Operasi dalam waktu bersamaan merupakan hal umum di banyak rumah sakit – memanfaatkan sumber daya rumah sakit secara efektif, mempromosikan akses perawatan yang tepat waktu dan memberi kesempatan untuk mendidik calon dokter spesialis bedah. Meskipun demikian, operasi yang dilakukan dalam waktu bersamaan – dalam hal ini, operasi pinggul – menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Sunnybrook Health Sciences Centre di Toronto, Kanada dapat meningkatkan risiko operasi hingga 90%.

Dalam penelitian berbasis populasi pertama yang dipimpin oleh ahli bedah pinggang Dr Bheeshma Ravi, tim tersebut mengamati populasi berbasis kohort dari 38.008 prosedur patah tulang pinggul antara tahun 2009 dan 2014 dan 52.869 operasi penggantian pinggul antara tahun 2009 dan 2015 –  di lebih dari 75 rumah sakit di Ontario.

Penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine pada tanggal 4 Desember, melaporkan bahwa 2,5% prosedur patah tulang pinggul dan 3% operasi penggantian pinggul dilakukan oleh ahli bedah utama yang juga mengawasi prosedur lain – dan keduanya biasa dilakukan dalam waktu yang tumpang tindih selama 30 menit atau lebih. Dalam beberapa kasus, prosedur yang dilakukan dalam waktu bersamaan selama tiga jam dan untuk setiap 10 menit tambahan, memiliki peningkatan risiko komplikasi sebesar 7%.

Peningkatan komplikasi sebesar 90% setahun setelah operasi, juga dilaporkan terjadi. Komplikasi meliputi infeksi, operasi berulang dan dislokasi. Risiko komplikasi juga hampir dua kali lipat dari 6,4% menjadi 10,4% ketika pasien menjalani operasi patah tulang pinggul dengan penanganan yang dilakukan dalam waktu bersamaan.

"Jika dokter bedah Anda berada di banyak tempat, maka risiko komplikasi juga akan meningkat," kata Ravi. "Saya rasa itu masuk akal."

Perhatian yang tidak diinginkan pada tahun 2015

Konsep operasi yang dilakukan dalam waktu bersamaan pertama kali menjadi perdebatan pada tahun 2015 ketika laporan dari Tim Spotlight Globe – sebuah tim wartawan investigasi untuk koran Boston Globe – mengungkapkan masalah di Rumah Sakit Umum Massachusetts Amerika Serikat mengenai keamanan mengawasi beberapa operasi sekaligus.

Saat itu, beberapa ahli bedah ortopedi di rumah sakit sering dijadwalkan menangani dua operasi dalam waktu bersamaan selama berjam-jam. Banyak rekan mereka menunjukkan bahwa pasien tidak diberi tahu dan merasa bahwa praktik tersebut juga menempatkan pasien dalam bahaya.

Sementara manajer rumah sakit mengklaim bahwa tidak ada pasien yang dirugikan, saat ini rumah sakit sedang menghadapi serentetan tuntutan hukum, dan banyak dokter yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. 

The issue of double-booked surgery has simmered since a 2015 Globe Spotlight Team report revealed a dispute at Massachusetts General Hospital over the safety of those procedures. Photo credit: Pat Greenhouse/Boston Globe
The issue of double-booked surgery has simmered since a 2015 Globe Spotlight Team report revealed a dispute at Massachusetts General Hospital over the safety of those procedures. Photo credit: Pat Greenhouse/Boston Globe

Sejak saat itu, banyak penelitian dilakukan, namun tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam tingkat komplikasi saat operasi berjalan bersamaan – walaupun banyak yang memiliki keterbatasan seperti tidak menangkap waktu aktual memulai operasi di Ruang Operasi, atau menentukan bagian operasi mana yang sangat penting.

