitian medis. Signifikansinya sekarang menjadi salah satu ketertarikan peneliti untuk melakukan xenotransplantation, demi menyelamatkan hidup manusia.

Organ babi mirip dengan organ manusia, dalam hal ukuran dan fungsinya. Hewan juga bisa diternak dalam jumlah besar, sehingga akan selalu siap saat dibutuhkan.

Selain itu, penelitian mengenai modifikasi genetik babi juga sudah dilakukan selama beberapa tahun terakhir.

Babi mungkin merupakan salah satu kandidat terbaik untuk transplantasi manusia

Salah satu masalah terbesar xenotransplantation adalah paparan virus yang bisa menginfeksi sel host.

Babi merupakan pembawa porcine endogenous retroviruses (PERVs), yang berpotensi menginfeksi sel manusia saat organ babi ditransplantasi ke manusia. Jika dibiarkan, infeksi ini bisa menyebabkan tumor atau leukemia.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Agustus 2017 dalam Science journal, sekelompok peneliti sekarang sedang mencoba mengedit dan mendeaktivasi retrovirus ini dalam keturunan sel babi. Intervensi ini dilakukan menggunakan teknologi edit genom CRISPR-Cas9, teknologi yang sama dengan yang digunakan saat kloning domba Dolly.

"Babi rancangan" berhasil diproduksi dengan PERV yang sudah dimatikan dan tidak berbahaya, sehingga lebih aman untuk transplantasi antar-spesies. Menurut peneliti, anak babi ini "sedang tumbuh dan tetap sehat."

Penemuan terbaru ini menawarkan hasil yang menarik, sehingga membuat komunitas penelitian menjadi lebih maju lagi.

Pandangan ahli mengenai babi "rancangan" untuk xenotransplantation

Xenotransplantation juga memiliki risiko, terutama karena transmisi agen infeksi yang sudah diketahui atau belum diketahui, dari hewan ke manusia. Ada juga risiko transmisi dari pemberi transplantasi tersebut ke kerabat atau masyarakat luas.

Untuk sekarang, organ babi masih belum aman untuk ditransplantasikan ke manusia.

Pertama, ahli menggarisbawahi masalah utama seperti bahaya penolakan organ. Organ babi masih harus diedit sehingga lebih cocok untuk manusia.

Masih dibutuhkan waktu untuk memonitor pertumbuhan "babi rancangan" untuk memastikan mereka tetap sehat. Selain itu, teknologi CRISPR diketahui, dalam beberapa situasi, akan memotong DNA yang seharusnya tidak terpengaruh. Dengan demikian, metode ini bisa menghasilkan outcome negatif.

Selain itu, penelitian terbaru juga perlu dilakukan untuk "memeriksa keamanan" dan menghilangkan potensi risiko transmisi antar-spesies dari retrovirus ini.

Peneliti juga setuju bahwa penelitian ini mengarahkan organ babi ke arah yang lebih aman untuk ditransplantasinya. Penggunaan teknologi CRISPR terbukti berguna untuk mematikan PERVs – mengeliminasi potensi risiko yang ada.

Selain itu, peneliti sendiri juga mengantisipasi penelitian klinis ini menggunakan organ babi yang dikembangkan dalam waktu 10 tahun. Sehingga penelitian ini mungkin membuka cara baru untuk membuat organ babi layak dan bisa dipindahkan ke manusia.

Meskipun masih banyak penelitian yang harus dilakukan, namun "babi dengan PERV inaktif" bisa menjadi dasar kuat untuk penelitian teknik genetik lebih lanjut.

Pada dasarnya, transplantasi selalu menjadi masalah sensitif dengan banyak tantangan. Karena panjangnya daftar tunggu transplantasi, peneliti yang sedang berjalan sekarang bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan nyawa manusia di masa depan. MIMS

Bacaan lain:
Hibrida manusia-babi pertama di dunia: Terobosan medis atau dilema etik?
Realita etika pada bayi yang dilahirkan dari inseminasi buatan
Terkabulnya harapan seorang anak perempuan 14 tahun untuk diawetkan dengan cryonic

Sumber:
https://www.navs.org/what-we-do/keep-you-informed/science-corner/animals-used-in-research/pigs-in-research/#.WY-eBlEjHIU
http://www.who.int/transplantation/xeno/en/
http://science.sciencemag.org/content/early/2017/08/09/science.aan4187
https://www.theatlantic.com/science/archive/2017/08/pig-organs-for-humans/536307/
https://www.theverge.com/2017/8/10/16121104/pig-organs-xenotransplantation-retroviruses-gene-editing-crisspr
http://edition.cnn.com/2017/08/10/health/crispr-pig-retrovirus-organ-transplant-study/index.html