Tahun lalu, sebuah penelitian kohort menemukan bahwa operasi yang dilakukan dalam waktu bersamaan aman, memberikan hasil yang sama seperti pada pasien dengan operasi yang tidak tumpang tindih. Dilakukan di Mayo Clinic Amerika, peneliti membandingkan hasil dari 10.614 operasi yang dilakukan dalam waktu bersamaan dengan 16.111 operasi yang tidak tumpang tindih, meggunakan data dari University Health System Consortium – sebuah aliansi pusat medis akademik.

Dilaporkan, tidak ada peningkatan komplikasi paska operasi atau kematian paska operasi. Diterbitkan dalam Annals of Surgery, penelitian ini membandingkan 10.000 operasi yang dilakukan dalam waktu bersamaan dan tidak tumpang tindih yang dilakukan oleh ahli bedah yang sama – namun juga tidak ditemukan perbedaan pada hasilnya.

Efektivitas operasi bersama: "terlalu dini untuk menarik kesimpulan"

Tapi, bagi Dr James Rickert, ahli bedah ortopedi dan presiden Society for Patient Centered Orthopaedics, "Penelitian ini [JAMA] menutup gagasan bahwa operasi yang dilakukan secara simultan sama amannya dengan operasi solo, ketika dokter hanya berkonsentrasi pada satu pasien. Ukuran, jumlah, banyaknya institusi, dan tindak lanjut jangka panjang dari penelitian lainnya."

Selain itu, penelitian sebelumnya hanya berfokus pada satu rumah sakit atau klinik rawat jalan sedangkan penelitian ini memeriksa beberapa rumah sakit yang memiliki puluhan ribu pasien. Penelitian ini juga satu-satunya yang mengeksplorasi hasil operasi setelah satu tahun – yang bertentangan hanya pada beberapa minggu.

"Tampaknya ini merupakan penelitian pertama yang menunjukkan efek tidak diiginkan dari praktik operasi yang tumpang tindih," Dr. Alan L. Zhang, ahli bedah ortopedi di Universitas California San Francisco, dalam sebuah artikel opini yang menyertai penelitian ini. "Peningkatan lamanya tindak lanjut merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan untuk komplikasi, dan memberi nilai tambah pada hasil penelitian saat ini."

Namun, penulis utama Ravi mengakui, "penting untuk dicatat bahwa tingkat terjadinya operasi yang dilakukan dalam waktu bersamaan, untuk prosedur ini rendah." Pasien bedah pinggul juga jauh lebih berisiko mengalami komplikasi karena pada umumnya terdiri dari pasien lansia.

Juga, mengingat 70% prosedur tumpang tindih dilakukan di rumah sakit pendidikan, maka kemungkinannya rendah bagi ahli bedah melakukan kesalahan sambil mengajarkan bagaimana tidak melakukan operasi.

Jelas tidak ada konsensus dalam praktik tersebut namun seperti yang dijelaskan oleh Dr L.D. Britt, mantan presiden American College of Surgeons dan kepala bedah saat ini di Eastern Virginia Medical School, "mencoba memvalidasi operasi yang dilakukan bersamaan dengan mendokumentasikan hasil yang aman sama saja dengan menutup mata putriku dan menyuruhnya berjalan melintasi jalur enam di jalan raya yang sibuk. Hanya karena dia bisa sampai ke sisi lain dengan selamat tidak menjadikannya praktik terbaik." MIMS

Bacaan lain:
Dokter bedah yang kasar cenderung menyebabkan komplikasi saat operasi
5 fakta menarik operasi bedah sebelum anestesi mulai digunakan
Mendengarkan musik selama operasi bedah - membuat rileks atau mengganggu?

Sumber:
http://www.bostonglobe.com/metro/2017/12/04/for-first-time-study-finds-double-booked-surgeries-put-patients-risk/faccZlQYS4bsvz5CDlrwNM/story.html 
https://sunnybrook.ca/media/item.asp?c=1&i=1700&f=overlapping-surgery-study 
https://www.sciencedaily.com/releases/2016/12/161201115135.htm 
https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2636711